Bagaimana Gejala Darah Rendah pada Remaja Kenali juga Penyebabnya Homecare Kavacare

Bagaimana Gejala Darah Rendah pada Remaja? Kenali juga Penyebabnya

Kesehatan remaja sering kali lebih banyak dibicarakan dalam konteks gizi, pertumbuhan, dan bahkan tekanan darah tinggi usia dini, padahal masalah tekanan darah rendah pada remaja juga cukup sering terjadi dan dapat menimbulkan gangguan aktivitas sehari-hari. Kondisi ini kerap dianggap sepele, namun jika tidak diperhatikan dapat berdampak pada konsentrasi belajar, produktivitas, bahkan kualitas hidup. Tekanan darah rendah pada remaja, atau hipotensi, adalah kondisi ketika tekanan darah berada di bawah angka normal, yaitu kisaran 90/60 mmHg hingga 120/80 mmHg. Jika tekanan darah berada di bawah angka tersebut dan disertai gejala, maka dapat dikategorikan sebagai darah rendah. Istilah ini sering tertukar dengan anemia ada kurang darah. Meski tidak selalu berbahaya, tekanan darah rendah pada remaja bisa menimbulkan keluhan yang mengganggu, terutama jika terjadi berulang dan tidak diketahui sebabnya. 

Gejala Tekanan Darah Rendah pada Remaja 

Beberapa gejala yang sering muncul ketika remaja mengalami darah rendah antara lain:

1. Pusing atau Berkunang-Kunang 

Gejala ini muncul karena aliran darah ke otak menurun secara mendadak, terutama ketika remaja berdiri terlalu cepat setelah duduk atau berbaring. Kekurangan pasokan oksigen membuat kepala terasa ringan, penglihatan berputar, hingga hampir kehilangan keseimbangan. Kondisi ini sering dialami pada darah rendah pada remaja dan perlu diwaspadai agar tidak jatuh atau cedera.

2. Tubuh Lemas dan Cepat Lelah 

Tekanan darah yang rendah membuat organ tubuh tidak mendapat pasokan darah optimal, sehingga energi cepat habis. Remaja dengan darah rendah bisa merasa lesu meski tidak banyak beraktivitas, sehingga sering dikira malas atau kurang semangat padahal ada masalah medis yang mendasarinya.

3. Pandangan Kabur atau Buram 

Saat tekanan darah turun, suplai oksigen ke mata berkurang sehingga pandangan menjadi kabur atau gelap beberapa detik. Hal ini bisa terjadi saat bangun dari posisi duduk, berdiri lama, atau setelah olahraga berat. Pandangan kabur ini adalah salah satu tanda khas darah rendah yang sering diabaikan.

4. Pingsan atau Hampir Pingsan 

Jika penurunan tekanan darah cukup drastis, otak kekurangan aliran darah sehingga menyebabkan pingsan. Remaja dengan darah rendah pada remaja rentan pingsan di tempat panas, keramaian, atau setelah aktivitas berat. Kondisi ini berbahaya karena bisa menimbulkan cedera jika jatuh mendadak.

5. Konsentrasi Berkurang 

Tekanan darah rendah membuat aliran darah ke otak tidak stabil, sehingga remaja sulit fokus belajar atau mengerjakan tugas. Mereka bisa cepat lelah saat membaca, sulit memahami pelajaran, atau merasa mudah terdistraksi. Masalah konsentrasi ini sering terjadi pada darah rendah pada remaja dan dapat memengaruhi prestasi akademik bila tidak ditangani.

Gejala darah rendah sering kali muncul secara tiba-tiba, sehingga perlu diwaspadai agar tidak menyebabkan cedera akibat jatuh.

Baca juga: Apa Obat Alami untuk Hipertensi?

Penyebab Darah Rendah pada Remaja 

Ada berbagai faktor yang dapat menyebabkan darah rendah, di antaranya:

1. Dehidrasi 

Kekurangan cairan membuat volume darah berkurang, sehingga jantung tidak mampu memompa cukup darah ke seluruh tubuh. Remaja yang banyak beraktivitas di luar ruangan, berolahraga, atau kurang minum air lebih rentan mengalami darah rendah pada remaja akibat dehidrasi. Gejalanya bisa berupa pusing, lemas, bibir kering, hingga urine berwarna pekat.

2. Kurang Gizi 

Asupan zat besi, vitamin B12, dan asam folat yang rendah menyebabkan produksi sel darah merah menurun. Kondisi ini membuat tubuh kekurangan oksigen dan memicu darah rendah pada remaja. Pola makan yang tidak seimbang, diet ketat, atau kebiasaan melewatkan sarapan juga dapat memperburuk masalah ini.

