Apa Saja Gejala Hipotermia Berat Homecare Kavacare

Apa Saja Gejala Hipotermia Berat?

Hipotermia berat adalah kondisi medis serius yang terjadi ketika suhu tubuh turun secara drastis, lebih rendah dari 28°C, yang dapat mengancam nyawa. Gejala hipotermia berat seringkali sulit dikenali pada awalnya karena tubuh akan berusaha beradaptasi dengan kondisi tersebut. Namun, ketika kondisi ini berlangsung terlalu lama, gejalanya akan semakin memburuk dan bisa berujung pada kegagalan organ. Suhu tubuh yang rendah ini dapat mengganggu fungsi normal organ tubuh dan memengaruhi sistem saraf, jantung, serta pernapasan. Akibatnya, penderita hipotermia berat akan mengalami gangguan kesadaran, pernapasan yang tidak teratur, dan kegagalan jantung.

Gejala Hipotermia Berat 

Gejala hipotermia berat berkembang secara bertahap, namun bisa semakin parah dalam waktu singkat tergantung pada seberapa lama seseorang terpapar suhu dingin ekstrem. Berikut adalah gejala-gejala yang sering ditemukan pada kasus hipotermia berat, antara lain: 

1. Kehilangan Kesadaran dan Bingung 

Salah satu gejala pertama yang muncul pada hipotermia berat adalah kebingungan atau disorientasi. Penderita mungkin merasa kesulitan untuk berpikir dengan jelas dan bisa kehilangan kesadaran. Pada tahap ini, penderita mungkin tampak bingung dan tidak dapat menjawab pertanyaan dengan tepat.

2. Penurunan Kesadaran 

Ketika tubuh semakin dingin, otak mulai mengalami gangguan serius. Penderita hipotermia berat dapat mengalami penurunan tingkat kesadaran, dari mengantuk hingga tidak responsif sama sekali. Dalam kondisi ekstrem, penderita bisa kehilangan kesadaran total.

3. Perubahan Perilaku 

Selain kebingungan, penderita hipotermia berat juga bisa menunjukkan perilaku yang tidak biasa, seperti berbicara tidak jelas, tidak responsif, atau bahkan berperilaku agresif. Perubahan ini disebabkan oleh gangguan pada sistem saraf pusat akibat suhu tubuh yang sangat rendah.

4. Denaturasi Otot 

Pada tahap lanjut hipotermia berat, otot-otot tubuh akan mengalami denaturasi (kerusakan struktur protein otot). Ini dapat menyebabkan tremor atau gemetar yang tidak terkontrol, meskipun pada tahap tertentu gemetar bisa berhenti sama sekali karena otot tidak dapat lagi berfungsi secara normal.

5. Pernapasan dan Detak Jantung Lambat

Hipotermia berat dapat mengganggu sistem pernapasan dan peredaran darah. Penderita mungkin mengalami pernapasan yang sangat lambat atau bahkan berhenti. Denyut jantung juga akan melambat, dan dalam kasus yang paling parah, bisa terjadi henti jantung.

6. Kulit Dingin dan Berubah Warna 

Kulit penderita hipotermia berat akan terasa sangat dingin saat disentuh. Selain itu, kulit bisa berubah warna menjadi kebiruan (sianosis) atau pucat. Pembuluh darah akan menyempit untuk menjaga panas tubuh, yang menyebabkan penurunan sirkulasi darah ke ekstremitas.

7. Kehilangan Fungsi Koordinasi

Koordinasi tubuh menjadi terganggu, dan penderita mungkin kesulitan untuk bergerak atau berdiri dengan stabil. Ini bisa menyebabkan mereka terjatuh atau terjebak dalam posisi yang berbahaya, meningkatkan risiko cedera lebih lanjut.

8. Peningkatan Risiko Kegagalan Organ

Jika hipotermia berat tidak segera ditangani, organ tubuh akan mengalami kegagalan. Ginjal, hati, dan jantung bisa berhenti berfungsi dengan baik, menyebabkan gangguan metabolisme yang berbahaya.

Baca juga: Hipokalemia: Gejala dan Penanganan

Faktor Risiko Hipotermia Berat 

Berikut adalah penjelasan faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami hipotermia berat, antara lain: 

1. Paparan Suhu Dingin Ekstrem Tanpa Perlindungan yang Cukup

Ketika seseorang berada dalam lingkungan dengan suhu dingin ekstrem, tubuh kehilangan panas lebih cepat daripada yang bisa diproduksi. Jika tidak ada perlindungan yang cukup, seperti pakaian hangat atau tempat perlindungan, tubuh akan semakin rentan terhadap penurunan suhu tubuh yang drastis. Kondisi ini semakin berbahaya jika tubuh dalam keadaan basah, karena air dapat menyerap panas tubuh lebih cepat dibandingkan udara, sehingga mempercepat penurunan suhu tubuh.

