Herpes di wajah atau yang dikenal sebagai herpes oral, adalah infeksi yang ditandai dengan munculnya lepuhan kecil berisi cairan pada kulit wajah. Infeksi ini umumnya disebabkan oleh virus herpes simpleks tipe 1 (HSV-1), meskipun virus herpes simpleks tipe 2 (HSV-2) juga dapat menjadi penyebabnya. Memahami penyebab herpes di wajah penting untuk pencegahan dan penanganan yang tepat.
Penyebab Herpes di Wajah
1. Kontak Langsung dengan Lesi Aktif
Virus herpes simpleks tipe 1 (HSV-1), penyebab utama herpes di wajah, sangat mudah menular melalui kontak langsung dengan lesi yang sedang aktif. Lesi aktif ini biasanya berupa lepuhan berisi cairan bening yang muncul di sekitar mulut, hidung, atau area wajah lainnya.
- Saat lepuhan pecah, cairan di dalamnya mengandung jumlah virus yang sangat tinggi, menjadikan momen ini sebagai fase paling menular.
- Kontak yang umum terjadi antara lain: berciuman, menyentuh wajah orang yang sedang memiliki luka herpes, atau melakukan aktivitas seksual oral.
- Risiko penularan juga meningkat jika kulit dalam kondisi terbuka atau iritasi, misalnya karena kulit kering, pecah-pecah, atau terbakar sinar matahari.
2. Penggunaan Bersama Barang Pribadi
Virus herpes di wajah juga bisa menyebar melalui benda yang terkontaminasi oleh virus HSV-1 dari penderita aktif. Barang-barang yang menjadi media penularan, antara lain:
- Handuk
- Sikat gigi
- Alat makan (sendok, garpu, gelas)
- Pisau cukur
- Lip balm atau kosmetik bibir
Virus ini bisa bertahan hidup sementara di permukaan lembab atau dingin. Jika seseorang menyentuh barang yang baru saja digunakan oleh penderita, lalu menyentuh wajahnya (terutama area mulut atau hidung), risiko infeksi meningkat secara signifikan.
3. Paparan Saliva yang Terinfeksi
Herpes di wajah juga bisa terjadi akibat paparan air liur dari orang yang terinfeksi HSV-1, bahkan jika mereka tidak menunjukkan gejala yang terlihat.
- Banyak orang membawa virus HSV-1 secara laten dan bisa menyebarkan virus meskipun tidak ada luka aktif (ini disebut viral shedding).
- Penularan bisa terjadi saat: berbagi botol minum atau alat makan, tertular droplet saat bicara atau batuk, ciuman di pipi atau bibir.
Anak-anak sangat rentan karena sistem imun mereka belum matang, dan sering terjadi kontak dekat dengan orang dewasa (misalnya, ciuman sayang dari orang tua yang tak sadar membawa virus).
Faktor Risiko Terkena Herpes di Wajah
1. Sistem Imun yang Lemah
Salah satu faktor utama yang membuat seseorang rentan terkena herpes di wajah adalah sistem imun yang lemah. Sistem kekebalan tubuh yang kuat berperan penting dalam mengendalikan virus herpes simpleks (HSV) yang telah menetap di dalam tubuh. Namun, ketika sistem imun menurun, virus yang sebelumnya tidak aktif dapat reaktif kembali dan memunculkan gejala herpes di wajah.
Kondisi yang menurunkan sistem imun antara lain:
- Penyakit kronis seperti HIV/AIDS
- Penderita kanker yang menjalani kemoterapi
- Orang yang menggunakan obat imunosupresif, seperti pasien transplantasi organ
- Lansia dengan penurunan fungsi sistem kekebalan tubuh secara alami
Virus HSV bersembunyi di dalam ganglia saraf dan tidak dapat diberantas sepenuhnya oleh sistem imun. Dalam kondisi imun lemah, virus dapat bergerak melalui saraf ke permukaan kulit, sehingga menyebabkan herpes di wajah muncul kembali.
