Kolonoskopi adalah prosedur medis yang digunakan untuk memeriksa kondisi usus besar dan rektum menggunakan alat berbentuk selang fleksibel berkamera. Prosedur ini biasanya direkomendasikan untuk deteksi dini gangguan pencernaan seperti polip, peradangan, perdarahan rektum, perubahan kebiasaan buang air besar, nyeri perut kronis, hingga skrining kanker kolorektal. Selama pemeriksaan, dokter dapat melihat langsung permukaan usus besar serta melakukan tindakan seperti biopsi atau pengangkatan polip jika diperlukan. Meski kolonoskopi tergolong aman, pasien tetap perlu memahami bahwa prosedur ini tidak sepenuhnya bebas risiko, sehingga penting untuk mengetahui potensi efek samping tindakan kolonoskopi sebelum menjalani tindakan.
Efek Samping Tindakan Kolonoskopi yang Umum
Sebagian besar pasien akan mengalami efek samping tindakan kolonoskopi ringan yang tidak berbahaya dan bersifat sementara. Efek yang paling umum antara lain:
1. Kembung dan Rasa Tidak Nyaman di Perut
Selama prosedur kolonoskopi, dokter akan memasukkan gas (biasanya udara atau karbon dioksida) ke dalam usus besar untuk memperluas salurannya agar kamera bisa melihat bagian dalam usus dengan jelas. Akibatnya, setelah prosedur selesai, pasien sering merasa perut kembung, penuh, atau bergas. Sensasi ini bisa menimbulkan rasa tidak nyaman, seperti ingin bersendawa atau nyeri tekan ringan di perut. Biasanya, gas ini akan keluar secara alami dalam beberapa jam, dan rasa tidak nyaman akan berkurang seiring waktu.
2. Perasaan Ingin Buang Air Terus-Menerus
Masih berkaitan dengan penggunaan gas selama kolonoskopi, banyak pasien melaporkan dorongan kuat untuk buang angin setelah prosedur. Ini adalah reaksi normal tubuh untuk mengeluarkan sisa gas dari dalam usus besar. Dorongan ini bisa berlangsung selama beberapa jam dan mungkin membuat pasien merasa kurang nyaman, terutama jika masih berada di ruang pemulihan atau perjalanan pulang. Untuk membantu proses ini, pasien disarankan untuk bergerak ringan, seperti berjalan kaki singkat, agar gas lebih cepat keluar dari tubuh.
3. Mual atau Pusing Ringan
Efek samping tindakan kolonoskopi juga bisa muncul akibat penggunaan obat sedasi atau anestesi ringan yang diberikan selama prosedur agar pasien merasa rileks dan tidak nyeri. Setelah efek obat berangsur hilang, sebagian pasien bisa mengalami mual, pusing, atau rasa melayang. Gejala ini biasanya ringan dan akan membaik dalam beberapa jam. Penting untuk tidak langsung mengemudi atau melakukan aktivitas berat setelah kolonoskopi, serta beristirahat cukup dan minum air putih untuk mempercepat pemulihan.
4. Nyeri Ringan di Rektum atau Perut Bagian Bawah
Beberapa pasien mungkin mengalami nyeri ringan atau rasa ngilu di area rektum, terutama jika selama prosedur dilakukan pengambilan sampel jaringan (biopsi) atau pengangkatan polip. Nyeri ini umumnya tidak mengganggu aktivitas dan bisa ditangani dengan istirahat serta kompres hangat di area perut. Namun, jika nyeri terasa tajam, bertambah berat, atau disertai gejala lain seperti perdarahan, sebaiknya segera konsultasikan ke dokter karena bisa menandakan komplikasi dari efek samping tindakan kolonoskopi yang lebih serius.
Efek samping tindakan kolonoskopi semacam ini biasanya tidak memerlukan penanganan khusus dan akan hilang dalam waktu 24 jam.
Baca juga: Mengapa Wanita Sering Mengalami Sakit Perut Sebelah Kiri? Kenali Penyebab yang Harus Anda Waspadai!
Efek Samping Tindakan Kolonoskopi yang Lebih Serius
Walaupun jarang terjadi, ada beberapa efek samping tindakan kolonoskopi yang bersifat serius dan memerlukan perhatian medis segera, antara lain:
1. Perdarahan setelah Pengangkatan Polip
Perdarahan adalah salah satu efek samping tindakan kolonoskopi yang paling sering terjadi, terutama jika prosedur melibatkan tindakan pengangkatan polip (polipektomi). Perdarahan bisa muncul segera setelah prosedur, namun tidak jarang juga baru terjadi beberapa hari kemudian. Biasanya perdarahan ini ringan dan berupa darah segar dari rektum, tetapi jika berlangsung terus-menerus atau dalam jumlah banyak, bisa menjadi tanda bahaya. Dalam kasus ringan, dokter dapat menghentikan perdarahan dengan tindakan kolonoskopi tambahan. Namun, jika perdarahan cukup parah, pasien mungkin perlu dirawat inap untuk pemantauan atau tindakan medis lebih lanjut.
2. Perforasi Usus
Perforasi atau robekan pada dinding usus adalah efek samping tindakan kolonoskopi yang paling serius, meskipun sangat jarang terjadi (sekitar 0,1–0,3% kasus). Perforasi dapat terjadi akibat tekanan alat kolonoskopi, terutama jika terdapat peradangan, divertikula, atau jaringan usus yang rapuh. Gejala perforasi termasuk nyeri perut hebat, demam, mual, dan perut terasa keras. Jika tidak segera ditangani, perforasi dapat menyebabkan infeksi serius (peritonitis) yang berpotensi mengancam nyawa. Penanganan biasanya berupa operasi untuk menutup robekan dan pemberian antibiotik intravena.