2. Kondisi Kesehatan Tertentu 

  • Gangguan Jantung: Orang dengan gangguan jantung, seperti penyakit jantung koroner atau gangguan irama jantung, lebih berisiko mengalami hipotermia berat. Suhu tubuh yang rendah dapat mengganggu fungsi jantung, menyebabkan detak jantung menjadi tidak teratur atau bahkan berhenti.
  • Diabetes: Penderita diabetes, khususnya yang memiliki neuropati (kerusakan saraf), sering kali tidak dapat merasakan gejala dingin atau nyeri pada ekstremitas mereka. Hal ini menyebabkan mereka lebih sulit untuk mengetahui bahwa mereka sedang mengalami hipotermia dan cenderung terlambat untuk bertindak.
  • Alkoholisme: Alkohol dapat menyebabkan vasodilatasi (pelebaran pembuluh darah), yang meningkatkan aliran darah ke kulit. Ini menyebabkan tubuh kehilangan panas lebih cepat, meningkatkan risiko hipotermia. Selain itu, alkohol dapat mengurangi kemampuan tubuh untuk merespons kedinginan.

3. Lansia dan Anak-Anak 

  • Lansia: Pada usia lanjut, kemampuan tubuh untuk mengatur suhu tubuh berkurang. Lansia cenderung memiliki metabolisme yang lebih lambat, jumlah lemak tubuh yang lebih sedikit, dan sistem sirkulasi darah yang kurang efisien, sehingga mereka lebih rentan terhadap hipotermia.
  • Anak-Anak: Anak-anak memiliki rasio permukaan tubuh yang lebih besar dibandingkan berat badan mereka, yang membuat mereka kehilangan panas tubuh lebih cepat. Selain itu, mereka cenderung lebih aktif dan lebih mudah terpapar elemen eksternal, seperti hujan atau salju, yang dapat memperburuk risiko hipotermia.

4. Faktor Lingkungan 

  • Cuaca Dingin dan Basah: Cuaca yang dingin, terutama yang disertai dengan hujan, salju, atau angin kencang, sangat berbahaya. Air yang membasahi pakaian atau kulit meningkatkan konduksi panas, sementara angin dapat mempercepat hilangnya panas tubuh, meningkatkan risiko hipotermia berat.
  • Kondisi Lingkungan Terbuka: Orang yang terjebak dalam kondisi terbuka tanpa perlindungan, seperti di luar ruangan atau di tempat yang tidak terlindungi, memiliki risiko tinggi terkena hipotermia, terutama dalam kondisi cuaca ekstrem.

5. Keterbatasan Mobilitas atau Akses ke Bantuan

  • Kesulitan Bergerak: Orang yang memiliki keterbatasan mobilitas, seperti penderita cacat fisik atau orang yang sedang sakit parah, mungkin lebih sulit untuk mencari tempat yang hangat atau bergerak untuk menjaga suhu tubuh tetap stabil. Mereka lebih rentan terhadap hipotermia berat karena ketidakmampuan untuk menghindari suhu ekstrem.
  • Keterbatasan Akses ke Bantuan Medis: Jika seseorang tidak dapat segera mendapatkan bantuan medis atau terlambat ditangani, kondisi hipotermia berat bisa berkembang lebih cepat, berisiko menyebabkan kerusakan organ atau kematian.

Dengan memahami faktor-faktor ini, pencegahan terhadap hipotermia berat dapat lebih mudah dilakukan dengan meningkatkan kesadaran tentang kondisi dan tindakan pencegahan yang tepat.

Pencegahan Hipotermia Berat 

Pencegahan adalah langkah terbaik untuk menghindari hipotermia berat. Beberapa cara untuk mencegah hipotermia berat, antara lain: 

1. Pemakaian Pakaian yang Tepat 

Pakaian yang tepat adalah kunci utama dalam menjaga suhu tubuh tetap stabil di tengah cuaca dingin. Penggunaan lapisan pakaian yang sesuai dapat membantu memerangkap panas tubuh dan menghalangi kehilangan panas yang berlebihan. Lapisan pakaian yang terdiri dari beberapa bagian akan lebih efektif dibandingkan satu lapisan tebal.

2. Menghindari Paparan Dingin dalam Waktu Lama

Waktu paparan terhadap suhu dingin yang lama meningkatkan risiko tubuh kehilangan panas lebih cepat daripada yang bisa diproduksi. Apabila seseorang terpapar suhu dingin terlalu lama, tubuh akan mulai mengalami kesulitan dalam mempertahankan suhu normal, yang berujung pada hipotermia. Jangan berlama-lama di luar ruangan jika cuaca sangat dingin, terutama jika suhu mencapai titik beku atau lebih rendah. Jika Anda merasa tubuh mulai kedinginan, segera cari tempat yang lebih hangat.