2. Stres dan Kelelahan
Faktor psikologis dan fisik juga sangat mempengaruhi munculnya herpes di wajah. Ketika seseorang mengalami stres berat—baik secara emosional maupun fisik—terjadi pelepasan hormon stres seperti kortisol, yang dapat melemahkan respons imun tubuh.
Beberapa penyebab stres yang dapat memicu kekambuhan herpes di wajah:
- Tekanan pekerjaan
- Masalah keluarga atau hubungan sosial
- Kurang tidur
- Keletihan akibat aktivitas berlebihan
Dalam kondisi seperti ini, sistem imun kehilangan efisiensinya dalam menekan virus HSV, sehingga virus bisa aktif kembali dan memunculkan lesi atau luka herpes di wajah, terutama di sekitar mulut atau pipi.
3. Paparan Sinar Matahari Berlebih
Paparan sinar ultraviolet (UV) dari matahari dalam waktu lama dapat menjadi pemicu lain terjadinya herpes di wajah. UV menyebabkan stres oksidatif pada sel-sel kulit dan merusak lapisan pelindung alami kulit, yang dapat memicu reaktivasi virus HSV.
Situasi yang bisa meningkatkan risiko ini:
- Berjemur terlalu lama di pantai atau kolam renang
- Tidak menggunakan pelindung wajah seperti tabir surya
- Aktivitas outdoor di siang hari tanpa perlindungan
Biasanya, herpes di wajah akibat sinar UV muncul sebagai lepuhan di bibir (cold sores) atau area wajah yang terkena matahari. Oleh karena itu, penggunaan tabir surya dengan SPF tinggi sangat dianjurkan, terutama bagi individu yang memiliki riwayat herpes.
4. Trauma atau Cedera pada Wajah
Cedera fisik pada wajah, meskipun ringan, juga bisa menjadi pemicu reaktivasi virus herpes. Luka atau trauma akan merangsang saraf di sekitar area wajah, yang bisa mengganggu kestabilan virus HSV yang dorman di ganglia saraf.
Contoh bentuk trauma wajah yang memicu herpes:
- Luka cukur
- Lecet karena penggunaan masker dalam waktu lama
- Operasi kecil pada wajah
- Jerawat parah atau pecah
Mekanisme biologisnya terjadi karena saat jaringan wajah mengalami luka, sistem kekebalan terfokus untuk menyembuhkan luka tersebut, sehingga perhatian terhadap virus laten jadi berkurang. Ini membuka peluang bagi HSV untuk keluar dari saraf dan menyebabkan herpes di wajah.
Baca juga: Apa Penyebab Bercak Merah pada Kulit yang Tidak Gatal pada Orang Dewasa?
Gejala Herpes di Wajah
1. Sensasi Kesemutan atau Gatal Sebelum Lesi Muncul
Gejala awal herpes di wajah biasanya dimulai dengan sensasi kesemutan, gatal, atau terbakar di area yang akan terkena infeksi, seperti sekitar bibir, hidung, atau pipi.
- Sensasi ini disebut juga sebagai prodromal symptoms, dan biasanya muncul 1–2 hari sebelum lepuhan terlihat di permukaan kulit.
- Area tersebut bisa terasa seperti “terbakar dari dalam”, walaupun secara fisik masih tampak normal.
- Ini adalah tanda penting untuk segera memulai pengobatan antivirus agar herpes di wajah tidak berkembang lebih parah.
2. Munculnya Lepuhan Berisi Cairan
Tahap berikutnya dari herpes di wajah adalah munculnya lepuhan kecil berisi cairan jernih yang biasanya berkelompok.
- Lepuhan ini sangat menular karena cairannya mengandung jumlah virus HSV-1 yang tinggi.
- Lokasi umum lepuhan pada herpes di wajah adalah di tepi bibir (cold sore), sekitar lubang hidung, atau kadang di dagu dan pipi.
- Kulit di sekitar lepuhan akan terlihat kemerahan, meradang, dan nyeri saat disentuh.
