Perbedaan Nasal Kanul dan Masker Oksigen dan Manfaatnya

Perbedaan Nasal Kanul dan Masker Oksigen dan Manfaatnya

Share

Terapi oksigen adalah terapi bantuan pernapasan agar pasien  yang tengah terbaring sakit dapat memperoleh oksigen dengan lancar. Terapi ini dilakukan dengan menggunakan selang atau masker yang disambungkan ke hidung sebagai alat bantu pernapasan.

Anda tentu pernah melihat penggunaan alat ini. Kedua alat ini disebut dengan nasal kanul dan masker oksigen, selang yang membantu aliran oksigen tambahan dapat masuk dengan mudah ke dalam tubuh pasien yang membutuhkan oksigen tambahan.

Mari simak pembahasan lengkap mengenai perbedaan kedua alat tersebut di bawah ini.

Apa Itu Nasal Kanul?

Nasal kanul adalah selang yang memiliki dua cabang yang ditempatkan di lubang hidung untuk mengalirkan oksigen ke dalam tubuh pasien ketika terapi oksigen. Bagian lain dari selang tersebut melekat pada sistem oksigen pasien.

Umumnya, nasal kanul dapat mengalirkan oksigen dengan kecepatan aliran dalam kurun waktu 1-2 liter per menit dengan maksimum kecepatan hingga 5 liter per menit. Kecepatan ini digunakan dengan dengan angka FiO2 (ukuran konsentrasi oksigen) sebesar 0,37 hingga 0,45.

Selanjutnya, pasien harus menggunakan masker oksigen yang dapat mengalirkan oksigen yang lebih banyak dengan alat yang dapat memberikan tekanan oksigen yang lebih besar. Pemakaian kanul ini cukup praktis dan mudah, hanya dengan meletakkan selang ke atas telinga dan bentuknya yang tipis juga tidak banyak menghambat gerakan pasien.

Untuk menggunakan alat ini, Anda perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

  1. Cuci tabung plastik satu atau dua kali seminggu dengan sabun dan air, dan basuh dengan baik;
  2. Ganti nasal kanul setiap dua atau empat minggu;
  3. Apabila Anda terserang pilek atau flu, ganti kanula begitu Anda merasa sudah sembuh.

 

Baca Juga: Berbagai Penyakit yang Memerlukan Terapi Oksigen

 

Apa itu Masker Oksigen?

Masker oksigen merupakan alat untuk mengalirkan oksigen ke dalam tubuh pasien seperti halnya nasal kanul, tetapi bentuknya menyerupai masker wajah yang dapat menutupi seluruh area hidung dan mulut.

Pemasangannya dilakukan dengan tali elastis yang dikaitkan ke belakang kepala dan diletakkan di atas telinga seperti halnya masker wajah. Masker oksigen sederhana dapat mengalirkan oksigen dengan kecepatan sekitar 5 hingga 10 liter per menit selama terapi.

Sekalipun Anda memilih untuk menggunakan nasal kanul, Anda mungkin tetap akan membutuhkan masker oksigen. Masker ini memiliki ukuran yang pas untuk menutupi seluruh area hidung dan mulut sehingga dapat menjadi pengganti ketika hidung Anda mengalami iritasi akibat nasal kanul.

Untuk menggunakannya, perhatikan hal-hal berikut:

  • Ganti masker setiap dua atau empat minggu;
  • Apabila Anda terkena pilek atau flu, ganti masker ketika Anda sudah sembuh.

Beberapa orang mungkin membutuhkan kateter transtrakeal, di mana kateter atau pipa ini biasanya dipasangkan ke dalam batang tenggorok selama operasi. Untuk penggunaan kateter ini, Anda sebaiknya berkonsultasi dengan dokter tentang cara membersihkan kateter dan botol humidifier (alat pelembab udara).

Penyakit Apa yang Perlu Menggunakan Nasal Kanul dan Masker Oksigen?