3. Aktivitas Fisik Berlebihan 

Olahraga terlalu berat tanpa cukup istirahat membuat tubuh kehilangan banyak cairan dan elektrolit. Saat cadangan energi habis, tekanan darah bisa turun secara mendadak. Inilah sebabnya darah rendah pada remaja sering terjadi setelah latihan intensif, terutama bila tidak diimbangi dengan hidrasi dan asupan nutrisi yang cukup.

4. Pertumbuhan Cepat 

Pada masa pubertas, hormon dan metabolisme remaja berubah pesat. Tubuh yang sedang tumbuh cepat kadang belum bisa menyesuaikan sirkulasi darahnya, sehingga timbul gejala darah rendah pada remaja. Hal ini biasanya bersifat sementara, tetapi tetap bisa mengganggu aktivitas sehari-hari bila tidak diperhatikan.

5. Kondisi Medis Tertentu 

Beberapa penyakit seperti anemia, gangguan tiroid, infeksi kronis, atau efek samping obat tertentu dapat menurunkan tekanan darah. Pada kasus ini, darah rendah pada remaja bukan hanya karena faktor gaya hidup, tetapi merupakan gejala dari masalah kesehatan yang lebih serius sehingga perlu evaluasi dokter.

Baca juga: 5 Tips Menjaga Kadar Gula Darah Normal

Dampak Tekanan Darah Rendah pada Remaja

Meski sering dianggap tidak berbahaya, darah rendah pada remaja dapat berdampak pada kehidupan sehari-hari. Berikut dampak yang dapat terjadi, antara lain: 

1. Kesulitan Konsentrasi Belajar 

Tekanan darah yang terlalu rendah membuat aliran darah ke otak berkurang. Akibatnya, remaja lebih mudah kehilangan fokus, sulit memahami pelajaran, atau cepat lupa. Kondisi ini menjadikan darah rendah pada remaja sebagai salah satu faktor yang bisa menurunkan prestasi akademik.

2. Cepat Lelah dalam Berolahraga 

Remaja yang aktif berolahraga sering merasa stamina cepat turun ketika mengalami darah rendah pada remaja. Kurangnya suplai oksigen ke otot membuat tubuh mudah lemas, sehingga sulit mengikuti latihan fisik atau kegiatan ekstrakurikuler yang membutuhkan energi tinggi.

3. Gangguan Tidur 

Darah rendah pada remaja dapat menimbulkan rasa lemas berlebihan pada siang hari, yang akhirnya mengganggu pola tidur di malam hari. Sebagian remaja bisa kesulitan tidur nyenyak, sementara yang lain merasa kantuk berlebih pada waktu yang tidak tepat.

Baca juga: Berbagai Penyebab Gangguan Tidur pada Lansia

4. Hilangnya Semangat Beraktivitas 

Pusing, lemas, dan cepat lelah akibat darah rendah pada remaja sering membuat mereka enggan mengikuti kegiatan sosial, olahraga, atau belajar kelompok. Kondisi ini bila berlangsung lama bisa menurunkan rasa percaya diri dan membuat remaja semakin pasif.

5. Menurunnya Prestasi Akademik Maupun Non-Akademik

Kombinasi kesulitan konsentrasi, cepat lelah, dan berkurangnya semangat tentu berdampak pada performa remaja di sekolah maupun kegiatan luar sekolah. Oleh karena itu, meski terlihat ringan, darah rendah pada remaja sebaiknya tidak dianggap remeh.

 Darah rendah pada remaja adalah kondisi yang sering dianggap ringan, padahal dapat menimbulkan gejala seperti pusing, lemas, pandangan kabur, hingga pingsan yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Penyebabnya beragam, mulai dari dehidrasi, kurang gizi, hingga perubahan hormonal pada masa pubertas. Dengan mengenali gejala, memahami penyebab, serta menerapkan pola hidup sehat, kondisi ini dapat dikelola dan dicegah agar remaja tetap aktif dan berprestasi.

Jika anak atau keluarga Anda mengalami gejala tekanan darah rendah pada remaja yang berulang, segera berkonsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam. Kavacare dapat membantu Anda untuk membuat janji temu dengan dokter penyakit dalam, lebih spesifik lagi ke dokter ahli ginjal dan hipertensi di rumah sakit terbaik. Informasi lebih lanjut, hubungi Kavacare Support di nomor WhatsApp 0811 1446 777.

Sumber: 

Low Blood Pressure (Hypotension) – Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/21156-low-blood-pressure-hypotension. Diakses pada 30 September 2025. 

Low blood pressure (hypotension) – NHS UK. https://www.nhs.uk/conditions/low-blood-pressure-hypotension/. Diakses pada 30 September 2025. 

Low Blood Pressure – When Blood Pressure Is Too Low – American Heart Associaton. https://www.heart.org/en/health-topics/high-blood-pressure/the-facts-about-high-blood-pressure/low-blood-pressure-when-blood-pressure-is-too-low. Diakses pada 30 September 2025. 

Artikel ini telah direview oleh

Dr. Eddy Wiria, PhD

Co-Founder & CEO Kavacare