Apa Itu Penyakit Hashimoto dan Bagaimana Cara Mengatasinya Homecare Kavacare

Apa Itu Penyakit Hashimoto dan Bagaimana Cara Mengatasinya?

Penyakit hashimoto yang lebih dikenal dalam dunia medis sebagai hashimoto’s thyroiditis, adalah salah satu penyebab tersering gangguan kelenjar tiroid. Kondisi ini termasuk penyakit autoimun, di mana sistem kekebalan tubuh justru menyerang kelenjar tiroid sendiri sehingga menyebabkan peradangan kronis. Akibatnya, produksi hormon tiroid menurun dan berujung pada hipotiroidisme. Artikel ini akan membahas secara menyeluruh tentang penyakit hashimoto , mulai dari gejala, penyebab, faktor risiko, hingga cara penanganannya. 

Penyebab Penyakit Hashimoto 

Penyakit hashimoto disebabkan oleh reaksi autoimun, di mana sistem kekebalan tubuh menyerang kelenjar tiroid. Ada beberapa faktor risiko yang membuat seseorang lebih rentan mengalami kondisi ini, antara lain:

1. Riwayat Keluarga dengan Penyakit Autoimun 

Orang yang memiliki anggota keluarga dengan penyakit autoimun, seperti diabetes tipe 1, lupus, rheumatoid arthritis, atau penyakit hashimoto sendiri memiliki risiko lebih tinggi. Hal ini menunjukkan adanya peran genetik yang kuat. Jika salah satu orang tua atau saudara kandung pernah mengalami gangguan autoimun, peluang seseorang untuk mengalami penyakit hashminoto juga meningkat secara signifikan.

2. Jenis Kelamin Perempuan 

Statistik menunjukkan bahwa perempuan lebih rentan terkena penyakit hashminoto dibanding pria, dengan perbandingan sekitar 7–10 kali lebih tinggi. Hal ini diduga berkaitan dengan pengaruh hormon estrogen yang dapat memengaruhi sistem imun, serta perubahan hormonal besar seperti menstruasi, kehamilan, dan menopause yang dapat memicu respons autoimun.

3. Usia Paruh Baya 

Meskipun penyakit hashimoto bisa muncul pada usia berapa saja, kondisi ini paling sering didiagnosis pada orang berusia antara 30 hingga 50 tahun. Pada rentang usia ini, perubahan metabolisme dan kekebalan tubuh bisa semakin menonjol, sehingga memicu terjadinya peradangan tiroid. Namun, bukan berarti kelompok usia muda atau lansia tidak bisa terkena hanya saja risikonya lebih besar di usia paruh baya.

4.  Paparan Radiasi atau Kelebihan Yodium

Paparan radiasi, baik dari lingkungan kerja (misalnya pekerja medis yang sering berhubungan dengan radiologi) maupun akibat bencana nuklir, dapat merusak jaringan tiroid dan memicu respon autoimun. Selain itu, asupan yodium yang terlalu tinggi, baik dari makanan maupun suplemen, bisa memperburuk kerentanan kelenjar tiroid terhadap peradangan. Meskipun yodium penting untuk fungsi tiroid, jumlah berlebih justru dapat memicu penyakit hashimoto pada orang yang sudah memiliki predisposisi genetik.

Baca juga: 6 Jenis Penyakit Autoimun yang Umum

Gejala Penyakit Hashimoto 

Pada tahap awal, penyakit hashimoto sering tidak menimbulkan keluhan. Namun, seiring dengan menurunnya produksi dan jumlah hormon tiroid yang beredar di tubuh, gejala hipotiroid mulai muncul, seperti:

1. Mudah Lelah dan Lemas 

Penderita penyakit hashimoto sering merasa kekurangan energi meskipun sudah cukup tidur. Hal ini terjadi karena hormon tiroid yang rendah memperlambat metabolisme tubuh, sehingga sel-sel tidak mendapatkan energi optimal. Kondisi ini bisa membuat aktivitas harian terganggu, bahkan pekerjaan ringan pun terasa berat.

2. Berat Badan Meningkat Meski Pola Makan Tidak Berubah

Penurunan fungsi tiroid menyebabkan metabolisme basal tubuh melambat. Akibatnya, kalori yang masuk tidak terbakar secara maksimal dan menumpuk menjadi lemak. Banyak pasien penyakit hashimoto mengeluhkan kenaikan berat badan yang tidak wajar, meskipun pola makan dan aktivitas fisik mereka sama seperti sebelumnya.

3. Kulit kering, Rambut Rontok, dan Kuku Rapuh

Hormon tiroid berperan penting dalam menjaga kesehatan jaringan kulit, rambut, dan kuku. Ketika kadarnya menurun, kulit cenderung menjadi kering dan kasar, rambut mudah patah atau rontok, serta kuku tampak rapuh dan mudah pecah. Perubahan ini bisa memengaruhi penampilan dan menurunkan rasa percaya diri para penderita penyakit hashimoto. 

4. Sensitif Terhadap Suhu Dingin 

Metabolisme tubuh yang lambat juga berdampak pada kemampuan tubuh menghasilkan panas. Penderita penyakit hashimoto sering merasa kedinginan meskipun berada di ruangan dengan suhu normal. Sensitivitas ini dapat membuat mereka harus menggunakan pakaian tebal atau selimut tambahan bahkan ketika orang lain merasa suhu sudah cukup nyaman.

