Sindrom hepatorenal adalah kondisi serius di mana fungsi ginjal terganggu akibat penyakit hati lanjut. Menyadari sindrom hepatorenal sedini mungkin sangat penting untuk menyelamatkan nyawa dan memperbaiki prognosis pasien. Sindrom ini sering kali muncul secara mendadak pada pasien dengan sirosis hati yang sudah berat. Tanpa penanganan yang tepat, sindrom hepatorenal dapat berkembang cepat dan meningkatkan risiko kematian.
Gejala Umum Sindrom Hepatorenal
Berikut beberapa gejala sindrom hepatorenal yang sering kali tidak disadari karena mirip dengan keluhan penyakit hati lainnya, antara lain:
1. Kelelahan dan Lemas
Pasien dengan sindrom hepatorenal sering merasakan kelelahan ekstrem yang tidak membaik meskipun sudah beristirahat. Kondisi ini terjadi karena ginjal tidak mampu menyaring racun dengan baik, sementara hati juga sudah melemah. Akibatnya, penumpukan racun dalam darah membuat tubuh mudah lelah, tidak bertenaga, bahkan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari seperti berjalan atau bekerja ringan.
2. Mual, Muntah, dan Rasa Tidak Enak pada Mulut
Gangguan pencernaan adalah keluhan yang sering dialami. Penderita sindrom hepatorenal bisa merasa mual terus-menerus, mengalami muntah berulang, hingga muncul rasa pahit atau tidak enak di mulut. Hal ini dipicu oleh meningkatnya kadar racun dalam tubuh serta ketidakseimbangan cairan dan elektrolit akibat kerusakan hati dan ginjal.
3. Perut Nyeri dan Pembengkakan (Asites)
Salah satu tanda khas pada sindrom hepatorenal adalah asites, yaitu penumpukan cairan di rongga perut. Kondisi ini menyebabkan perut tampak membesar, terasa penuh, nyeri, dan menekan organ di sekitarnya. Asites juga membuat pasien sulit bernapas karena tekanan ke diafragma meningkat, sehingga memengaruhi kualitas hidup secara signifikan.
4. Penyakit Kuning (Jaundice)
Kulit dan bagian putih mata (sklera) yang menguning sering muncul pada pasien dengan kerusakan hati berat. Jaundice pada sindrom hepatorenal disebabkan oleh penumpukan bilirubin dalam darah. Selain menurunkan kepercayaan diri pasien, jaundice juga menjadi tanda bahwa hati tidak lagi berfungsi optimal dalam memproses zat sisa metabolisme.
5. Mudah Memar dan Perdarahan
Pasien sindrom hepatorenal juga sering mengalami memar meskipun hanya terkena benturan ringan. Hal ini disebabkan oleh turunnya produksi protein pembekuan darah (faktor koagulasi) yang biasanya diproduksi hati. Dalam kondisi parah, pasien bisa mengalami perdarahan gusi, mimisan, atau bahkan perdarahan dalam yang berbahaya.
6. Urine Gelap
Warna urine pada penderita sindrom hepatorenal dapat berubah menjadi lebih pekat atau cokelat gelap. Ini terjadi karena penurunan fungsi hati dan ginjal yang menyebabkan pigmen bilirubin serta racun lain lebih banyak diekskresikan melalui urine. Selain warna yang berubah, volume urine juga biasanya menurun drastis, tanda bahwa ginjal mulai gagal berfungsi.
7. Gatal-Gatal
Gejala gatal pada kulit sering kali membingungkan pasien karena tidak jelas penyebabnya. Namun, pada sindrom hepatorenal, gatal terjadi akibat penumpukan empedu dan racun di dalam darah yang tidak bisa dikeluarkan dengan baik. Rasa gatal ini biasanya semakin parah di malam hari dan dapat mengganggu tidur pasien.
8. Linglung atau Disorientasi
Pada tahap lanjut, pasien dapat mengalami kebingungan, sulit berkonsentrasi, hingga disorientasi waktu dan tempat. Hal ini dikenal sebagai ensefalopati hepatik, kondisi yang sering menyertai sindrom hepatorenal. Gejala ini berbahaya karena menandakan akumulasi amonia dan zat beracun lain sudah memengaruhi fungsi otak.
