Skinny Fat Kurus Tapi Banyak Lemak, Haruskah Khawatir Homecare Kavacare

Skinny Fat: Kurus Tapi Banyak Lemak, Haruskah Khawatir?

Meski terlihat kurus dan berat badan tampak normal, seseorang bisa saja mengalami kondisi skinny fat, yaitu ketika persentase lemak tubuh tinggi dan massa otot rendah. Istilah skinny fat menggambarkan orang yang tampak langsing namun sebenarnya menyimpan lemak visceral berlebih yang berisiko memicu berbagai gangguan metabolik seperti kolesterol tinggi, diabetes, dan kelelahan kronis. Karena BMI tidak mencerminkan komposisi tubuh secara akurat, banyak orang dengan skinny fat merasa sehat padahal menyimpan risiko yang sama seperti obesitas.

Penyebab Skinny Fat 

Ada beberapa penyebab umum seseorang bisa mengalami kondisi ini, di antaranya:

1. Kurang Aktivitas Fisik dan Latihan Beban

Salah satu penyebab utama skinny fat adalah gaya hidup sedentari, yaitu jarang bergerak dan tidak melakukan aktivitas fisik yang cukup. Terutama jika seseorang hanya mengandalkan diet tanpa disertai olahraga, khususnya latihan kekuatan atau resistance training. Tanpa aktivitas tersebut, tubuh akan kehilangan massa otot dan memperbesar proporsi lemak, bahkan jika berat badan terlihat normal.

2. Pola Makan Tidak Seimbang 

Mengonsumsi makanan tinggi kalori, lemak jenuh, dan karbohidrat olahan secara berlebihan tanpa memperhatikan asupan protein dan mikronutrien bisa menyebabkan skinny fat. Kebiasaan melewatkan makan, diet ekstrem, atau terlalu sering konsumsi makanan cepat saji membuat tubuh kekurangan nutrisi penting untuk membentuk otot dan membakar lemak.

3. Stress dan Kurang Tidur 

Stres kronis dan kurang tidur dapat memengaruhi hormon kortisol dan insulin dalam tubuh. Keduanya berperan dalam pembentukan lemak, terutama di bagian perut. Jika tidak diimbangi dengan gaya hidup sehat, kondisi ini dapat memperburuk kondisi skinny fat.

4. Genetik dan Faktor Hormon 

Beberapa orang memiliki kecenderungan genetik untuk menyimpan lemak lebih banyak di area tertentu meskipun secara keseluruhan tubuh mereka ramping. Selain itu, gangguan hormonal seperti resistensi insulin atau hipotiroid juga dapat menyebabkan penumpukan lemak tanpa kenaikan berat badan signifikan, yang kemudian memicu kondisi skinny fat.

Baca juga: Metabolic Syndrome Non Obesity: Bahaya Tersembunyi di Balik Berat Badan Ideal

Bahaya Skinny Fat bagi Kesehatan 

Walau terlihat kurus, skinny fat bukan berarti sehat. Orang dengan kondisi ini berisiko tinggi mengalami berbagai gangguan metabolik, seperti:

1. Diabetes Tipe 2 Akibat Resistensi Insulin

Salah satu risiko utama dari skinny fat adalah meningkatnya resistensi insulin. Lemak visceral yang menumpuk di sekitar organ dalam, terutama perut, dapat mengganggu kerja hormon insulin dalam mengatur gula darah. Akibatnya, kadar gula darah meningkat secara perlahan tanpa gejala awal yang jelas. Banyak orang dengan skinny fat tidak menyadari bahwa mereka berada dalam kondisi prediabetes hingga akhirnya terdiagnosis diabetes tipe 2. Hal ini membuktikan bahwa tubuh kurus belum tentu bebas dari risiko metabolik.

2. Penyakit Jantung Akibat Lemak Visceral

Skinny fat juga meningkatkan risiko penyakit jantung, meskipun seseorang tidak memiliki tubuh gemuk. Lemak visceral menghasilkan senyawa inflamasi yang dapat merusak dinding pembuluh darah dan memicu peradangan kronis. Akibatnya, risiko terjadinya plak di arteri (aterosklerosis) meningkat, yang kemudian dapat menyebabkan serangan jantung atau stroke. Kondisi ini sering tidak disadari karena penampilan luar terlihat sehat, padahal sistem kardiovaskular sedang terancam.

Baca juga: Apa Dampak Stres Berpengaruh terhadap Kesehatan Jantung?

3. Hiperkolesterolemia atau Kadar LDL Tinggi

Orang dengan skinny fat cenderung memiliki kadar kolesterol jahat (LDL) yang tinggi dan kadar kolesterol baik (HDL) yang rendah. Hal ini disebabkan oleh pola makan tinggi lemak jenuh, minim serat, dan rendah aktivitas fisik. Lemak tubuh yang tersembunyi ini berkontribusi terhadap gangguan metabolisme lemak, yang jika dibiarkan dapat menyebabkan penumpukan plak di pembuluh darah dan meningkatkan risiko penyakit jantung serta stroke. Oleh karena itu, penting untuk memeriksa profil lipid secara rutin, bahkan jika berat badan terlihat normal.

