Mengenal Lecanemab Obat Baru yang Bisa Menghambat Perkembangan Alzheimer Disease di Masa Awal Kavacare

Mengenal Lecanemab Obat Baru yang Bisa Menghambat Perkembangan Alzheimer Disease di Masa Awal

Banyak orang yang sudah pernah mendengar kata pikun dan lebih sedikit yang pernah mendengar tentang penyakit Alzheimer (AD). Penyakit Alzheimer merupakan penyakit neurodegeneratif yang menyebabkan kemunduran fungsi penderitanya secara progresif, termasuk menyebabkan demensia hingga kondisi terminal, ketika fungsi tubuhnya tidak lagi bisa berlangsung baik. Demensia akibat Alzheimer adalah mayoritas dari kasus demensia, lebih banyak dari demensia vaskular yang sekitar 15-20%, demensi lewy body, dan fronto-temporal demensia. Gejala awal sering kali tidak disadari, namun dalam perkembangan penyakitnya, seseorang yang mengalami Alzheimer dapat mengalami kesulitan mengingat kejadian terkini, ada gangguan bahasa, disorientasi (termasuk mudah tersesat), perubahan suasana hati, kehilangan motivasi, mengabaikan diri sendiri, dan masalah perilaku. Seseorang dengan penyakit Alzheimer juga sering kali menarik diri dari keluarga dan masyarakat. Secara bertahap, fungsi tubuh hilang, yang akhirnya menyebabkan kematian. Meskipun kecepatan perkembangannya dapat bervariasi, harapan hidup rata-rata setelah diagnosis adalah tiga hingga dua belas tahun.

Karena efek dari Alzheimer imunoterapi terhadap amiloid-beta (Aβ) merupakan pilihan yang menjanjikan untuk pengobatan penyakit Alzheimer (AD). Aβ hadir dalam berbagai kelompok, termasuk monomer, oligomer, protofibril, dan fibril yang tidak larut dalam plak. Komponen-komponen ini, seperti oligomer dan protofibril telah terbukti bersifat toksik, dan penghilangan agregat ini dapat menjadi pengobatan yang efektif untuk AD. Banyak peneliti yang berusaha mengkarakterisasi sifat pengikatan lecanemab, aducanumab, dan gantenerumab terhadap berbagai spesies Aβ dengan ELISA penghambatan, imunodeplesi, dan resonansi plasmon permukaan. Bukti-bukti menunjukkan bahwa ketiga antibodi tersebut mengikat monomer dengan afinitas rendah. Lecanemab dan aducanumab memiliki ikatan yang sangat lemah terhadap monomer, dan gantenerumab memiliki ikatan yang agak lebih kuat. Lecanemab bersifat khas karena memiliki ikatan sepuluh kali lebih kuat terhadap protofibril dibandingkan dengan fibril. Sedangkan, aducanumab dan gantenerumab lebih menyukai ikatan terhadap fibril daripada protofibril. Profil pengikatan yang berbeda dari lecanemab, aducanumab, dan gantenerumab yang dapat menjelaskan hasil klinis yang diamati untuk antibodi ini mengenai kemanjuran dan efek samping.

Tahun 2024 kemarin dikenalkan obat baru untuk Alzheimer yaitu Lecanemab yang dikenal dengan merek Leqembi buatan dari Eisai. Lecanemab adalah antibodi yang diberikan secara intravena selama periode tertentu dengan tujuan menghapuskan beta-amyloid(Aβ) dari otak. Saran pengobatannya adalah diberikan setiap 2 minggu selama 1,5 tahun. Obat ini diindikasikan sebagai terapi kondisi Alzheimer awal, juga bagi mereka yang mengalami gangguan kognitif ringan atau demensia ringan yang terbukti mengalami  peningkatan kadar beta-amyloid di otak, yang terdeteksi dengan PET Scan. Dengan mengurangi jumlah beta-amyloid, bisa menghambat penurunan fungsi kognitif sehingga bisa memberikan kesempatan bagi mereka yang terkena Alzheimer untuk beraktivitas senormal dan semandiri mungkin lebih lama.

Untuk saat ini, Lecanemab adalah satu-satunya antibodi monoklonal Aβ yang disetujui yang secara khusus mengikat dan membersihkan protofibril toksik (agregat Aβ yang larut), selain menargetkan dan mengurangi plak Aβ (agregat Aβ yang tidak larut). Protofibril adalah bentuk utama Aβ yang beracun yang terakumulasi di otak dan menyebabkan cedera neuronal.

Gangguan kognitif ringan akibat Penyakit Alzheimer (AD) dan demensia AD saat ini masing-masing memengaruhi puluhan juta orang di dunia, sekitar 15,2 juta dan 6,9 juta orang di Eropa dan mungkin juga dengan proporsi yang juga besar di Indonesia, walaupun data persisnya belum ada. Menurut Yayasan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI (Yankes Kemkes), Prevalensi penyakit demensia Alzheimer di Indonesia sekitar 27,9% dari 4,2 juta penduduk Indonesia yang menderita demensia. Alzheimer’s Association melaporkan bahwa pada tahun 2021, penyakit Alzheimer merupakan penyebab kematian terbanyak kelima diantara orang berusia 65 tahun ke atas. AD berkembang dalam beberapa tahap yang tingkat keparahannya meningkat seiring waktu, dan setiap tahap penyakit menghadirkan tantangan yang berbeda bagi mereka yang hidup dengan AD dan caregiver mereka. Ada kebutuhan yang signifikan yang belum terpenuhi untuk pilihan pengobatan baru yang memperlambat perkembangan AD dari tahap awal dan mengurangi beban keseluruhan pada orang yang terkena AD dan masyarakat.

Saat ini Lecanemab disetujui di Amerika Serikat, Uni Eropa, Korea, Cina dan Singapura. Biayanya per tahun sekitar 26500 dolar Amerika atau sekitar 450-500 juta rupiah per tahun. Bukan obat yang murah. Namun diharapkan bisa memberikan waktu 1-2 tahun lebih lama sebelum perburukkan fungsi.  Belum tahu juga apakah bila disetujui di Indonesia, seberapa banyak anggota masyarakat yang bisa menikmati penggunaan obat ini untuk ‘membeli’ waktu ‘sehat’ lebih lama.

Pilihan obat ini tentu bisa mendatangkan harapan bagi banyak orang. Walaupun di sisi lain, juga perlu diperhatikan risiko-risiko efek samping yang mungkin muncul 

Artikel lengkapnya bisa dibaca di:

  1. van Dyck CH, Swanson CJ, Aisen P, Bateman RJ, Chen C, Gee M, Kanekiyo M, Li D, Reyderman L, Cohen S, Froelich L, Katayama S, Sabbagh M, Vellas B, Watson D, Dhadda S, Irizarry M, Kramer LD, Iwatsubo T. Lecanemab in Early Alzheimer’s Disease. N Engl J Med. 2023;388(1):9-21. doi: 10.1056/NEJMoa2212948. 
  2. Reardon S. FDA approves Alzheimer’s drug lecanemab amid safety concerns. Nature. 2023;613(7943):227-228. doi: 10.1038/d41586-023-00030-3. 
  3. Söderberg L, Johannesson M, Nygren P, Laudon H, Eriksson F, Osswald G, Möller C, Lannfelt L. Lecanemab, Aducanumab, and Gantenerumab – Binding Profiles to Different Forms of Amyloid-Beta Might Explain Efficacy and Side Effects in Clinical Trials for Alzheimer’s Disease. Neurotherapeutics. 2023;20(1):195-206. doi: 10.1007/s13311-022-01308-6.