Demensia Vaskular Mengenal Penyebab Gejala dan Cara Pencegahan

Demensia Vaskular: Mengenal Penyebab, Gejala dan Cara Pencegahan

Demensia vaskular adalah gangguan fungsi otak akibat gangguan aliran darah ke otak, yang terhambat, menyebabkan sel-sel otak kekurangan oksigen dan nutrisi. Kondisi ini sering terjadi setelah stroke atau akibat penyempitan pembuluh darah kecil di otak, misalnya karena multipel sklerosis atau iskemia. Berbeda dari Alzheimer yang dipicu oleh perubahan protein otak, demensia vaskular berhubungan langsung dengan kesehatan pembuluh darah. Gejalanya meliputi penurunan daya ingat, sulit fokus, dan gangguan berpikir. Karena sering terjadi pada usia lanjut dengan riwayat penyakit cerebrovaskular, demensia vaskular dapat dicegah dengan menjaga tekanan darah, kolesterol, gula darah, serta menerapkan pola hidup sehat sejak dini. 

Gejala Demensia Vaskular 

Gejala demensia vaskular bisa bervariasi tergantung bagian otak yang terkena dan tingkat kerusakan yang terjadi. Namun secara umum, tanda-tanda yang sering muncul antara lain:

1. Penurunan Daya Ingat Jangka Panjang 

Penderita demensia vaskular sering kali kesulitan mengingat hal-hal yang baru saja terjadi, seperti percakapan yang berlangsung beberapa menit lalu atau di mana mereka meletakkan barang. Namun, ingatan jangka panjang seperti kejadian masa lalu biasanya masih relatif utuh pada tahap awal. Hal ini terjadi karena bagian otak yang berperan dalam pembentukan memori baru mengalami gangguan akibat kurangnya aliran darah.

2. Sulit Fokus atau Memperhatikan Sesuatu 

Demensia vaskular dapat mengganggu kemampuan seseorang untuk berkonsentrasi dalam waktu lama. Penderita mungkin mudah terdistraksi, sulit menyelesaikan tugas sederhana, atau kehilangan perhatian saat berbicara. Hal ini disebabkan oleh terganggunya jaringan otak yang mengatur kemampuan fokus dan perhatian.

Baca juga: Demensia Onset Dini: Pikun di Usia Muda, Mungkinkah?

3. Gangguan Perencanaan dan Pengambilan Keputusan

Bagian otak depan (lobus frontal) berperan dalam membuat rencana dan mengambil keputusan. Ketika aliran darah ke area ini terganggu, penderita demensia vaskular sering mengalami kesulitan mengorganisasi aktivitas sehari-hari, seperti mengatur jadwal, mengelola keuangan, atau membuat keputusan sederhana. Akibatnya, penderita menjadi sangat bergantung pada bantuan orang lain.

4. Perubahan Suasana Hati, Seperti Mudah Marah atau Depresi

Kerusakan pada jaringan otak yang mengatur emosi dapat menyebabkan perubahan suasana hati yang drastis. Penderita demensia vaskular mungkin tampak lebih mudah marah, cepat tersinggung, atau tiba-tiba merasa sedih tanpa alasan jelas. Kondisi ini juga sering disertai depresi dan kehilangan motivasi untuk melakukan aktivitas yang sebelumnya disukai.

5. Gangguan Berjalan, Refleks Menurun, atau Kehilangan Keseimbangan

Selain memengaruhi fungsi berpikir, demensia vaskular juga bisa berdampak pada kemampuan motorik. Penderita mungkin berjalan dengan langkah kecil dan lambat, sering kehilangan keseimbangan, atau mengalami refleks tubuh yang melemah. Gejala ini biasanya terjadi karena kerusakan pembuluh darah kecil pada area otak yang mengontrol gerakan dan koordinasi tubuh.

6. Sulit Berbicara atau Memahami Percakapan

Demensia vaskular dapat mengganggu kemampuan berbahasa, baik dalam berbicara maupun memahami perkataan orang lain. Penderita mungkin sering berhenti di tengah kalimat, lupa kata-kata umum, atau tidak memahami instruksi sederhana. Hal ini disebabkan oleh gangguan pada bagian otak yang berfungsi mengatur bahasa dan komunikasi.

Penyebab dan Faktor Risiko Demensia Vaskular 

Penyebab utama demensia vaskular adalah kerusakan pembuluh darah otak akibat aliran darah yang tidak lancar. Beberapa kondisi yang meningkatkan risikonya meliputi:

1. Stroke atau Mini-Stroke (Transient Ischemic Attack/TIA)

Stroke atau TIA terjadi ketika aliran darah ke bagian otak tersumbat sementara. Stroke merupakan salah satu penyebab paling umum dari demensia vaskular, terutama bila terjadi berulang kali atau melibatkan pembuluh darah besar di otak. Sedangkan TIA, meski gejalanya dapat pulih dalam waktu singkat, setiap kali TIA terjadi, sel-sel otak bisa mengalami kerusakan permanen. Akumulasi kerusakan kecil ini dalam jangka panjang dapat mengganggu kemampuan otak dalam berpikir, mengingat, dan mengatur emosi. 