3. Reaksi Alergi terhadap Obat Sedasi
Selama kolonoskopi, pasien umumnya diberikan obat sedasi atau bius ringan untuk mengurangi rasa tidak nyaman. Meski jarang, beberapa pasien bisa mengalami efek samping kolonoskopi berupa reaksi alergi terhadap obat-obatan ini. Gejalanya bisa ringan seperti ruam, mual, atau pusing, hingga berat seperti sesak napas, penurunan tekanan darah drastis, atau syok anafilaksis. Karena itu, penting bagi pasien untuk menyampaikan riwayat alergi obat kepada tim medis sebelum prosedur dimulai. Jika reaksi alergi muncul, penanganan segera dengan obat antihistamin atau adrenalin akan diberikan.
4. Infeksi
Meskipun kolonoskopi termasuk prosedur steril, risiko infeksi tetap ada, terutama pada bagian usus yang dilakukan tindakan seperti biopsi atau pengangkatan polip. Infeksi biasanya muncul dalam bentuk demam, nyeri perut, atau keluarnya cairan abnormal dari rektum. Efek samping kolonoskopi berupa infeksi ini lebih sering terjadi pada pasien dengan daya tahan tubuh lemah atau riwayat penyakit kronis. Pengobatan meliputi pemberian antibiotik dan pemantauan gejala lanjutan. Untuk mengurangi risiko, semua alat endoskopi disterilkan secara ketat sesuai protokol medis.
Baca juga: Apa Efek Samping Antibiotik?
Tanda-Tanda Efek Samping Kolonoskopi yang Harus Diwaspadai
Setelah menjalani kolonoskopi, pasien harus waspada terhadap gejala tertentu yang bisa menandakan efek samping kolonoskopi yang berbahaya.
1. Nyeri Perut Parah yang Tidak Membaik
Nyeri hebat yang terus menerus setelah kolonoskopi bisa menjadi tanda perforasi usus atau infeksi. Berbeda dengan rasa tidak nyaman ringan yang umum, nyeri ini terasa menusuk dan tidak mereda meskipun sudah beristirahat.
2. Demam Tinggi
Demam lebih dari 38°C setelah kolonoskopi dapat mengindikasikan adanya infeksi di dalam tubuh, terutama jika disertai gejala lain seperti menggigil, nyeri, atau perut kaku.
3. Perdarahan dari Anus dalam Jumlah Banyak
Perdarahan ringan mungkin normal setelah polip diangkat, tetapi jika darah yang keluar cukup banyak, terus-menerus, atau disertai gumpalan, ini bisa menjadi efek samping kolonoskopi yang membutuhkan intervensi medis segera.
4. Mual dan Muntah Terus Menerus
Jika mual dan muntah terjadi terus-menerus setelah prosedur, hal ini bisa menjadi reaksi tubuh terhadap sedasi, gangguan pencernaan serius, atau pertanda adanya komplikasi seperti infeksi.
5. Tubuh Lemas hingga Kehilangan Kesadaran
Gejala ini bisa menjadi tanda syok akibat perdarahan hebat, reaksi alergi berat, atau gangguan sirkulasi darah. Kondisi ini harus ditangani secepatnya di fasilitas kesehatan.
Semua gejala di atas adalah sinyal penting dari efek samping tindakan kolonoskopi yang tidak boleh diabaikan. Bila muncul, segera hubungi tenaga medis atau pergi ke rumah sakit terdekat.
Cara Mengurangi Risiko Efek Samping Kolonoskopi
Beberapa cara dapat dilakukan untuk menurunkan risiko efek samping tindakan kolonoskopi, di antaranya:
- Mematuhi semua instruksi pra-tindakan, termasuk puasa dan pembersihan usus.
- Memberi tahu dokter mengenai riwayat alergi atau penggunaan obat-obatan tertentu.
- Menghindari aktivitas berat setidaknya 24 jam setelah prosedur.
- Mengonsumsi makanan ringan dan cukup cairan pascaprosedur.
Dengan persiapan yang tepat dan pemantauan pascaprosedur, potensi efek samping tindakan kolonoskopi dapat ditekan seminimal mungkin.
Kolonoskopi adalah prosedur penting untuk deteksi dini berbagai gangguan di saluran pencernaan. Meski secara umum aman, pasien perlu memahami kemungkinan efek samping kolonoskopi, baik yang ringan maupun yang serius. Edukasi ini bertujuan agar pasien dapat mengambil keputusan medis secara sadar dan menjalani pemulihan dengan optimal.
Jika Anda membutuhkan bantuan untuk konsultasi dokter spesialis, persiapan tindakan, hingga pemantauan pascakolonoskopi, Kavacare siap mendampingi Anda. Kami dapat membantu Anda mendapatkan layanan di rumah sakit terbaik. Untuk informasi lebih lanjut, hubungi Kavacare Support di nomor WhatsApp 0811 1446 777.
Sumber:
- Arvind J. Trindade, MD, David R. Lichtenstein, MD, FASGE, Guru Trikudanathan, MD ∙ Rabindra R. Watson, MD. Devices and Methods to Improve Colonoscopy Completion. P625-634, Maret 2018. DOI: 10.1016/j.gie.2017.12.011.
- Colonoscopy – National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK). https://www.niddk.nih.gov/health-information/diagnostic-tests/colonoscopy. Diakses pada 31 Juli 2025.
- Colonoscopy – Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diagnostics/4949-colonoscopy. Diakses pada 31 Juli 2025.

