Gangguan makan pada remaja adalah masalah kesehatan mental yang bisa berdampak serius pada tubuh, emosi, dan kehidupan sosial seorang remaja. Karena gangguan makan pada remaja tidak selalu “terlihat” dari berat badan, orang tua dan remaja sering terlambat menyadari. Kabar baiknya, gangguan makan ini dapat ditangani semakin cepat dibantu, biasanya semakin baik hasilnya.
Cara Mengatasi Gangguan Makan pada Remaja
1. Kenali Bentuk dan Tanda Awalnya
Gangguan makan pada remaja bisa berupa pola restriksi makan, binge eating (makan berlebihan), atau perilaku kompensasi (mis. memuntahkan makanan/laksatif/olahraga berlebihan). Tanda yang patut diwaspadai pada gangguan makan pada remaja antara lain: takut berat badan naik berlebihan, menghindari makan bersama, pola makan makin “kaku”, sering ke kamar mandi setelah makan, perubahan mood, mudah lelah, pusing, atau keluhan pencernaan yang berulang.
2. Fokus pada Keselamatan Dulu (Bukan Debat Soal “Makan Saja”)
Jika Anda mencurigai gangguan makan pada anak Anda, hindari komentar yang menghakimi (“kamu kurang bersyukur”, “tinggal makan kok susah”). Gunakan kalimat empatik: “Aku perhatiin kamu makin stres soal makan dan bentuk badan. Aku sayang kamu, kita cari bantuan bareng ya.” Langkah ini penting karena gangguan makan sering berkaitan dengan kecemasan, perfeksionisme, atau rasa tidak aman.
3. Minta Penilaian Profesional Sedini Mungkin
Penanganan gangguan makan idealnya melibatkan tim: dokter (untuk cek kondisi fisik), psikolog/psikiater (untuk terapi), dan ahli gizi (untuk pemulihan pola makan). Evaluasi medis perlu dilakukan untuk menilai risiko dehidrasi, gangguan elektrolit, atau masalah jantung ini alasan kenapa gangguan makan pada remaja tidak boleh dianggap “fase”.
4. Terapi yang Umum Digunakan dan Terbukti Membantu
Pendekatan psikoterapi seperti CBT/CBT-E sering digunakan dalam perawatan gangguan makan (misalnya membantu mengubah pola pikir “nilai diri = angka timbangan”, dan melatih coping skill saat stres). Untuk anak dan remaja, terapi berbasis keluarga juga banyak direkomendasikan, karena dukungan rumah sangat memengaruhi pemulihan gangguan makan pada remaja.
5. Bangun “Lingkungan Pemulihan” di Rumah dan Sekolah
Agar gangguan makan lebih cepat membaik, rapikan pemicunya:
- Kurangi obrolan soal diet/berat badan di rumah.
- Hindari “polisi makanan” (mengawasi dengan marah), ganti dengan struktur makan yang tenang.
- Batasi konten media sosial yang memicu body checking/standar tubuh tidak realistis karena pada gangguan makan pada remaja, paparan seperti ini bisa memperburuk. Dukungan dari wali kelas/BK juga bisa membantu menurunkan stres akademik yang sering ikut mendorong gangguan makan pada remaja.
Baca juga: Bagaimana Gejala Darah Rendah pada Remaja? Kenali juga Penyebabnya
Komplikasi Serius Akibat Gangguan Makan pada Remaja
Jika tidak ditangani sejak dini, gangguan makan pada remaja dapat menimbulkan berbagai komplikasi serius yang memengaruhi kesehatan fisik, mental, dan perkembangan jangka panjang.
1. Kekurangan Gizi dan Gangguan pada Pertumbuhan
Gangguan makan pada remaja dapat menyebabkan tubuh kekurangan energi, protein, vitamin, dan mineral penting. Dampaknya antara lain berat badan tidak sesuai usia, pertumbuhan terhambat, daya tahan tubuh menurun, serta remaja menjadi mudah sakit dan cepat lelah.
Baca juga: Menu Sehat Anak Stunting 2 Tahun: Solusi Gizi Seimbang untuk Tumbuh Kembang Optimal
2. Gangguan Hormon dan Kesehatan Reproduksi
Pada remaja perempuan, gangguan makan pada remaja sering mengakibatkan siklus menstruasi tidak teratur bahkan berhenti (amenore). Ketidakseimbangan hormon ini juga dapat memengaruhi perkembangan pubertas dan berisiko mengganggu kesuburan di masa depan.
3. Masalah Jantung dan Tekanan Darah
Asupan nutrisi yang tidak mencukupi akibat gangguan makan pada remaja dapat mengganggu keseimbangan elektrolit tubuh. Kondisi ini berisiko menyebabkan denyut jantung tidak teratur, tekanan darah rendah, pusing, hingga pingsan, yang berbahaya bila tidak segera ditangani.
4. Penurunan Kepadatan Tulang
Gangguan makan pada remaja dapat menghambat pembentukan massa tulang yang optimal. Akibatnya, tulang menjadi lebih rapuh dan risiko osteoporosis atau patah tulang di usia dewasa meningkat.
5. Gangguan Pencernaan
Remaja dengan gangguan makan sering mengalami sembelit, nyeri perut, kembung, atau refluks asam lambung. Pola makan yang ekstrem dapat mengganggu fungsi normal sistem pencernaan dalam jangka panjang.
Baca juga: Kapsul Endoskopi: Solusi Canggih untuk Diagnosa Saluran Pencernaan
6. Dampak Psikologis dan Sosial
Selain fisik, gangguan makan pada remaja juga berdampak pada kesehatan mental. Remaja dapat mengalami kecemasan berlebih, depresi, menarik diri dari lingkungan sosial, serta penurunan konsentrasi dan prestasi akademik. Kondisi ini bisa memperburuk kualitas hidup bila tidak ditangani secara menyeluruh.
Gangguan makan pada remaja merupakan kondisi serius yang tidak hanya memengaruhi pola makan, tetapi juga berdampak besar pada kesehatan fisik, mental, dan perkembangan jangka panjang remaja. Dengan mengenali tanda awal, memahami risikonya, serta memberikan dukungan dan penanganan yang tepat sejak dini, gangguan makan pada remaja dapat ditangani dengan lebih efektif dan peluang pemulihan menjadi lebih baik.
Jika Anda sebagai orang tua atau keluarga merasa khawatir terhadap kondisi makan dan kesehatan mental anak, Kavacare siap membantu. Melalui layanan konsultasi medis, pendampingan psikologis, hingga koordinasi dengan dokter dan ahli gizi, Kavacare mendukung penanganan gangguan makan pada remaja secara aman, profesional, dan terintegrasi. Hubungi Kavacare Support di nomor WhatsApp 0811-1446-777.
Sumber:
- Eating Disorders – National Institute of Mental Health (NIMH). https://www.nimh.nih.gov/health/topics/eating-disorders. Diakses pada 12 Desember 2025.
- Eating Disorders – American Psychiatric Association (APA). https://www.psychiatry.org/patients-families/eating-disorders/what-are-eating-disorders. Diakses pada 12 Desember 2025.
- Eating Disorders: Recognition and Treatment – National Library of Medicine. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/28654225/. Diakses pada 12 Desember 2025.

