Sembelit merupakan kondisi umum yang dapat terjadi pada siapa saja, termasuk bayi. Meski sering dianggap ringan, sembelit pada bayi bisa menjadi tanda adanya gangguan dalam sistem pencernaannya. Sembelit pada bayi adalah kondisi ketika bayi mengalami kesulitan dalam buang air besar (BAB) atau frekuensi BAB yang lebih jarang dari biasanya, disertai dengan feses yang keras atau kering. Kondisi ini dapat menyebabkan rasa tidak nyaman, menangis berlebihan, hingga perut kembung. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk mengenali gejala sejak dini agar dapat segera ditangani dengan tepat dan menghindari komplikasi lebih lanjut.
Gejala Sembelit pada Bayi
Berikut adalah beberapa gejala khas yang dapat dikenali sebagai tanda sembelit pada bayi, antara lain:
1. Frekuensi BAB Berkurang
Pada bayi baru lahir, buang air besar biasanya terjadi setelah hampir setiap kali menyusu. Namun, jika dalam 3-4 hari bayi tidak buang air besar sama sekali, terutama jika sebelumnya rutin, ini bisa menjadi gejala awal sembelit pada bayi. Hal ini lebih mencolok jika disertai tanda-tanda tidak nyaman atau bayi tampak rewel. Gangguan yang tidak nyaman ini, terutama terjadi pada bayi yang mulai beralih dari ASI ke susu formula atau MPASI. Perubahan frekuensi BAB bisa menjadi indikator bahwa sistem pencernaannya sedang terganggu.
2. Feses Keras dan Kering
Normalnya, feses bayi yang diberi ASI berbentuk lembek dan berwarna kuning. Pada bayi yang mengalami sembelit, feses berubah menjadi bulat, keras, dan kering seperti kelereng. Kondisi ini menandakan usus menyerap terlalu banyak air dari feses, membuatnya sulit dikeluarkan. Saat bayi berusaha mengeluarkannya, mereka bisa merasa sangat tidak nyaman, bahkan sampai menangis karena nyeri.
3. Bayi Menangis atau Mengerang Saat BAB
Mengejan adalah hal biasa saat bayi buang air besar, namun jika disertai tangisan keras, wajah memerah, bahkan sampai berkeringat atau mengejang, ini menandakan usaha yang berlebihan dan nyeri akibat sembelit pada bayi. Sering kali orang tua bisa melihat bayi mengangkat kaki atau melengkungkan tubuhnya ke belakang saat mencoba BAB, yang menunjukkan rasa sakit atau tekanan berlebih di area perut bawah.
4. Perut Kembung atau Terasa Keras
Penumpukan feses di usus besar menyebabkan pembentukan gas dan membuat perut bayi terasa penuh atau tegang. Saat disentuh, perut mungkin terasa keras, dan bayi bisa menunjukkan tanda ketidaknyamanan saat perutnya ditekan. Kondisi ini juga dapat disertai dengan sering kentut, tetapi tetap tidak buang air besar.
5. Nafsu Makan Menurun
Bayi yang mengalami sembelit biasanya merasa tidak nyaman karena perut yang terasa penuh atau nyeri. Ini dapat memengaruhi keinginannya untuk makan atau menyusu. Bahkan, beberapa bayi bisa menunjukkan penolakan total terhadap makanan atau ASI, terutama jika kondisi sembelit sudah berlangsung beberapa hari.
6. Keluarnya Sedikit Tinja Cair
Kondisi ini disebut “soiling” atau encopresis. Meskipun terlihat seperti diare, cairan ini sebenarnya adalah tinja lunak yang berhasil lolos dari tumpukan feses keras di usus besar. Gejala ini bisa membingungkan orang tua, karena mengira bayi mengalami diare, padahal justru menandakan sembelit pada bayi yang lebih serius dan membutuhkan evaluasi medis segera.
7. Adanya Darah di Feses
Darah segar di feses atau popok bisa berasal dari robekan kecil di anus (fisura ani) akibat bayi mengejan terlalu keras saat mengeluarkan feses keras. Warna darah biasanya merah terang, dan ini menjadi tanda penting bahwa sembelit pada bayi sudah menimbulkan iritasi fisik. Meskipun tidak selalu berbahaya, ini perlu perhatian medis, terutama jika terjadi berulang kali.
Baca juga: Apa Manfaat Tidur untuk Otak Balita?
Cara Mendeteksi Sembelit pada Bayi Secara Medis
Deteksi dini sangat penting agar sembelit pada bayi tidak berkembang menjadi kondisi kronis. Dokter akan melakukan beberapa tahapan evaluasi berikut:
1. Evaluasi Riwayat BAB Bayi
- Frekuensi buang air besar: Dokter akan menanyakan seberapa sering bayi buang air besar dalam seminggu terakhir. Bayi yang tidak BAB lebih dari 3 hari berturut-turut patut dicurigai mengalami sembelit.
- Konsistensi feses: Apakah feses bayi keras, kering, atau berbentuk bulat kecil seperti kelereng.
- Riwayat perubahan pola makan: Perubahan dari ASI ke susu formula atau masuknya makanan padat juga akan ditinjau, karena bisa memicu sembelit pada bayi.
2. Pemeriksaan Fisik oleh Dokter
- Pemeriksaan perut: Dokter akan memeriksa apakah terdapat pembesaran atau kekerasan di area perut, yang bisa menjadi tanda penumpukan feses.
- Pemeriksaan rektal (anus): Dalam beberapa kasus, dokter mungkin perlu memeriksa anus bayi untuk melihat apakah terdapat luka (fisura ani), tonus otot abnormal, atau sumbatan feses yang keras.