3. Konsumsi Makanan dan Cairan Hangat 

Mengonsumsi makanan dan cairan hangat membantu tubuh mempertahankan suhu tubuh yang normal dengan memberi energi dan menjaga sirkulasi darah yang lebih baik. Pada suhu tubuh yang rendah, metabolisme tubuh menjadi lebih lambat, sehingga tubuh memerlukan lebih banyak energi untuk menghasilkan panas. Mengonsumsi cairan hangat, seperti teh atau sup panas, dapat membantu menaikkan suhu tubuh secara bertahap dan Makanan hangat yang mengandung kalori tinggi seperti sup atau stew sangat dianjurkan.

4. Memperhatikan Kondisi Kesehatan 

Seseorang dengan kondisi kesehatan tertentu lebih berisiko terkena hipotermia berat. Penyakit jantung, diabetes, gangguan tiroid, dan kondisi lain dapat memengaruhi kemampuan tubuh untuk mengatur suhu tubuh, meningkatkan kerentanannya terhadap hipotermia. Jika Anda memiliki penyakit jantung atau diabetes, pastikan untuk selalu memantau kondisi tubuh dan berbicara dengan dokter Anda mengenai langkah-langkah pencegahan dalam cuaca ekstrem.

Dengan memperhatikan langkah-langkah pencegahan ini, risiko mengalami hipotermia berat dapat dikurangi. Pencegahan yang baik adalah kunci utama untuk melindungi tubuh dari efek berbahaya yang dapat ditimbulkan oleh suhu dingin ekstrem.

Baca juga: Hipotiroid Kongenital: Kenali Gejala dan Pentingnya Diagnosis Dini

Penanganan Hiportemia Berat 

1. Segera Membawa ke Tempat yang Hangat

Penderita hipotermia berat harus segera dipindahkan ke tempat yang lebih hangat dan terlindung dari angin. Jika memungkinkan, penderita dapat dibawa ke dalam ruangan yang memiliki suhu yang lebih tinggi untuk menghindari kontak lebih lanjut dengan udara dingin.

2. Pemanasan Tubuh Secara Perlahan

Pemanasan tubuh penderita harus dilakukan secara perlahan. Penggunaan kompres hangat pada leher, dada, dan selangkangan dapat membantu mempercepat pemulihan, namun hindari penggunaan pemanas langsung yang terlalu panas, karena bisa menyebabkan kerusakan jaringan.

3. Memberikan Cairan Hangat 

Jika penderita masih bisa menelan, cairan hangat seperti teh atau air bisa diberikan untuk membantu meningkatkan suhu tubuh. Namun, cairan yang mengandung alkohol atau kafein harus dihindari karena bisa memperburuk keadaan.

4. Pemeriksaan Medis Segera

Setelah melakukan langkah-langkah pertama, penderita hipotermia berat harus segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Dokter akan melakukan pemeriksaan suhu tubuh secara menyeluruh dan memberikan terapi yang lebih spesifik, termasuk penghangatan tubuh secara internal jika diperlukan.

5. Resusitasi Jantung dan Pernapasan

Jika penderita mengalami henti jantung atau pernapasan, langkah resusitasi seperti CPR (Cardiopulmonary Resuscitation) harus segera dilakukan untuk memberikan oksigen ke otak dan organ vital lainnya hingga pertolongan medis lebih lanjut tersedia.

Baca juga: Waspadai Serangan Jantung Usia Muda: Faktor Risiko dan Tanda-Tanda yang Perlu Diketahui

Hipotermia berat adalah kondisi berbahaya yang dapat mengancam nyawa jika tidak segera ditangani. Pencegahan dengan memakai pakaian yang tepat, menghindari paparan lama pada suhu dingin, serta menjaga kondisi kesehatan sangat penting untuk mencegahnya. Jika Anda atau orang terdekat berisiko, penting untuk selalu waspada dan bertindak cepat. 

Jika Anda atau orang tekasih mengalami gejala hipotermia dengan kondisi medis tertentu dan membutuhkan penanganan cepat, Kavacare dapat membantu Anda untuk bertemu dengan dokter spesialis terbaik di rumah sakit. Informasi lebih lanjut, hubungi Kavacare Support di nomor WhatsApp 0811 1446 777.

Sumber: 

  1. Hypothermia – NHS UK. https://www.nhs.uk/conditions/hypothermia/. Diakses pada 21 Maret 2025. 
  2. Hypothermia – Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/21164-hypothermia-low-body-temperature. Diakses pada 21 Maret 2025. 
  3. Chen, L., & Zhou, X. Clinical management of severe hypothermia in adults. 2019, 8(9), 1-10. DOI: 10.3390/jcm8091391. 
  4. Peter Paal,  Hermann Brugger, Giacomo Strapazzon. Accidental hypothermia.Handb Clin Neurol. 2018:157:547-563. doi: 10.1016/B978-0-444-64074-1.00033-1. PMID: 30459025. 
  5. Dagmara Reingardiene. Hypothermia. Medicina (Kaunas). 2003;39(1):90-7. PMID: 1257677. 
Artikel ini telah direview oleh

Dr. Eddy Wiria, PhD

Co-Founder & CEO Kavacare