Penggunaan dan pemberian antibiotika di Indonesia saat ini termasuk sangat mengkhawatirkan. Pembelian antibiotika sangat mudah dan bisa didapatkan bahkan tanpa resep dari dokter. Bidan, perawat, atau bahkan dokter juga sering kali secara gampang memberikan antibiotik kepada ibu hamil dan anak-anak walaupun pada infeksi virus atau antibiotik yang kuat pada pasien yang sebetulnya cukup diberikan antibiotika yang spesifik. Kebiasaan melakukan kultur darah dan resistensi juga masih belum menjadi bagian dari standar keseharian tatalaksana infeksi.
Sementara itu, kita juga melihat fenomena meningkatnya penyakit akibat autoimun di Indonesia dan juga belahan dunia lain. Peningkatan munculnya kasus-kasus autoimun, dipantau oleh para ahli dipengaruhi oleh predisposisi genetik, faktor lingkungan, dan praktik perawatan kesehatan di berbagai wilayah. Mengingat harapan hidup mereka yang panjang, anak-anak dengan penyakit autoimun sering menghadapi beban penyakit kronis yang substansial, yang dapat berdampak parah pada kualitas hidup mereka. Sementara etiologi pasti dari kondisi autoimun yang tersebar luas ini masih belum jelas, bukti yang muncul menunjukkan bahwa paparan prenatal atau awal kehidupan terhadap antibiotik dapat menjadi faktor yang berkontribusi.
Karena keingintahuan ini, grup peneliti di Korea dari berbagai institusi ingin membuktikan hubungan antara pemberian antibiotika dan insiden autoimun. Hipotesis ini didasarkan pada pemahaman bahwa antibiotik, meskipun penting untuk menangani infeksi bakteri (terutama bila sesuai indikasi), dapat mengganggu perkembangan sistem kekebalan dan mikrobioma, yang berpotensi membuat individu rentan terhadap gangguan autoimun. Karena paparan antibiotik selama tahun-tahun pembentukan sistem kekebalan tubuh dapat berdampak signifikan terhadap perkembangan kekebalan tubuh anak, penting untuk mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang dari penggunaan antibiotik selama periode kritis ini untuk pembentukan kekebalan seumur hidup dan mikrobioma usus.
Para peneliti dari Korea Selatan, menganalisis dan menerbitkan hasil penelitian terbaru mereka di jurnal bergengsi PLOS Medicine bulan Agustus 2025 lalu. Mereka melakukan studi kohort retrospektif dengan menggunakan data dari Layanan Asuransi Kesehatan Nasional Korea Selatan–Basis Data Asuransi Kesehatan Nasional (NHIS–NHID). Basis data NHIS–NHID menyediakan cakupan yang hampir lengkap bagi populasi Korea, karena Korea Selatan mengoperasikan sistem perawatan kesehatan universal pembayar tunggal di mana hampir semua penduduk (97%) terdaftar. Hal ini memastikan bahwa data tersebut mencakup hampir semua pemanfaatan layanan kesehatan di Korea, termasuk layanan rawat inap, rawat jalan, dan pusat kesehatan masyarakat, sehingga meminimalkan bias seleksi terkait akses layanan kesehatan. Pertanyaannya apakah betul bahwa paparan antibiotika pada ibu hamil dan anak di usia dini, bisa meningkatkan penyakit autoimun di populasi?
Untuk kohort kehamilan, tim peneliti yang dipimpin oleh Prof Ju-Young Shin mengidentifikasi 2.703.090 anak yang memenuhi syarat, di antaranya 1.516.574 (56,1%) terpapar antibiotik dalam kandungan. Meskipun dibatasi pada anak-anak yang ibunya didiagnosis dengan infeksi selama kehamilan, proporsi penyebab infeksi dan proksi untuk tingkat keparahan infeksi (misalnya, jumlah kunjungan rumah sakit dengan infeksi) lebih tinggi pada kelompok yang terpapar sebelum pembobotan PS. Selain itu, paparan antibiotik lebih umum di antara mereka yang memiliki komorbiditas asma dan penggunaan obat (misalnya, asetaminofen, NSAID). Untuk kohort bayi, di antara 3.347.049 anak yang memenuhi syarat dengan infeksi, 1.925.585 (57,5%) terpapar antibiotik selama awal masa bayi. Sebelum pembobotan, bayi yang terpapar antibiotik lebih mungkin berjenis kelamin laki-laki, memiliki lebih banyak penyebab infeksi, dan memiliki ibu yang terpapar antibiotik selama kehamilan (44,8% versus 39,4%). Jumlah subjek penelitian yang sangat spektakuler.
