Divonis kanker sering menjadi momok bagi banyak orang dan rasanya seperti disambar petir di siang bolong. Kanker yang seringkali ditemukan dalam kondisi yang sudah lanjut adalah kanker pankreas, karena di awal penyakit, banyak yang tidak merasakan gejala. Kanker pankreas tipe adenokarsinoma duktal sendiri adalah penyebab kematian terbesar nomor 3 di Amerika Serikat dan mengalami peningkatan jumlah penderita sebesar 0.5% per tahunnya. Sekitar 80-85% pasien sudah tidak bisa dioperasi saat ditemukan, dan dari yang bisa dioperasi 75%nya mengalami metastasis. Angka harapan hidup dalam 5 tahun juga sangat rendah, 12%. Walaupun untuk banyak kanker lain sudah banyak terapi yang menunjukkan hasil memuaskan, sayangnya untuk kanker pankreas, terutama yang jenis adenokarsinoma ductal ini, masih sangat jauh dari harapan. Dalam kondisi yang serba terjepit ini para pasien dan keluarganya serta dunia medis terus mencari alternatif terapi yang bisa membawa harapan baru.
Penggunaan vitamin C untuk terapi medis sudah diangkat sejak masa Linus Pauling, yang memberinya hadiah Nobel. Laporan klinis Linus Pauling dan Ewan Cameron menyampaikan bahwa ada indikasi manfaat pemberian dosis intravena vitamin c dosis tinggi dapat memperpanjang masa hidup dari pasien kanker di masa terminal. Namun berbagai uji klinis yang dilakukan setelahnya, tidak berhasil mengkonfirmasi penemuan ini, dan memicu kontroversi dari peran vitamin C di terapi kanker.
Tahun 2024 lalu, grup peneliti dari Iowa, yang dipimpin oleh Prof Joseph Cullen, menerbitkan hasil penelitian mereka di Jurnal Redox Biology. Mereka melakukan uji klinis pemberian tambahan 75 mg vitamin c (Pharmacological ascorbate) secara intravena sebanya 3 kali seminggu pada kelompok pasien dengan adenokarsinoma ductal pankreas stadium 4. Pengobatan standar yang diberikan adalah gemcitabine dan nab-paclitaxel. Sebanyak 36 pasien diundi untuk masuk grup terapi standar dan sebagian masuk dalam terapi standar dan tambahan vitamin C. Kadar vitamin c di darah dari grup penerima tambahan vitamin c 500 kali lebih tinggi dibandingkan yang hanya mendapat terapi standar. Hasil yang memberikan harapan adalah grup yang mendapatkan tambahan vitamin C bisa hidup lebih lama dengan kualitas hidup lebih baik hingga lebih dari 2 kali lebih lama dibandingkan kelompok terapi standar (16 bulan vs 8 bulan, p=0.03). Berbagai peneliti secara paralel berusaha mencari penjelasan mekanisme yang bisa menunjang hasil klinis ini, misalnya dari hidrogen peroksida yang terbentuk mematikan sel kanker, efek proteksi terhadap neutropenia, mekanisme mutasi KRAS dan BRAF.
Penelitian dengan jumlah subjek yang lebih banyak dan dengan analisa yang lebih komprehensif tentu bisa memberikan penjelasan yang lebih lengkap dan solid akan manfaat ini. Namun, penelitian yang relatif kecil dan singkat ini, memberikan harapan bahwa ada alternatif terapi untuk kanker yang mematikan ini, yang bisa membantu memperpanjang harapan hidup, sekaligus meningkatkan kualitas hidup dan mengurangi efek samping kemoterapi selama proses pengobatan.
Artikel lebih lengkap bisa dibaca di:
Bodeker KL, Smith BJ, Berg DJ, Chandrasekharan C, Sharif S, Fei N, et al. A randomized trial of pharmacological ascorbate, gemcitabine, and nab-paclitaxel for metastatic pancreatic cancer. Redox Biology. 2024. https://doi.org/10.1016/j.redox.2024.103375
Artikel menarik lain:
He, Xiadi et al. Lysine vitcylation is a vitamin C-derived protein modification that enhances STAT1-mediated immune response. Cell. 2025;188;7