- Observasi perilaku bayi: Apakah bayi terlihat tegang, menangis saat mengejan, atau mengangkat kakinya saat ingin BAB, yang dapat mengindikasikan ketidaknyamanan akibat sembelit pada bayi.
3. Pemeriksaan Penunjang
- Foto rontgen perut: Digunakan untuk melihat keberadaan feses dalam usus besar dan menilai tingkat keparahan penumpukan.
- Manometri anorektal: Pemeriksaan untuk mengevaluasi fungsi otot dan saraf di area anus dan rektum, biasanya dilakukan bila dicurigai gangguan fungsional seperti Hirschsprung disease.
- Biopsi rektum: Diperlukan dalam kasus yang sangat jarang, untuk memastikan adanya kelainan jaringan saraf pada usus besar yang menyebabkan sembelit kronis pada bayi.
Baca juga: Hipotiroid Kongenital: Kenali Gejala dan Pentingnya Diagnosis Dini
Penanganan Sembelit pada Bayi
Penanganan sembelit pada bayi tergantung pada usia dan penyebabnya. Beberapa langkah yang dapat dilakukan, antara lain:
1. Pijat Perut dan Latihan Kaki
Pijat lembut pada bagian perut dengan gerakan searah jarum jam dapat merangsang peristaltik usus. Gerakan kaki seperti mengayuh sepeda juga membantu meredakan sembelit pada bayi.
2. Tingkatkan Asupan Cairan
Untuk bayi yang sudah mulai MPASI, berikan air putih tambahan di sela-sela makanan. Untuk bayi ASI eksklusif, teruskan pemberian ASI secara rutin.
3. Ubah Pola Makan
Jika sembelit pada bayi terjadi setelah pengenalan MPASI, coba beri makanan tinggi serat seperti buah pir, plum, atau sayuran hijau yang telah dihaluskan.
4. Hindari Obat Pencahar Sembarangan
Jangan memberi obat pencahar atau supositoria tanpa konsultasi dengan dokter. Beberapa obat hanya aman digunakan pada kondisi tertentu dan di bawah pengawasan medis.
5. Resep MPASI untuk Bayi Sembelit
Untuk membantu mengatasi sembelit pada bayi secara alami melalui makanan, berikut beberapa resep MPASI yang direkomendasikan, antara lain:
- Puree Pir: pilihan pertama yang sangat mudah dibuat. Gunakan satu buah pir matang, kupas kulitnya, lalu kukus selama 5–7 menit hingga lunak. Setelah itu, haluskan hingga konsistensinya lembut. Pir kaya akan serat larut alami yang efektif membantu memperlancar proses buang air besar pada bayi.
- Puree Plum: Ambil 2–3 buah plum kering tanpa biji, rendam dalam air panas selama sekitar 10 menit hingga menjadi lunak, lalu blender hingga halus. Plum mengandung sorbitol, zat alami yang bekerja sebagai pencahar ringan, membantu melunakkan feses bayi dan mempercepat pergerakan usus.
- Oatmeal Apel: Siapkan 2 sendok makan oatmeal instan bayi dan setengah buah apel matang yang sudah diparut. Masak oatmeal dengan air atau ASI hingga matang, lalu campurkan dengan apel parut. Kandungan serat dalam oatmeal dan apel mampu meningkatkan gerakan usus, sehingga mengurangi risiko sembelit pada bayi.
- Sup Sayur Hijau: Kukus brokoli, bayam, dan labu siam hingga benar-benar lunak, kemudian haluskan dengan sedikit air matang hingga menjadi puree. Sayuran hijau ini kaya akan serat tidak larut yang membantu mendorong feses keluar dari usus besar, sehingga sangat bermanfaat untuk mengatasi sembelit pada bayi.
- Smoothie Yogurt dan Buah: Campurkan 2 sendok makan yogurt tanpa gula, setengah pisang, dan satu sendok makan buah berry, kemudian blender hingga halus. Yogurt mengandung probiotik alami yang mendukung keseimbangan mikrobiota usus, penting untuk menjaga kesehatan pencernaan bayi dan mencegah terjadinya sembelit pada bayi.
Baca juga: Apa itu Induksi Laktasi dan Siapa Saja yang Membutuhkan?
Mengenali gejala sembelit pada bayi sejak awal sangat penting untuk mencegah komplikasi yang lebih serius. Gejala seperti feses keras, mengejan berlebihan, hingga perut kembung adalah tanda-tanda utama yang perlu diwaspadai. Dengan mengetahui penyebab dan langkah penanganannya, orang tua dapat memberikan perawatan terbaik bagi si kecil
Jika anak Anda mengalami gejala sembelit, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis anak. Kavacare dapat membantu Anda untuk membuat janji temu dengan dokter spesialis anak terbaik di rumah sakit. Informasi lebih lanjut, hubungi Kavacare Support di nomor WhatsApp 0811 1446 777.
Sumber:
- M M Tabbers, C DiLorenzo, M Y Berger, C Faure, M W Langendam, S Nurko, A Staiano, Y Vandenplas, M A Benninga. Evaluation and treatment of functional constipation in infants and children: evidence-based recommendations from ESPGHAN and NASPGHAN. 2014 Feb;58(2):258-74. doi: 10.1097/MPG.0000000000000266. PMID: 24345831.
- Mark A McOmber, Robert J Shulman. Pediatric functional gastrointestinal disorders. 2008 Jun-Jul;23(3):268-74. doi: 10.1177/0884533608318671. PMID: 18595859 PMCID: PMC2821593.
- Suzanne M Mugie, Carlo Di Lorenzo, Marc A Benninga. Constipation in childhood. 2011 Aug 2;8(9):502-11. doi: 10.1038/nrgastro.2011.130. PMID: 21808283.

