Apakah Vaksin Kanker Segera Bisa Menjadi Solusi Homecare Kavacare

Apakah Vaksin Kanker Segera Bisa Menjadi Solusi?

Perkembangan teknologi pengobatan kanker sudah sangat maju pesat di dua dekade terakhir. Vonis kematian dan ditakuti oleh masyarakat luas, sudah mulai bergeser menjadi harapan yang baik. Kemajuan teknologi ini bukan hanya memberi harapan bagi penderita kanker di stadium awal, melainkan juga sudah merangkul mereka yang baru ketahuan memiliki kanker saat kanker sudah menyebar atau metastasis ke mana-mana.

Namun, masih ada ruang untuk peningkatan keberhasilan pengobatan, terutama terhadap kanker-kanker yang masih sulit diobati dan diatasi dengan berbagai modalitas yang ada.  Masih ada juga kanker-kanker yang berat, dan juga pengembangan pengobatan yang lebih ramah terhadap efek samping.

Salah satu harapan adalah vaksin kanker yang bisa mengaktifkan kembali sistem imun seseorang untuk melawan kanker dari tahap awal sebagai pencegahan dan juga sebagai terapeutik atau pengobatan di kondisi sakit. Tiga vaksin yang semakin banyak dikenal dan sudah disetujui adalah vaksin hepatitis B sebagai pencegahan kanker hati, vaksin HPV sebagai pencegahan berbagai kanker yang bisa dicetuskan oleh human papiloma virus, serta vaksin kanker prostat untuk mengobati kanker prostat yang sudah bermetastasis tapi tidak bergejala, dan yang tidak lagi responsif terhadap obat hormon.

Pada bulan Agustus 2025 kemarin, terbit rangkuman perkembangan vaksin kanker oleh penulis dari universitas top di Cina (Sun Yat Sen University),  dan Inggris (Imperial College) di jurnal bergengsi grup British Medical Journal, Journal for ImmunoTherapy of Cancer. Saya ingin membagikan kabar bagus ini ke pembaca di Indonesia. Bahwa perkembangan penelitian ini perlu kita dukung dan semoga segera membuahkan banyak hasil baik.

Ternyata dari Januari tahun 2000 sampai November 2024, sudah banyak sekali penelitian yang dilakukan tentang vaksin kanker (2100 penelitian), yang juga sudah memasuki uji klinis. Sejak 2008, angkanya meledak sangat banyak. Jumlah uji klinis mencapai lebih dari 10 uji klinis per tahun sejak tahun 2009 hingga 2022 terhadap lebih dari 59 jenis kanker.

Vaksin-vaksin yang tujuannya pengobatan kanker, menargetkan protein spesifik yang dihasilkan oleh sel kanker yang sering juga disebut neo-antigen. Dengan pengenalan sistem imun tubuh terhadap neo-antigen itu, pertumbuhan tumor bisa ditekan dan sel-sel kanker bisa dieliminasi. Tujuannya bukan pencegahan, tetapi bagaimana mengontrol kanker atau menyembuhkan penderitanya dari kanker tersebut.

Secara proporsinya: 37% ada di fase-1, 21%, fase-1/fase-2, 32%, fase-2, 2%, fase-2/fase-3, 5%, fase-3 dan1%, fase-4.  Sebagian besar dilakukan di Amerika Serikat (45%). 1% dilakukan di infan, 5% di anak-anak, dan 94% pada orang dewasa. Jenis vaksin kanker yang paling banyak diujikan adalah untuk kanker paru (non-small-cell lung cancer) (N=298; 12%) disusul oleh melanoma (N=277; 11%). 

Penelitian vaksin kanker juga tersebar di beberapa wilayah lain, walaupun tidak sebanyak di Amerika Serikat: 508 (20%) di Eropa, 816 (33%) di Asia, 81 (3%) di Oseania, dan 16 (1%) di Afrika. Per negara terbanyak: Jerman (146 trials; 7%), Kerajaan Inggris (109 trials; 5%) dan Spanyol (107 trials; 5%) di Eropa. Di Asia Jepang (397 trials; 18%) dan Cina (294 trials; 13%) juga bersaing. Sementara Australia (78 trials; 4%) unggul di Oseania. Uji klinis terbanyak di Afrika, dilakukan di Mesir (9 trials).

Aplikasi klinis untuk vaksin kanker sangat menjanjikan. Saat ini ada perkembangan machine learning, artificial intelligence, dan whole-exome sequencing memfasilitasi pemilihan highly immunogenic neoantigens yang bisa jadi target. Berbagai inovasi adjuvan dan stimulator model terapi semakin cepat bisa dilakukan. Tapi, masih banyak hal yang perlu dijawab. Masih sulit untuk mendapatkan neo-antigen yang sesuai dan sering kali masing-masing kanker diekspresikan berbeda di beda orang. Cara produksi vaksin yang efisien, efektif dan terjangkau juga menjadi pekerjaan rumah yang lain. 

Artikel lengkapnya:

Hu F, Li H, Lv W, et al. Mapping the cancer vaccine landscape. Journal for ImmunoTherapy of Cancer 2025;13:e012505. doi:10.1136/ jitc-2025-012505 

Bacaan lain:

  1. Yao R, Xie C, Xia X. Recent progress in mRNA cancer vaccines. Hum Vaccin Immunother. 2024;20(1):2307187.  doi: 10.1080/21645515.2024.2307187. 
  2. Imani S, Li X, Chen K, Maghsoudloo M, Jabbarzadeh Kaboli P, Hashemi M, Khoushab S, Li X. Computational biology and artificial intelligence in mRNA vaccine design for cancer immunotherapy. Front Cell Infect Microbiol. 2025;14:1501010. doi: 10.3389/fcimb.2024.1501010. 
  3. Pail O, Lin MJ, Anagnostou T, Brown BD, Brody JD. Cancer vaccines and the future of immunotherapy. Lancet. 2025;406(10499):189-202. doi: 10.1016/S0140-6736(25)00553-7.
Artikel ini telah direview oleh

Dr. Eddy Wiria, PhD

Co-Founder & CEO Kavacare