4. Sarkopenia (Kehilangan Massa Otot) yang Mempercepat Penuaan

Skinny fat bukan hanya soal lemak tinggi, tetapi juga otot yang rendah. Kondisi ini berkaitan erat dengan sarkopenia, yaitu penurunan massa dan kekuatan otot yang biasanya terjadi seiring bertambahnya usia. Namun, pada orang dengan skinny fat, sarkopenia bisa muncul lebih awal karena kurangnya latihan kekuatan dan asupan protein yang tidak mencukupi. Akibatnya, tubuh menjadi mudah lelah, rentan cedera, dan mengalami penurunan fungsi fisik lebih cepat—ciri khas dari penuaan dini.

5. Sindrom Metabolik: Gabungan dari Risiko Serius

Skinny fat juga berkaitan erat dengan sindrom metabolik, yaitu kombinasi dari tiga atau lebih kondisi seperti tekanan darah tinggi, kadar gula darah tinggi, kadar trigliserida tinggi, HDL rendah, dan lingkar perut berlebih. Meskipun seseorang tidak terlihat gemuk, kehadiran lemak visceral yang tinggi dapat memicu reaksi peradangan sistemik yang menjadi dasar terbentuknya sindrom metabolik. Kondisi ini secara signifikan meningkatkan risiko penyakit kronis seperti diabetes, stroke, dan penyakit jantung koroner.

Cara Mengatasi Skinny Fat 

Kabar baiknya, skinny fat bisa diatasi dengan perubahan pola hidup. Berikut langkah-langkah efektif, antara lain: 

1. Fokus pada Latihan Beban 

Untuk memperbaiki komposisi tubuh, tidak cukup hanya dengan kardio. Latihan beban atau resistance training 3–4 kali seminggu membantu meningkatkan massa otot dan menurunkan lemak tubuh. Latihan seperti squats, deadlifts, dan push-up sangat efektif bagi penderita skinny fat.

Baca juga: Cara Meningkatkan Postur Tubuh: Olahraga dan Latihan yang Efektif

2. Perbaiki Pola Makan 

Asupan protein yang cukup sangat penting untuk membentuk otot. Pastikan setiap kali makan mengandung kombinasi protein (telur, ayam, tahu), serat (sayur, buah), dan karbohidrat kompleks (nasi merah, oats). Hindari diet ekstrem atau skip makan karena bisa memperburuk kondisi skinny fat.

3. Tidur Cukup dan Kelola Stres 

Tidur 7–9 jam per malam membantu tubuh memperbaiki otot dan menyeimbangkan hormon. Kelola stres dengan aktivitas relaksasi seperti meditasi, journaling, atau olahraga ringan.

4. Pantau Komposisi Tubuh, Bukan Berat Badan

Gunakan alat seperti bioelectrical impedance analysis (BIA) atau DEXA scan untuk memantau kadar lemak dan otot tubuh. Jangan hanya terpaku pada angka di timbangan, karena seseorang bisa bertubuh ringan tapi tinggi lemak—ciri khas dari skinny fat.

Skinny fat adalah kondisi tubuh kurus tapi menyimpan kadar lemak tinggi dan massa otot rendah. Meskipun tampak sehat, kondisi ini menyimpan berbagai risiko kesehatan serius seperti diabetes, penyakit jantung, dan sindrom metabolik. Pola hidup tidak aktif, pola makan buruk, stres, dan kurang tidur adalah faktor penyebab utama skinny fat. Dengan memperbaiki pola makan, rutin berolahraga, dan menjaga kualitas tidur, kondisi ini bisa diatasi secara bertahap.

Jika Anda merasa mengalami kondisi skinny fat, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan ahli gizi. Kavacare menyediakan layanan konsultasi dengan ahli gizi yang dapat membantu Anda menyusun rencana makan, program olahraga, dan strategi hidup sehat yang sesuai dengan kebutuhan tubuh Anda. Informasi lebih lanjut, hubungi Kavacare Support di nomor WhatsApp  0811 1446 777. 

Sumber: 

  1. What Does ‘Skinny Fat’ Mean? – Cleveland Clinic. https://health.clevelandclinic.org/skinny-fat. Diakses pada 22 September 2025. 
  2. Abdominal obesity and your health – Harvard Health Publishing. https://www.health.harvard.edu/staying-healthy/abdominal-obesity-and-your-health. Diakses pada 22 September 2025. 
  3. Skinny Sipping: Drink Pounds Away – WebMd. https://www.webmd.com/diet/features/drink-pounds-away. Diakses pada 22 September
Artikel ini telah direview oleh

Dr. Eddy Wiria, PhD

Co-Founder & CEO Kavacare