Oksigen tambahan melalui penggunaan nasal kanul atau masker diperlukan ketika kadar oksigen dalam darah menurun. Berikut ini adalah penyakit-penyakit yang mengakibatkan kondisi ini:

  • Asma;
  • Bronchopulmonary dysplasia, atau paru-paru yang tidak berkembang pada bayi baru lahir;
  • Penyakit Paru Obstruksi Kronik (Chronic Obstructive Pulmonary Disease atau COPD), atau kelompok penyakit paru-paru progresif, seperti emfisema atau bronkitis kronis, yang ditandai dengan kesulitan bernapas;
  • Kistik fibrosis (Cystic fibrosis) mempengaruhi sel yang menghasilkan keringat, lendir, dan enzim pencernaan, dimana cairan ini mengental dan dapat menghambat aliran udara ke paru-paru;
  • Pneumonia (peradangan paru-paru);
  • Sleep apnea, yaitu gangguan dimana saluran udara bagian atas tertutup ketika tidur;
  • Respiratory Distress Syndrome, gangguan pernapasan yang terjadi pada bayi baru lahir.

Selain dari gangguan-gangguan di atas, kedua alat ini juga dapat digunakan kepada pasien yang mengalami trauma atau kondisi akut, seperti gagal jantung.

Bagaimana Cara Mengukur Kadar Oksigen dalam Darah?

Dokter atau tenaga medis lainnya akan mengukur kadar oksigen dalam darah untuk mengetahui apakah pasien memerlukan terapi oksigen. Pengukuran kadar oksigen ini biasa disebut juga tingkat saturasi oksigen.

Tes ini dapat dilakukan melalui dua metode berikut:

1. Uji Sampel Darah (Arterial Blood Gas/ABG)

Arterial Blood Gas (ABG) adalah uji kadar oksigen dalam darah melalui pengambilan sampel darah dari pembuluh darah arteri (biasanya diambil dari bagian pergelangan tangan). Pengukuran ABG ini biasanya memberikan hasil yang paling akurat.

2. Oximeter

Oximeter adalah alat yang mengukur saturasi oksigen dalam tubuh. Pulse oximeter akan dijepit di jari tangan, jari kaki, atau cuping telinga. Kelebihannya, pengukuran dengan oximeter tidak membutuhkan jarum dan dokter dapat melakukan monitor pada oksigen selama tidur atau ketika berjalan.

Akan tetapi, oximeter tidak memberikan informasi sebanyak pada tes ABG dan hasil ujinya bisa salah karena berbagai faktor. Misalnya, sirkulasi darah tidak lancar, pasien menggunakan cat kuku berwarna gelap, atau pasien mengalami anemia.

Alat Apa Saja yang Dibutuhkan untuk Terapi Oksigen?

Sebelum mendapatkan terapi, Anda perlu tahu alat-alat penyalur oksigen yang terhubung dengan nasal kanul atau masker oksigen.

Pemberian oksigen ini biasanya dilakukan dengan tiga sistem oksigen, yaitu konsentrator oksigen, oksigen cair, atau oksigen terkompresi di dalam tabung logam. Berikut penjelasan selengkapnya.

1. Standard Oxygen Concentrator

Mesin ini mempunyai motor dan menggunakan listrik atau dapat juga menggunakan baterai. Konsentrator oksigen mengisap udara normal dan menyaring gas-gas lain sehingga menyisakan oksigen saja.

Karena menggunakan listrik yang perlu disambungkan ke stop kontak, maka Anda membutuhkan cadangan oksigen lain untuk mengantisipasi apabila listrik padam.

2. Konsentrator Oksigen Portabel

Konsentrator ini dapat dibawa ke mana pun sehingga praktis untuk digunakan. Beratnya hanya sekitar 1,5-10 kg sehingga mudah untuk dibawa.

Anda dapat menyambungkannya ke sumber listrik di mobil Anda atau memfungsikannya dengan baterai.