Tahap ini adalah masa paling aktif dan menular dari herpes di wajah, sehingga penting untuk tidak menyentuh area tersebut dan menjaga kebersihan tangan.
3. Lepuhan Pecah dan Menjadi Luka Terbuka
Setelah beberapa hari, lepuhan pada herpes di wajah akan pecah secara alami, mengeluarkan cairan, lalu berubah menjadi luka terbuka.
- Luka ini biasanya terasa perih dan basah, serta bisa menyebabkan rasa tidak nyaman saat berbicara, makan, atau menyentuh wajah.
- Pada tahap ini, virus masih aktif dan risiko penularan sangat tinggi.
- Luka terbuka bisa menjadi pintu masuk bagi bakteri lain, sehingga penting untuk menjaga area tetap bersih dan tidak digaruk.
4. Pembentukan Koreng (Kerak) dan Penyembuhan
Dalam beberapa hari, luka terbuka akan mulai mengering dan membentuk koreng atau kerak tipis di atasnya.
- Koreng ini biasanya berwarna kuning kecoklatan dan bisa menimbulkan rasa gatal.
- Proses penyembuhan herpes di wajah bisa berlangsung 7–10 hari sejak gejala awal muncul.
- Selama fase ini, penting untuk tidak mengelupas koreng secara paksa, karena dapat meninggalkan bekas luka atau menyebabkan infeksi sekunder.
5. Demam dan Tidak Enak Badan
Pada beberapa kasus, terutama infeksi primer, herpes di wajah dapat disertai gejala sistemik seperti:
- Demam ringan hingga sedang
- Sakit kepala
- Kelelahan atau rasa lesu
- Nyeri otot
Gejala-gejala ini muncul karena tubuh sedang melawan infeksi virus HSV, dan biasanya berlangsung 1–3 hari.
Baca juga: Kenali Gejala dan 8 Cara Menangani Eksim
Herpes di wajah disebabkan oleh infeksi virus herpes simpleks, terutama tipe 1, yang ditularkan melalui kontak langsung dengan lesi aktif atau penggunaan bersama barang pribadi. Faktor risiko seperti sistem imun yang lemah, stres, paparan sinar matahari berlebih, dan trauma pada wajah dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi atau kekambuhan. Pencegahan melalui menjaga kebersihan pribadi, mengelola stres, dan melindungi kulit dari sinar matahari sangat penting. Pengobatan dengan antiviral dapat membantu mengelola gejala dan mengurangi frekuensi kekambuhan.
Jika Anda atau orang terkasih mengalami gejala herpes di wajah atau ingin mencegah infeksi, segera konsultasi dengan dokter. Kavacare dapat membantu Anda untuk membuat janji dengan dokter spesialis kulit terbaik di rumah sakit. Untuk meningkatkan daya tahan, juga bisa infus multivitamin dan immune booster di rumah. Informasi dan penjadwalan lebih lanjut, hubungi Kavacare Support di nomor WhatsApp 0811 1446 777.
Baca juga: Dr. Lo Kang Shang Chit: Top Dokter Spesialis Kulit di Island Hospital
Sumber:
- Fatahzadeh, M., & Schwartz, R. A. Human herpes simplex virus infections: Epidemiology, pathogenesis, symptomatology, diagnosis, and management. 2008, Mei. doi.org/10.1016/j.jaad.2007.06.020.
- Looker, K. J., Magaret, A. S., May, M. T., Turner, K. M., Vickerman, P., Newman, L. M., & Gottlieb, S. L. Global and regional estimates of prevalent and incident herpes simplex virus type 1 infections in 2012. 2015, Okt (8). doi.org/10.1371/journal.pone.0140765.
- Herpes Simplex Virus – World Health Organization. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/herpes-simplex-virus. Diakses pada 10 April 2025.
- Oral Herpes: Causes, Symptoms, & Treatment – WebMd. https://www.webmd.com/a-to-z-guides/oral-herpes. Diakses pada 10 April 2025.

