Pusing saat berdiri adalah keluhan umum yang sering dianggap sepele, tetapi bisa menjadi pertanda adanya gangguan kesehatan tertentu. Banyak orang mengalami sensasi berputar atau kepala terasa ringan saat bangun dari posisi duduk atau berbaring. Gejala ini bisa terjadi sesekali atau cukup sering hingga mengganggu aktivitas harian.
Dalam istilah medis, kondisi ini dikenal sebagai ortostatik hipotensi, yaitu penurunan tekanan darah secara tiba-tiba ketika seseorang berpindah dari posisi duduk atau berbaring ke posisi berdiri. Namun, ada berbagai penyebab lain yang juga bisa memicu pusing saat berdiri. Artikel ini akan membahas secara rinci penyebab, faktor risiko, cara pencegahan, serta kapan waktu yang tepat untuk berkonsultasi ke dokter.
6 Penyebab Pusing saat Berdiri
1. Darah rendah atau Ortostatik Hipotensi
Penyebab paling umum dari pusing saat berdiri adalah ortostatik hipotensi. Saat seseorang berdiri tiba-tiba, gravitasi menyebabkan darah mengalir ke bagian bawah tubuh. Jika sistem saraf tidak merespons dengan cepat untuk mengembalikan tekanan darah ke otak, maka timbul rasa pusing. Kondisi ini lebih sering terjadi pada lansia, penderita diabetes, atau orang yang sedang mengonsumsi obat antihipertensi.
2. Dehidrasi
Tubuh yang kekurangan cairan akan mengalami penurunan volume darah, yang bisa menyebabkan pusing saat berdiri. Dehidrasi bisa terjadi akibat diare, muntah, olahraga berat, atau tidak cukup minum air putih.
Baca juga: 5 Tanda Dehidrasi dan Cara Menanganinya
3. Anemia
Kekurangan sel darah merah menyebabkan kurangnya pasokan oksigen ke otak, sehingga memicu pusing saat berdiri. Anemia bisa disebabkan oleh perdarahan, kekurangan zat besi, atau penyakit kronis.
4. Masalah Jantung
Gangguan irama jantung (aritmia), gagal jantung, atau stenosis aorta dapat menyebabkan aliran darah ke otak menjadi tidak stabil saat perubahan posisi tubuh, sehingga menimbulkan keluhan pusing saat berdiri.
5. Gangguan Sistem Saraf Otonom
Beberapa kondisi neurologis seperti penyakit Parkinson, neuropati diabetik, atau multiple system atrophy (MSA) dapat mengganggu respons tekanan darah saat perubahan posisi.
6. Efek Samping Obat-obatan
Obat antihipertensi, diuretik, antidepresan, dan obat untuk penyakit Parkinson dapat menurunkan tekanan darah secara berlebihan dan menyebabkan pusing saat berdiri.
Jika gejala pusing saat berdiri diikuti dengan kehilangan kesadaran (sinkop), kejang, atau jatuh, maka ini merupakan kondisi darurat medis. Penanganan segera sangat diperlukan untuk mencegah cedera serius atau komplikasi yang lebih berat.
Cara Mengatasi dan Mencegah Pusing saat Berdiri
1. Perubahan Posisi secara Perlahan
Saat seseorang berdiri terlalu cepat dari posisi duduk atau berbaring, darah belum sempat mengalir kembali ke otak dengan cukup cepat. Hal ini dapat memicu pusing saat berdiri. Untuk mencegahnya:
- Bangunlah dari tempat tidur secara bertahap: mulai dengan berbaring ke samping, lalu duduk selama beberapa detik, dan baru perlahan berdiri.
- Jika sedang duduk dalam waktu lama, coba gerakkan kaki terlebih dahulu sebelum berdiri.
- Latih teknik pernapasan dalam sebelum berdiri agar sirkulasi darah lebih optimal.
2. Perbanyak Minum Air
Dehidrasi adalah salah satu penyebab umum pusing saat berdiri karena volume darah menjadi berkurang. Untuk mengatasinya:
- Pastikan mengonsumsi air putih minimal 2 liter per hari atau lebih saat cuaca panas atau setelah aktivitas fisik.