2. Tekanan Darah Tinggi (Hipertensi)

Hipertensi yang tidak terkontrol dapat merusak dinding pembuluh darah, terutama yang di otak. Dalam jangka panjang, tekanan darah tinggi membuat pembuluh menjadi kaku, menebal, dan mudah pecah. Akibatnya, suplai oksigen ke jaringan otak berkurang dan memicu kematian sel-sel saraf. Hipertensi juga meningkatkan risiko stroke kecil (silent stroke), yang sering kali tidak disadari namun berkontribusi besar terhadap perkembangan demensia vaskular.

3. Kolestrol Tinggi 

Kadar kolesterol yang tinggi menyebabkan penumpukan plak lemak di dinding pembuluh darah (aterosklerosis). Plak ini menyempitkan dan menghambat aliran darah ke otak. Bila pembuluh tersumbat total, area otak di sekitarnya bisa mati akibat kekurangan oksigen. Kondisi ini mempercepat penurunan fungsi otak dan memperbesar risiko seseorang mengalami demensia vaskular.

4. Diabetes Mellitus

Penderita diabetes memiliki kadar gula darah tinggi yang dapat merusak pembuluh darah kecil di seluruh tubuh, termasuk di otak. Gula yang berlebihan membuat dinding pembuluh menjadi rapuh dan menyebabkan peradangan. Selain itu, diabetes meningkatkan risiko aterosklerosis dan hipertensi, dua kondisi yang memperburuk sirkulasi darah otak. Karena itu, pengendalian kadar gula darah menjadi langkah penting dalam mencegah demensia vaskular.

5. Merokok dan Konsumsi Alkohol Berlebih

Kandungan nikotin dan karbon monoksida pada rokok mempersempit pembuluh darah, menurunkan kadar oksigen dalam darah, dan mempercepat kerusakan jaringan otak. Sementara konsumsi alkohol berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah dan kadar lemak dalam darah, yang memperburuk kesehatan vaskular. Kombinasi keduanya mempercepat proses penuaan pembuluh darah dan meningkatkan risiko demensia vaskular secara signifikan.

6. Obesitas dan Kurang Aktivitas Fisik

Kelebihan berat badan menyebabkan tekanan ekstra pada sistem kardiovaskular, meningkatkan risiko hipertensi, diabetes, dan kolesterol tinggi — tiga faktor utama penyebab demensia vaskular. Kurang gerak juga memperlambat sirkulasi darah dan metabolisme otak, sehingga suplai oksigen dan nutrisi ke sel saraf menjadi tidak optimal. Menjaga berat badan ideal melalui olahraga teratur sangat penting untuk menjaga kesehatan otak dan pembuluh darah.

Baca juga: Rumah Ramah Pasien Demensia, Bagaimana Menciptakannya?

Pencegahan Demensia Vaskular 

Meskipun tidak semua faktor risiko bisa dihindari, gaya hidup sehat dapat menurunkan kemungkinan terjadinya demensia vaskular secara signifikan. Berikut beberapa langkah pencegahan yang dapat dilakukan, antara lain: 

1. Kontrol Tekanan Darah Secara Rutin

Tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol dalam jangka waktu tertentu, merupakan salah satu penyebab utama terjadinya kerusakan pembuluh darah otak yang berujung pada demensia vaskular. Ketika tekanan darah terlalu tinggi dalam waktu lama, dinding pembuluh menjadi kaku dan mudah pecah, sehingga mengganggu aliran darah ke otak. Pemeriksaan tekanan darah sebaiknya dilakukan minimal satu kali setiap bulan, terutama bagi usia di atas 40 tahun. Jika ditemukan tekanan darah tinggi, segera konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan pengobatan dan pengaturan gaya hidup yang sesuai.

2. Jaga Kadar Gula Darah Tetap Normal

Kadar gula darah yang tidak terkontrol menyebabkan pembuluh darah kecil di otak rusak dan menghambat suplai oksigen ke jaringan otak. Penderita diabetes memiliki risiko dua kali lipat mengalami demensia vaskular dibandingkan orang tanpa diabetes. Untuk mencegah hal ini, penting menjaga kadar gula dengan pola makan sehat, membatasi konsumsi karbohidrat sederhana, dan melakukan olahraga rutin. Pemeriksaan HbA1c setiap 3–6 bulan juga membantu memantau kestabilan gula darah jangka panjang.