5. Pembengkakan di Leher Akibat Pembesaran Tiroid (Goiter)

Pada sebagian kasus, penyakit hashimoto menimbulkan pembesaran kelenjar tiroid yang disebut goiter. Kondisi ini menyebabkan benjolan di leher bagian depan. Jika goiter membesar, penderita bisa merasakan tekanan di tenggorokan, kesulitan menelan, atau bahkan gangguan pernapasan. Pembengkakan ini juga sering terlihat secara kasat mata sehingga memengaruhi penampilan fisik.

6. Sulit Konsentrasi dan Mood yang Mudah Berubah

Hormon tiroid berhubungan erat dengan fungsi otak. Kekurangannya dapat menyebabkan kesulitan berkonsentrasi, pelupa, atau yang sering disebut “brain fog”. Selain itu, penderita penyakit hashimoto juga kerap mengalami perubahan suasana hati, mudah cemas, atau bahkan depresi. Kondisi psikologis ini sering kali menambah beban penderita karena memengaruhi kualitas hidup dan interaksi sosial.

Baca juga: Tips Diet Sehat Pasien Autoimun: Apa Saja yang Baik untuk Dikonsumsi?

Diagnosis Penyakit Hashimoto 

Diagnosis penyakit hashminoto dilakukan dengan kombinasi pemeriksaan klinis dan laboratorium, seperti:

1. Tes darah (TSH, T3, T4)

Tes darah adalah langkah utama untuk menilai fungsi tiroid. Pada penyakit hashimoto , kadar TSH (Thyroid Stimulating Hormone) biasanya meningkat karena kelenjar pituitari bekerja lebih keras merangsang tiroid yang melemah. Sementara itu, kadar T4 (thyroxine) dan T3 (triiodothyronine) cenderung menurun akibat produksi hormon terganggu. Kombinasi TSH tinggi dengan T4 rendah merupakan tanda klasik hipotiroid akibat hashimoto . Tes ini juga berguna untuk memantau efektivitas terapi hormon tiroid yang diberikan dokter.

2. Pemeriksaan Antibodi Tiroid (Anti-TPO, Anti-Tg)

Pemeriksaan antibodi dilakukan untuk memastikan adanya reaksi autoimun. Pada penderita penyakit hashimoto , kadar anti-TPO (anti-thyroid peroxidase antibody) dan anti-Tg (anti-thyroglobulin antibody) biasanya meningkat. Kehadiran antibodi ini menunjukkan bahwa sistem imun sedang menyerang jaringan tiroid. Tes ini sangat membantu untuk membedakan hashimoto dari penyebab hipotiroid lainnya, seperti defisiensi yodium atau kerusakan pasca operasi tiroid.

3. USG Tiroid 

USG merupakan pemeriksaan pencitraan non-invasif yang menggunakan gelombang suara untuk melihat kondisi kelenjar tiroid. Pada penyakit hashimoto , hasil USG biasanya menunjukkan gambaran tiroid yang tidak rata, bertekstur kasar, atau membesar akibat peradangan kronis. USG juga bermanfaat untuk memantau ukuran tiroid (apakah terjadi pembesaran/goiter) dan mendeteksi adanya nodul yang mungkin memerlukan evaluasi lebih lanjut dengan biopsi.

Baca juga: Gejala dan Pencegahan Human Metapneumovirus (HMPV)

Penyakit hashimoto merupakan salah satu penyakit autoimun yang menyerang kelenjar tiroid dan menjadi penyebab tersering hipotiroidisme. Gejala awal sering kali tidak disadari, mulai dari mudah lelah, berat badan meningkat, kulit kering, hingga pembengkakan leher. Jika tidak ditangani, penyakit hashimoto bisa menimbulkan komplikasi serius seperti myxedema, gangguan kesuburan, hingga masalah jantung. Diagnosis biasanya dilakukan melalui tes darah, pemeriksaan antibodi, serta USG tiroid, sedangkan terapi utama adalah pemberian obat pengganti hormon tiroid.

Dengan pengobatan dan pemantauan rutin, penderita penyakit hashimoto tetap bisa menjalani hidup normal dan produktif. Kunci utamanya adalah deteksi dini dan kepatuhan terhadap terapi yang disarankan dokter.

Jika Anda atau keluarga menunjukkan tanda penyakit hashimoto , segera periksakan diri. Kavacare siap membantu dengan mendaftarkan konsultasi dokter spesialis yang tepat, layanan homecare, serta pendampingan berobat hingga rumah sakit rekanan Kavalink. Untuk informasi lebih lanjut, hubungi Kavacare Support di nomor WhatsApp 0811 1446 777.

Sumber: 

  1. Hashminoto’s Disease – National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK). https://www.niddk.nih.gov/health-information/endocrine-diseases/hashimotos-disease. Diakses pada 28 Agustus 2025. 
  2. Joanna Klubo-Gwiezdzinska,  Leonard Wartofsky. Hashimoto thyroiditis: an evidence-based guide to etiology, diagnosis and treatment. 2022 Mar 3;132(3):16222. doi: 10.20452/pamw.16222. PMCID: PMC9478900 PMID: 35243857. 
  3.  Hashimoto Thyroiditis – National Library of Medicine. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK459262/. Diakses pada 28 Agustus 2025. 

 

Artikel ini telah direview oleh

Dr. Eddy Wiria, PhD

Co-Founder & CEO Kavacare