Hasil menarik dari penelitian ini, ternyata tidak ada hubungan langsung secara signifikan antara penggunaan antibiotika dengan kejadian autoimun. Dalam analisis kehamilan, setiap kelompok untuk masing-masing hasil yang diminati diikuti selama durasi rata-rata 7,6 tahun. Analisis menunjukkan tidak ada hubungan antara paparan antibiotik dan penyakit autoimun pada anak-anak, termasuk diabetes tipe 1, artritis idiopatik juvenil, kolitis ulseratif, penyakit Crohn, lupus eritematosus sistemik, dan tiroiditis Hashimoto. Namun, dalam analisis subkelompok berdasarkan spektrum antibiotik dalam kohort kehamilan, paparan terhadap antibiotik spektrum luas dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit Crohn. Risiko yang meningkat juga diamati untuk penyakit Crohn terkait dengan paparan ibu terhadap sefalosporin dan dengan paparan selama trimester pertama dan kedua., yang menunjukkan peningkatan risiko ketika paparan diberikan dua atau lebih resep antibiotik.
Dalam analisis bayi, setiap hasil yang diminati diikuti selama durasi rata-rata 7,4 tahun. Dalam juga tidak ditemukan perbedaan dalam insiden risiko penyakit autoimun antara kelompok yang terpapar dan tidak terpapar untuk diabetes tipe 1 dan artritis idiopatik juvenil, kolitis ulseratif, penyakit Crohn, lupus eritematosus sistemik, dan tiroiditis Hashimoto. Namun, risiko tiroiditis Hashimoto meningkat di antara laki-laki dan setelah paparan antibiotik dalam dua bulan setelah lahir.
Untuk perihal hasil di atas memang tidak bisa kita telan mentah-mentah. Berbagai penelitian di Swedia, Norwegia dan Denmark, juga ada yang menunjukkan hasil yang sejalan, ada juga yang berbeda dengan berbagai faktor yang bisa dibaca secara detil di tulisan Eun-Young Choi dan kawan-kawan. Menariknya, meskipun hubungan keseluruhan antara paparan antibiotik prenatal atau awal kehidupan dan risiko penyakit autoimun sebagian besar nihil setelah penyesuaian perancu yang ketat, analisis subkelompok mengungkapkan peningkatan risiko pada populasi atau kondisi tertentu. Pertama, penggunaan sefalosporin ibu atau penggunaan antibiotik selama awal hingga pertengahan kehamilan dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit Crohn pada keturunannya. Sefalosporin, sebagai β-laktam generasi ketiga dan keempat, dapat menyebabkan gangguan berkelanjutan pada mikrobiota usus ibu, yang berpotensi mengganggu perkembangan dan toleransi imun janin. Selain itu, selama trimester pertama dan kedua, sistem imun Janis sedang terbentuk. Gangguan pada sinyal mikroba maternal selama jendela sensitif imunologi ini dapat mengubah pemrograman imun pada fetus dan berpotensi meningkatkan kerentanan terhadap kondisi yang dimediasi imun di kemudian hari. Kedua, paparan antibiotik pada anak laki-laki atau selama dua bulan pertama kehidupan dikaitkan dengan peningkatan risiko tiroiditis autoimun yang sederhana. Kerentanan spesifik jenis kelamin ini didukung oleh perbedaan imunologi yang diketahui antara bayi laki-laki dan perempuan, karena bayi laki-laki menunjukkan perkembangan Treg yang tertunda dan respons interferon tipe I yang berkurang. Lebih lanjut, periode awal masa bayi merupakan jendela kritis untuk pematangan imun dan kolonisasi mikroba, di mana disbiosis yang diinduksi antibiotik dapat memiliki efek yang bertahan lama. Temuan ini menyoroti perlunya penelitian di masa depan tentang efek spesifik kelas, jenis kelamin, dan waktu dari paparan antibiotik pada pemrograman imun dan risiko penyakit autoimun pada anak-anak.
Meskipun potensi manfaat pengobatan antibiotik dalam mengelola infeksi selama kehamilan atau awal masa bayi kemungkinan lebih besar daripada risiko minimal hasil autoimun, temuan grup peneliti tersebut juga menyoroti perlunya penggunaan antibiotik yang hati-hati dan tepat secara klinis selama periode perkembangan kritis ini, terutama pada subkelompok tertentu. Di Indonesia, kita juga perlu sepakat untuk memperbaiki praktik penggunaan antibiotika yang lebih aman, tercatat dan terkoordinasi. Pencatatan penggunaan juga membantu kita untuk melakukan analisa yang baik dan bisa membantu pemerintah dan stake holder kesehatan untuk menyusun program yang tepat sasaran. Kalau sekarang, sepertinya masih seperti rima belantara. Setuju?
Artikel Selengkapnya bisa Dibaca di:
Choi E-Y, Bea S, Lee H, Choi A, Han JY, Kang EH, et al. (2025) Exposure to antibiotics during pregnancy or early infancy and the risk of autoimmune disease in children: A nationwide cohort study in Korea. PLoS Med 22(8): e1004677. https://doi.org/10.1371/journal.pmed.1004677.