Baca juga: Kenali Sejak Dini: Ciri-Ciri Kanker Kulit Stadium Awal yang Perlu Diwaspadai
Penyebab Sindrom Hepatorenal
Beberapa faktor yang sering memicu terjadinya sindrom hepatorenal antara lain:
1. Sirosis Hati Lanjut
Sirosis adalah penyebab paling umum dari sindrom hepatorenal. Pada tahap lanjut, jaringan hati yang sehat digantikan oleh jaringan parut (fibrosis). Perubahan ini menghambat aliran darah melalui hati, menyebabkan hipertensi portal. Akibatnya, tubuh berusaha menyeimbangkan tekanan dengan melebarkan pembuluh darah di perut, tetapi justru mengurangi aliran darah ke ginjal. Kekurangan suplai darah inilah yang menyebabkan ginjal gagal berfungsi meski strukturnya masih normal.
2. Hepatitis Fulminan
Hepatitis fulminan adalah bentuk peradangan hati yang sangat cepat dan berat. Kondisi ini bisa dipicu oleh infeksi virus hepatitis atau reaksi obat. Karena kerusakan hati terjadi mendadak, kemampuan hati untuk mengatur cairan dan racun tubuh hilang dalam waktu singkat. Dampaknya, pasien bisa mengalami gagal ginjal akut sebagai bagian dari sindrom hepatorenal.
3. Infeksi Peritonitis Bakterial Spontan (SBP)
Infeksi pada cairan asites yang sering terjadi pada pasien sirosis dapat menjadi pencetus sindrom hepatorenal. SBP menyebabkan peradangan luas pada rongga perut, memicu respon imun, dan membuat sirkulasi darah tidak stabil. Tekanan darah turun, aliran ke ginjal semakin berkurang, hingga akhirnya fungsi ginjal menurun drastis.
4. Perdarahan Saluran Cerna Atas
Pasien dengan sirosis sering mengalami perdarahan saluran cerna akibat pecahnya varises esofagus. Kehilangan darah dalam jumlah besar menyebabkan tekanan darah menurun tajam. Ginjal yang sudah rentan akibat kerusakan hati menjadi semakin kekurangan suplai darah. Hal ini memperburuk kondisi pasien dan dapat memicu terjadinya sindrom hepatorenal.
5. Penggunaan Diuretik Berlebihan
Obat diuretik biasanya diberikan untuk mengurangi cairan berlebih (asites) pada pasien sirosis. Namun, penggunaan yang berlebihan bisa mengakibatkan dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit. Kondisi ini mempersempit pembuluh darah ginjal dan mengurangi aliran darah ke organ tersebut. Jika tidak dikendalikan, hal ini menjadi salah satu faktor pemicu sindrom hepatorenal.
Baca juga: Apa Itu Penyakit Hashimoto dan Bagaimana Cara Mengatasinya?
Sindrom hepatorenal adalah komplikasi berbahaya dari penyakit hati lanjut yang dapat menyebabkan gagal ginjal fungsional meski ginjal masih sehat secara struktur. Gejalanya bisa berupa kelelahan, mual, asites, urine gelap, hingga disorientasi. Penyebab sindrom hepatorenal umumnya berkaitan dengan sirosis hati lanjut, infeksi, perdarahan saluran cerna, atau penggunaan obat tertentu. Mengenali tanda-tanda awal dan faktor pemicunya sangat penting agar pasien segera mendapatkan terapi medis yang tepat.
Jika Anda atau keluarga mengalami gejala sindrom hepatorenal, jangan tunda untuk mencari pertolongan medis. Kavacare siap membantu mulai dari konsultasi dengan dokter spesialis, pendampingan medis di rumah, hingga pengaturan rujukan ke rumah sakit terbaik, bahkan bila perlu evakuasi medis dan ambulans udara. Hubungi Kavacare Support di nomor WhatsApp 0811 1446 777.
Baca juga: Dato’ Dr. David Chew Soon Ping Top Spesialis Jantung di CVSKL Kuala Lumpur
Sumber:
- Hepatorenal Syndrome – American Liver Foundation. https://liverfoundation.org/liver-diseases/complications-of-liver-disease/hepatorenal-syndrome. Diakses pada 4 September 2025.
- Justin M Belcher. Hepatorenal Syndrome: Pathophysiology, Diagnosis, and Treatment. 2023 Jul;107(4):781-792. doi: 10.1016/j.mcna.2023.03.009. PMID: 37258014.
- Katherine Marchak MD, Davinder Singh MBBS, Maria Puello Barron MD,
- Premal Trivedi MD, MSc. Hepatorenal Syndrome: Updates on Definition, Classification, Pathophysiology and Treatment Options. September 2025, 101059. doi.org/10.1016/j.tvir.2025.101059.