2. Tabung Oksigen Cair

Biasanya, oksigen tersedia dalam bentuk gas. Namun, pada suhu yang lebih rendah, oksigen berubah menjadi cair.

Oksigen ini tidak terlalu membutuhkan ruang sebanyak oksigen dalam bentuk gas, jadi dapat disimpan dalam tabung yang berbentuk termos. Cairan ini akan diubah menjadi gas dengan segera ketika keluar, sehingga Anda dapat langsung menghirupnya.

Tabung oksigen cair biasanya mempunyai berat lebih dari 50 kg dan harus diisi ulang setiap beberapa minggu. Namun, Anda dapat menyimpannya di kaleng yang lebih kecil apabila Anda ingin membawanya keluar rumah.

3. Compressed Oxygen Gas Tank

Jenis oksigen ini adalah jenis tertua dan paling jarang dipakai. Tabung ini akan mengkompresi gas oksigen dalam tekanan tinggi di dalam tabung logam.

Ukurannya sangat berat dan tidak bisa dipindahkan. Tabung ini harus diisi ulang setiap beberapa hari.

Ada pula gas kompresi yang ditempatkan dalam tabung yang lebih kecil dan mudah dibawa, tetapi oksigen di dalamnya hanya bertahan dalam waktu singkat.

 

Baca Juga: Penggunaan Oksigen di Rumah: Fungsi dan Cara Pakai

 

Nasal Kanul dan Masker Oksigen, Mana yang Lebih Baik?

Umumnya, nasal kanul merupakan pilihan yang lebih umum karena bentuknya yang praktis sehingga pasien akan mudah bergerak dan melakukan kegiatan sehari-hari tanpa terlalu terganggu. Pasien juga bisa berbicara dan makan dengan lebih mudah.

Di samping itu, penelitian menyatakan bahwa posisi nasal kanul lebih cenderung lebih stabil daripada masker oksigen, sehingga lebih mampu menjaga saturasi yang memadai pada kebanyakan pasien.

Namun, masker oksigen umumnya dapat memberikan tingkat aliran oksigen yang konstan sehingga biasa digunakan untuk mengendalikan retensi karbondioksida yang dapat menyebabkan hiperkapnia (kadar karbondioksida dalam darah terlalu tinggi) selain menyuplai kebutuhan oksigen tambahan.

Apabila Anda membutuhkan bantuan untuk melakukan terapi oksigen atau menggunakan alat kesehatan di rumah, tim Kavacare siap membantu. Silakan hubungi kami di nomor 0811-1446-777 untuk berkonsultasi dengan tenaga medis profesional seputar kebutuhan perawatan di rumah Anda.

Sumber:

  1. Comparison of Nasal Cannulae with Face Mask for Oxygen Administration to Postoperative Patients. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/8499205/ diakses pada tanggal 19 Februari 2023
  2. High Flow Nasal Cannula. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK526071/ diakses pada tanggal 19 Februari 2023
  3. Home Oxygen Therapy: What to Know. https://www.webmd.com/lung/lung-home-oxygen-therapy diakses pada tanggal 19 Februari 2023
  4. Lung Disease Treatments. https://www.nhlbi.nih.gov/health/lung-treatments diakses pada tanggal 19 Februari 2023
  5. Nasal Cannulas and Face Masks. https://www.healthline.com/health/nasal-cannulas-and-face-masks#2 diakses pada tanggal 19 Februari 2023
  6. Oxygen Therapy. https://www.thoracic.org/patients/patient-resources/resources/pulse-oximetry.pdf diakses pada tanggal 19 Februari 2023
  7. Respiratory Support for Adult Patients with COVID-19. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7228246/ diakses pada tanggal 19 Februari 2023
  8. Using Oxygen at Home. https://www.mountsinai.org/health-library/selfcare-instructions/using-oxygen-at-home diakses pada tanggal 19 Februari 2023
Avatar
Reviewed by:
Ditinjau oleh:

Dr. Eddy Wiria, PhD

Co-Founder & CEO Kavacare