Sampai di Mana Pengembangan Terapi Imun Terhadap Kanker Homecare Kavacare

Sampai di Mana Pengembangan Terapi Imun Terhadap Kanker?

Penyakit kanker masih menjadi sumber ketakutan bagi banyak orang sejak bertahun-tahun lamanya. Kabar baiknya, semakin banyak terapi kanker yang berhasil ‘menyembuhkan’, memulihkan dan mengontrol perkembangan kanker di dalam tubuh penderitanya. Banyak penderita kanker juga bisa hidup bertahun-tahun lamanya, seperti seakan-akan normal tanpa penyakit kanker. 

Salah satu dari pengembangangan terapi kanker yang berkembang pesat dalam imunoterapi. Imunoterapi kanker, yang mencakup terapi eksperimental dan standar, telah muncul sebagai pendekatan yang menjanjikan untuk memanfaatkan sistem imun dalam supresi tumor. Strategi eksperimental, termasuk imunoterapi baru dan model praklinis, sedang dieksplorasi secara aktif. Sementara itu, pengobatan yang telah mapan, seperti inhibitor titik pemeriksaan imun (ICI), telah diterapkan secara luas dalam pengaturan klinis.  Sejak akhir abad 19 penelitian penemuan toksin Coley dan pengembangan vaksin cacar oleh Edward Jenner pada tahun 1796 terus berkembang dan tahun 1960-an dan 1970-an tedapat kemajuan dengan terapi bakteri Bacillus Calmette-Guérin (BCG) yang dapat meningkatkan respons imun; termasuk pengenalan interferon (IFN) pada tahun 1980-dan IFNα−2b yang dapat meningkatkan tingkat kelangsungan hidup pasien dengan melanoma. Robert Schreiber juga mengenalkan peran ganda sistem imun dalam eliminasi dan evolusi tumor.

Zhang et al dengan detil merangkum evolusi historis, mekanisme yang mendasari, dan beragam strategi imunoterapi kanker, menyoroti aplikasi klinis dan kemajuan praklinis yang sedang berlangsung. Tulisan tim dari Harbin Medical University Cancer Hospital, Harbin, di Cina ini . Mendalami komponen-komponen penting imunitas antikanker, termasuk aktivasi sel dendritik, priming sel T, dan surveilans imun, sekaligus mengatasi tantangan yang ditimbulkan oleh mekanisme penghindaran imun. Berbagai strategi digunakan dalam imunoterapi kanker untuk meningkatkan respons imun terhadap tumor, termasuk perkembangan vaksin kanker, virus onkolitik, transfer sel adoptif, dan ICI; terapi kombinasi yang mengintegrasikan imunoterapi dengan radioterapi atau kemoterapi; serta peran nanoteknologi, sitokin, dan kemokin dalam meningkatkan presisi dan efikasi imunoterapi.

Faktor-faktor baru yang memengaruhi luaran imunoterapi, termasuk heterogenitas tumor, komposisi mikrobiota usus, serta modifikasi genomik dan epigenetik, juga diteliti. Mereka juga menekankan bahwa mekanisme molekuler yang mendasari penghindaran imun dan resistensi terapeutik dianalisis, dengan fokus pada kontribusi RNA noncoding dan perubahan epigenetik, beserta strategi intervensi inovatif sangat berpengaruh pada opsi-opsi terapi yang akan terus dikembangkan. Peran dari kemajuan penelitian praklinis dan klinis terkini, dengan perhatian khusus pada pendekatan berbasis biomarker yang bertujuan mengoptimalkan prognosis pasien juga diangkat oleh mereka.

Beberapa hal yang menjadi tantangan pengobatan secara imunoterapi seperti toksisitas imunoterapi, keterbatasan pada tumor padat, dan kendala produksi disorot sebagai area kritis untuk penelitian di masa mendatang. Walaupun begitu, kemajuan dalam terapi personalisasi di bidang imunoterapi dapat meningkatkan efektivitas dan aksesibilitas pengobatan. 

Secara singkat ada beberapa hal yang diangkat khusus di tulisan tim ini: 

Limfodeplesi dan transfer sel adoptif: meningkatkan efektivitas terapi transfer sel adoptif (ACT) dalam pengobatan kanker sejalan dengan meningkatkan umur sel yang diinfus dan krusial untuk efikasi terapeutik; termasuk hasil positif pada regresi kanker, manfaat pada pasien dengan imunosupresi pasca transplantasi, juga  peningkatan efikasi dalam terapi sel CAR-T untuk keganasan hematologi.

Gambar CTLA-4 Homecare Kavacare

Immune Checkpoint Inhibitors (ICIs) telah menunjukkan keberhasilan yang terbatas dalam uji klinis, antara lain Ipilimumab, yang menargetkan CTLA-4, telah disetujui FDA untuk melanoma metastasis, sementara tremelimumab telah gagal dalam uji klinis fase akhir. Inducible T-cell COStimulator (ICOS) meningkatkan efikasi terapi anti-CTLA-4 dengan meningkatkan populasi sel T CD4+. Ada lagi, Cadonilimab, suatu antibodi bispesifik yang menargetkan PD-1 dan CTLA-4. Antibodi ini telah  menunjukkan peningkatan respons imun yang moderat sayangnya dengan respons yang terbatas.

Gambar IFN α dan IL 2 Homecare Kavacare

Di tulisan Zhang et al juga dibahas mengenai mekanisme disfungsi sel T pada tumor, yang ditandai dengan kelelahan dan gangguan respons imun, melalui paparan antigen kronis dan stimulus inflamasi. Selain itu dibahas peran sitokin dalam imunoterapi dalam mengatur respons imun dan meningkatkan efikasi pengobatan kanker. IFN-α dan IL-2 adalah sitokin pertama yang disetujui FDA untuk terapi kanker. Temuan lain seperti IL-15 serta agonis IL-15 menunjukkan potensi dalam kombinasi dengan terapi lain, seperti nivolumab.

Imunoterapi yang dipersonalisasi juga semakin berkembang misalnya identifikasi neoantigen, yang unik untuk sel kanker, untuk target utama terapi yang dipersonalisasi.

Masih banyak lagi hal yang dibahas dalam artikel yang terbit di jurnal bergengsi Molecular Cancer bulan Mei 2025 lalu yang memberikan harapan terapi yang lebih dipersonalisasi dan mengaktifkan sistem imun sendiri dalam melawat sel-sel kanker. Pemahaman yang lebih baik dari mekanisme dasar termasuk pengembangan antibodi, pendekatan berdasarkan peptida tertentu, penggunaan antigen spesifik tumor untuk target vaksin kanker serta target terapi genetik, dan nano partikel sangatlah memberi harapan bagi para penderita kanker dan juga tenaga medis yang berjuang bersama mereka. Tentunya perlu pengembangan antisipasi dari kemungkinan-kemungkinan efek samping atau akibat yang tidak diinginkan akibat modifikasi sistem imun yang bisa berakibat serius.

Artikel lengkapnya: 

Advances in cancer immunotherapy: historical perspectives, current developments, and future directions. Zhang et al. Molecular Cancer. 2025 https://doi.org/10.1186/s12943-025-02305-x

 

Artikel ini telah direview oleh

Dr. Eddy Wiria, PhD

Co-Founder & CEO Kavacare