Penyakit Alzheimer merupakan salah satu jenis penyakit neurodegeneratif yang diperkirakan akan diderita oleh sekitar 113 juta penduduk dunia di tahun 2050. Jumlah ini naik dari sekitar 50 juta penduduk dengan Alzheimer di 2010. Penyakit Alzheimer membuat penderitanya mengalami penurunan berbagai fungsi dan secara signifikan mengganggu fungsi kognisi yang akhirnya bisa menjadi demensia di tahap lanjut hingga akhir.
Di Indonesia sendiri, diperkirakan akan ada 4 juta orang dengan demensia di tahun 2050, atau meningkat 4 kali lipat dari sekitar 1.2 juta orang dengan demensia pada tahun 2016.
Kali ini saya ingin bahas artikel review menarik di Jurnal Frontiers of Medicine di 2024, mengenai berbagai upaya mendeteksi dini penyakit Alzheimer sebelum gejala-gejala muncul. Tujuannya agar bisa dilakukan tindakan-tindakan pencegahan ataupun penanganan sejak dini.
Dalam artikel ini ada dibahas beberapa hal yang bisa digunakan sebagai deteksi dini dari penyakit Alzheimer, antara lain:
1. Gejala-gejala non kognisi: gejala perilaku dan psikologis, gangguan tidur, disfungsi sensoris, perubahan fisik yang menggambarkan penurunan kognisi.
Contoh-contohnya adalah depresi, iritabilitas, ansietas, agitasi, apati, gangguan irama sirkadian, gangguan penciuman, perubahan fungsi retina, gangguan pendengaran, gangguan jalan (gait), serta gangguan kardiovaskular.
Gejala depresi misalnya, bisa mulai muncul 9 tahun sebelum gangguan kognisi muncul. Sedangkan gangguan perilaku dan psikologis yang berhubungan dengan demensia bisa dilihat 2 tahun sebelum diagnosis ditegakkan.
Gangguan tidur juga merupakan tanda dari kemungkinan terjadinya demensia di kemudian hari, dimana seseorang yang tidurnya kurang dari 6 jam sehari, memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit Alzheimer.
Gangguan sensoris juga merupakan tanda adanya gangguan struktur otak, termasuk terjadinya atrofi dan reorganisasi kortikal. Sedangkan gangguan visual, terjadi penebalan retina yang juga bisa jadi tanda preklinis dari penyakit Alzheimer.
Hal sederhana yang juga bisa dilihat antara lain kecepatan dan postur berjalan yang berkurang dengan menurun sebelum penurunan fungsi kognisi.
2. Biomarkers: Saat ini ada beberapa indikasi bahwa cairan tubuh misalnya dari darah, cairan otak atau cairan lainnya bisa menjadi biomarker yang bisa menjadi tanda awal penyakit Alzheimer, antara lain: amyloid-beta (Aβ), tau proteins, neurofilament light chain (NfL), dan glial fibrillary acidic protein (GFAP).
Dari berbagai probes imaging yang mentargetkan amyloid, Florbetapir (Amyvid), Flutemetamol (Vizamyl), Florbetaben (NeuraCeq) sudah disetujui di Amerika dan Eropa. Saat ini semakin banyak probes yang dikembangkan untuk dapat dikombinasikan dengan pemeriksaan imaging, termasuk di antaranya dengan kombinasi PET scan dan cairan cerebral.
3. Pemeriksaan imaging: Pemeriksaan neuroimaging dengan berbagai metode inovatif seperti misalnya PET scans dengan penanda amyloid dan tau tracers, optical coherence tomography (OCT) untuk menilai perubahan di retina, serta magnetic resonance spectroscopy (MRS) untuk metabolites otak semakin diyakini penting untuk diagnosis penyakit Alzheimer.
4. Kombinasi dari gejala-gejala non kognisi dan biomarker sebagai deteksi dini penyakit Alzheimer.
5. Penggunaan artificial intelligence (AI) dan teknologi multi-omics untuk model deteksi dini penyakit Alzheimer dan terapi yang dipersonifikasi. Dengan semakin berkembangnya kecerdasan buatan, dan teknologi omics, kemampuan pengolahan dan analisa big data juga semakin bagus dan tepat sasaran.

Ulasan ini membahas tanda-tanda non-kognitif dan biomarker klinis yang muncul pada tahap awal penyakit Alzheimer sebelum gejala utama terlihat. Beberapa istilah digunakan dalam penelitian ini, seperti BPSD yang mengacu pada perubahan perilaku dan psikologis akibat demensia, serta CRD yang berkaitan dengan gangguan pola tidur. Selain itu, terdapat berbagai biomarker yang dapat membantu dalam mendeteksi Alzheimer, seperti beta-amiloid (Aβ), protein tau total (T-tau), dan protein tau terfosforilasi (P-tau) yang berkaitan dengan penumpukan zat dalam otak. Pemeriksaan tambahan seperti EEG untuk aktivitas otak dan ERG untuk kesehatan retina juga dapat memberikan informasi lebih lanjut. Beberapa faktor lain, seperti infeksi virus herpes simpleks (HSV) atau bakteri Porphyromonas gingivalis (P. gingivalis), juga diduga berperan dalam perkembangan penyakit ini. Namun, beberapa temuan dalam studi ini masih berdasarkan penelitian pada hewan dan belum memiliki bukti klinis yang kuat. (Sumber: BioRender.com.)

Pendekatan klinis untuk mendeteksi, mencegah, dan mengobati Alzheimer sejak tahap awal sangat penting untuk memperlambat perkembangannya. Pada tahap praklinis, terjadi perubahan patologis utama di otak, seperti penumpukan protein beta-amiloid (Aβ) dan perubahan pada protein tau (T-tau dan P-tau), yang dapat menyebabkan kerusakan sel saraf. Selain itu, sebelum gangguan kognitif muncul, seseorang mungkin mengalami gejala non-kognitif seperti perubahan perilaku dan psikologis (BPSD). Untuk mendukung diagnosis dini, berbagai biomarker digunakan, termasuk mikroRNA (miRNA), yang berperan dalam mengatur aktivitas gen dan dapat menjadi indikator awal penyakit ini. Dengan memahami tanda-tanda awal Alzheimer, strategi pencegahan dan pengobatan bisa diterapkan lebih cepat guna memperlambat perkembangannya. (Sumber: BioRender.com.)

Di dalam artikel yang dibuat oleh Chen et al yang terbit bulan Juni tahun 2024 ini, dirangkum berbagai metode-metode di atas serta biomarker-biomarker yang menunjukkan manfaat potensi dari deteksi dini penyakit Alzheimer. Artikel tersebut menarik untuk saya sebagai pemerhati pelayanan untuk kelompok lansia dan geriatri dan tentunya akan sangat menarik bagi para tenaga medis dan juga keluarga dari pasien demensia yang ingin lebih mengetahui bagaimana melakukan screening sejak dini, sehingga anggota keluarga yang masih sehat, dapat diketahui besaran risikonya untuk terkena Alzheimer. (Sumber: BioRender.com.)
Apakah di kemudian hari kita bisa mencegah seseorang terkena penyakit Alzheimer? Tentunya masih panjang perjalanannya, karena bahkan kita belum bisa secara konklusif mengetahui apa sih sebenarnya yang menyebabkan seseorang terkena penyakit Alzheimer, sedangkan orang lain tidak.
Artikel selengkapnya di:
Chen Y, Al-Nusaif M, Li S, Tan X, Yang H, Cai H, Le W. Progress on Early Diagnosing Alzheimer’s disease. Front Med 2024: 18. Doi:10.1007/s11684-023-1047-1.