3. Batasi Konsumsi Makanan Tinggi Lemak dan Kolesterol

Kolesterol tinggi dapat membentuk plak lemak di dinding pembuluh darah yang akhirnya menyumbat aliran darah ke otak. Plak ini menyebabkan jaringan otak kekurangan oksigen dan nutrisi, mempercepat terjadinya demensia vaskular. Batasi makanan seperti gorengan, daging merah berlemak, mentega, dan produk olahan tinggi lemak. Sebagai gantinya, pilih lemak sehat dari minyak zaitun, alpukat, atau ikan laut yang kaya omega-3 untuk menjaga kelenturan pembuluh darah.

4. Berhenti Merokok dan Hindari Alkohol Berlebih

Merokok mempersempit pembuluh darah dan menurunkan kadar oksigen dalam darah, sehingga suplai oksigen ke otak menjadi terganggu. Sementara alkohol berlebih dapat meningkatkan tekanan darah dan merusak hati, yang berdampak pada metabolisme lemak serta kolesterol dalam tubuh. Kombinasi keduanya mempercepat proses penuaan pembuluh darah otak. Menghentikan kebiasaan merokok dan membatasi alkohol terbukti mampu memperlambat perkembangan kerusakan otak vaskular.

6. Lakukan Aktivitas Fisik Secara Teratur

Olahraga membantu meningkatkan aliran darah ke otak, memperkuat jantung, dan menurunkan tekanan darah. Aktivitas fisik seperti jalan kaki cepat selama 30 menit per hari, berenang, atau bersepeda dapat menjaga elastisitas pembuluh darah dan memperbaiki metabolisme tubuh. Selain itu, olahraga juga merangsang produksi zat kimia otak yang mendukung pertumbuhan sel saraf baru, membantu mencegah penurunan fungsi kognitif akibat demensia vaskular.

7. Konsumsi Makanan Sehat Otak

Makanan berperan penting dalam menjaga kesehatan pembuluh darah dan fungsi otak. Konsumsi sayuran hijau seperti bayam dan brokoli, buah beri kaya antioksidan, ikan berlemak tinggi omega-3, kacang-kacangan, serta biji-bijian dapat menurunkan peradangan dan melindungi sel otak dari kerusakan. Nutrisi seperti vitamin E, folat, dan asam lemak tak jenuh juga mendukung regenerasi sel otak. Dengan mengadopsi pola makan seperti Mediterranean atau MIND diet, risiko demensia vaskular bisa ditekan secara signifikan.

8. Tidur Cukup dan Kelola Stres

Tidur cukup sangat penting bagi proses pemulihan dan pembersihan racun di otak. Saat tidur, otak melakukan regenerasi sel dan memperbaiki jaringan yang rusak akibat stres oksidatif. Kurang tidur dapat meningkatkan tekanan darah, kadar gula, dan risiko stroke yang semuanya berkaitan dengan demensia vaskular. Selain tidur 7–8 jam per malam, penting juga mengelola stres melalui meditasi, olahraga ringan, atau kegiatan yang menyenangkan agar hormon stres seperti kortisol tidak meningkat dan merusak pembuluh darah otak.

Baca juga: Perawatan Pribadi di Rumah 

Demensia vaskular adalah penurunan fungsi otak akibat gangguan aliran darah yang sebenarnya bisa dicegah sejak dini. Menjaga tekanan darah, gula, dan kolesterol, berhenti merokok, berolahraga rutin, serta menerapkan pola makan sehat otak dapat menurunkan risikonya. Dengan gaya hidup seimbang dan pemeriksaan medis teratur, otak dapat tetap sehat dan berfungsi optimal hingga usia lanjut.

Kavacare siap membantu Anda menjaga kesehatan otak dan mencegah demensia vaskular melalui layanan konsultasi medis, pemeriksaan neurologi, dan pendampingan gizi di bawah pengawasan dokter spesialis terbaik di rumah sakit. Bila Anda ingin lebih proaktif, kami bisa memilihkan paket-paket medical check up berfokus pada kesehatan otak. Untuk informasi lebih lanjut, hubungi Kavacare Support di nomor WhatsApp 0811 1446 777. Jangan menunggu gejala muncul, cegah demensia vaskular sejak sekarang untuk hidup yang lebih mandiri dan berkualitas.

Sumber: 

  1. Vascular Dementia: Causes, Symptoms, and Treatments – National Institute on Aging. https://www.nia.nih.gov/health/vascular-dementia/vascular-dementia-causes-symptoms-and-treatments. Diakses pada 6 Oktober 2025. 
  2. Dementia – World Health Organization. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/dementia. Diakses pada 6 Oktober 2025. 
  3. Prof John T O’Brien, DM,  Prof Alan Thomas, PhD. Vascular Dementia. 2015, 1698–1706. doi.org/10.1016/S0140-6736(15)00463-8. 

 

Artikel ini telah direview oleh

Dr. Eddy Wiria, PhD

Co-Founder & CEO Kavacare