- Tambahkan cairan elektrolit jika diperlukan, terutama jika sering berkeringat banyak.
- Perhatikan warna urin: semakin jernih menandakan tubuh cukup cairan.
Baca juga: 7 Manfaat Air Kelapa bagi Kesehatan
3. Hindari Alkohol
Alkohol bersifat diuretik, yang dapat menyebabkan tubuh kehilangan cairan dan elektrolit penting. Dampaknya:
- Volume darah bisa turun, sehingga memicu pusing saat berdiri.
- Sistem saraf otonom juga dapat terpengaruh oleh konsumsi alkohol berlebihan.
- Untuk itu, batasi konsumsi alkohol, dan hindari sepenuhnya jika Anda memiliki riwayat ortostatik hipotensi.
4. Kenakan Stoking Kompresi
Stoking kompresi bekerja dengan memberi tekanan lembut pada kaki dan betis, membantu mendorong darah kembali ke jantung. Manfaatnya bagi yang mengalami pusing saat berdiri:
- Mengurangi penumpukan darah di kaki saat berdiri.
- Membantu menjaga tekanan darah tetap stabil saat perubahan posisi.
- Tersedia dalam berbagai ukuran dan kekuatan tekanan, sebaiknya konsultasikan dengan dokter sebelum pemakaian.
5. Konsumsi Garam Secukupnya
Natrium dalam garam membantu mempertahankan tekanan darah dengan menjaga keseimbangan cairan tubuh. Pada beberapa kasus pusing saat berdiri, terutama ortostatik hipotensi kronis, dokter mungkin menyarankan:
- Sedikit peningkatan konsumsi garam dalam makanan.
- Namun, ini tidak dianjurkan bagi penderita hipertensi, gagal jantung, atau penyakit ginjal.
- Alternatifnya bisa berupa tablet natrium klorida yang diresepkan dokter, jika dibutuhkan.
7. Olahraga Rutin
Aktivitas fisik yang teratur membantu memperkuat sistem kardiovaskular dan memperbaiki respons tekanan darah terhadap perubahan posisi tubuh. Rekomendasi untuk mengatasi pusing saat berdiri:
- Lakukan olahraga ringan seperti jalan cepat, yoga, atau bersepeda statis.
- Hindari berdiri diam terlalu lama; lebih baik melakukan gerakan kecil untuk menjaga sirkulasi.
- Latihan duduk-berdiri atau gerakan kaki sambil duduk juga bisa membantu tubuh beradaptasi dengan perubahan posisi.
Baca juga: Cara Meningkatkan Postur Tubuh: Olahraga dan Latihan yang Efektif
Dengan melakukan perubahan gaya hidup dan manajemen kesehatan yang tepat, keluhan pusing saat berdiri dapat dikurangi secara signifikan. Namun jika keluhan berlanjut atau semakin memburuk, pemeriksaan menyeluruh oleh dokter sangat disarankan untuk memastikan diagnosis dan pengobatan yang tepat.
Sering mengalami pusing saat berdiri? Jangan anggap sepele. Kondisi ini bisa menjadi tanda gangguan tekanan darah, saraf, atau jantung. Anda disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam atau dokter spesialis neurologi untuk evaluasi lebih lanjut.
Kavacare dapat membantu Anda untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis neurologi di rumah sakit terbaik. Untuk informasi lebih lanjut, hubungi Kavacare Support di nomor WhatsApp 0811 1446 777.
Sumber:
- Roy Freeman, Wouter Wieling, Felicia B. Axelrod. David G. Benditt. Consensus statement on the definition of orthostatic hypotension, neurally mediated syncope and the postural tachycardia syndrome. Clinical Autonomic Research. 2011, Mar (24): 69–72.
- Giovanni Bellomo PhD, Silvia Paciotti PhD, Leonardo Gatticchi PhD, Lucilla Parnetti MD, Ph. The Vicious Cycle Between α-Synuclein Aggregation and Autophagic-Lysosomal Dysfunction. 2019, Nov (15): 79–80. doi.org/10.1002/mds.27895.
- Karen Joan Suetterlin, Avan Aihie Sayer. The frailty index in Europeans: association with age and mortality. Age and Ageing. 43(3), 389–395. doi.org/10.1093/ageing/aft174.

