Cegah dan Kenali Gejala Penyebab Bronkopneumonia Bilateral pada Anak Homecare Kavacare

Cegah dan Kenali: Gejala & Penyebab Bronkopneumonia Bilateral pada Anak

Bronkopneumonia bilateral pada anak merupakan kondisi serius yang perlu segera ditangani karena infeksi ini menyerang kedua sisi paru-paru, menyebabkan peradangan menyeluruh pada saluran pernapasan (bronki dan alveoli) dan berpotensi meningkatkan risiko komplikasi jika diagnosis serta pengobatan terlambat; kondisi ini sering disebabkan oleh bakteri, virus, atau jamur, yang mengakibatkan gangguan pertukaran gas di paru-paru dan menimbulkan gejala khas yang perlu diwaspadai.

Gejala Bronkopneumonia Bilateral pada Anak

Anak yang mengalami bronkopneumonia bilateral pada anak biasanya menunjukkan beberapa gejala khas, antara lain:

1. Demam Tinggi 

Pada bronkopneumonia bilateral pada anak, demam tinggi sering menjadi tanda awal infeksi. Suhu tubuh bisa meningkat di atas 38,5°C dan disertai menggigil. Demam merupakan respons tubuh melawan mikroorganisme penyebab infeksi, dan bila dibiarkan tanpa pengobatan, bisa mempercepat dehidrasi dan melemahkan kondisi anak. 

2. Batuk Berdahak 

Batuk pada bronkopneumonia bilateral pada anak biasanya produktif, mengeluarkan dahak kental berwarna kuning, hijau, atau bercampur darah. Batuk ini terjadi akibat peradangan dan penumpukan lendir di saluran napas. Pada bayi dan balita, dahak bisa sulit dikeluarkan sehingga memicu muntah setelah batuk.

3. Sesak Napas atau Napas Cepat

Anak yang mengalami bronkopneumonia bilateral pada anak sering bernapas cepat (lebih dari 40 kali per menit) atau tampak kesulitan menghirup udara. Hal ini disebabkan oleh peradangan di kedua paru-paru yang mengurangi kapasitas pertukaran oksigen. Pada kondisi berat, dapat disertai tarikan otot di antara tulang rusuk saat bernapas karena upaya tubuh mendapatkan asupan oksigen.

4. Nafsu Makan Menurun dan Rewel

Infeksi dan sesak napas membuat anak sulit makan atau minum. Bronkopneumonia bilateral pada anak sering membuat penderitanya lemas, rewel, dan enggan beraktivitas. Kondisi ini dapat memperburuk status gizi bila tidak segera diatasi dengan asupan nutrisi yang cukup

5. Gelisah atau Sulit Tidur

Anak dengan bronkopneumonia bilateral pada anak cenderung sulit tidur nyenyak karena ketidaknyamanan di dada dan batuk yang sering kambuh di malam hari. Gangguan tidur ini membuat proses pemulihan menjadi lebih lama dan anak terlihat mudah marah atau menangis

6. Wajah Pucat, Bibir atau Kuku Membiru 

Gejala ini menunjukkan kekurangan oksigen yang serius akibat bronkopneumonia bilateral pada anak. Sianosis merupakan tanda darurat medis yang memerlukan pertolongan segera di fasilitas kesehatan. Bila tidak ditangani, kondisi ini bisa berujung pada gagal napas.

7. Napas Berbunyi, Menggigil, dan Nyeri Dada

Peradangan luas pada bronkopneumonia bilateral pada anak dapat menimbulkan bunyi mengi saat bernapas karena penyempitan saluran udara. Menggigil sering muncul bersamaan dengan demam, sementara nyeri dada terjadi akibat peradangan yang menjalar ke pleura atau otot pernapasan. 

Mewaspadai gejala bronkopneumonia bilateral pada anak adalah langkah penting agar penanganan medis bisa diberikan secepat mungkin. Bila anak menunjukkan tanda seperti demam tinggi, batuk berdahak, sesak napas, atau bibir membiru, segera bawa ke dokter. Penanganan cepat dapat mencegah komplikasi berat dan mempercepat pemulihan.

Baca juga: Kapan Pasang NGT pada Anak Dibutuhkan?

Penyebab Bronkopneumonia Bilateral 

Penyebab utama bronkopneumonia bilateral pada anak meliputi: 

1. Infeksi Bakteri 

Bronkopneumonia bilateral pada anak paling sering disebabkan oleh infeksi bakteri, terutama Streptococcus pneumoniae dan Haemophilus influenzae tipe b (Hib). Kedua bakteri ini menyerang saluran pernapasan bagian bawah dan menyebabkan peradangan pada bronki serta alveoli di kedua sisi paru-paru. Selain itu, bakteri lain seperti Staphylococcus aureus, Klebsiella pneumoniae, Pseudomonas aeruginosa, dan Escherichia coli juga dapat menjadi pemicu, terutama pada anak dengan riwayat penyakit paru atau sistem kekebalan tubuh yang lemah. Infeksi bakteri biasanya menimbulkan gejala lebih berat seperti demam tinggi, batuk berdahak kental, dan sesak napas yang cepat memburuk bila tidak segera diobati dengan antibiotik yang tepat.

2. Infeksi Virus

Virus juga menjadi penyebab umum bronkopneumonia bilateral pada anak, di antaranya influenza, respiratory syncytial virus (RSV), parainfluenza, adenovirus, bahkan COVID-19. Infeksi virus sering kali memulai peradangan di saluran napas, yang kemudian dapat memicu infeksi sekunder oleh bakteri. Pada kasus infeksi virus, gejala biasanya dimulai dengan batuk kering, demam, pilek, dan kelelahan, lalu berkembang menjadi batuk berdahak dan sesak napas ketika paru-paru mulai terinfeksi secara bilateral. Infeksi virus dapat menyerang anak yang sebelumnya sehat, namun risiko lebih tinggi pada anak di bawah usia 5 tahun atau yang belum menerima imunisasi lengkap.

Baca juga: Mengapa Pemberian Vaksin DPT untuk Anak Sangat Dibutuhkan? Inilah Manfaatnya

3. Infeksi Jamur 

Walaupun jarang, bronkopneumonia bilateral pada anak juga dapat disebabkan oleh jamur, seperti Aspergillus fumigatus atau Pneumocystis jirovecii. Kondisi ini lebih sering terjadi pada anak dengan sistem kekebalan tubuh yang sangat lemah, misalnya akibat HIV/AIDS, kanker, atau penggunaan obat imunosupresif jangka panjang. Infeksi jamur biasanya berkembang lebih lambat dibanding bakteri atau virus, namun sulit diobati dan memerlukan terapi antijamur khusus. Gejalanya meliputi batuk kronis, sesak napas yang semakin berat, penurunan berat badan, dan kelelahan ekstrem.

Bronkopneumonia bilateral pada anak adalah infeksi serius yang menyerang kedua sisi paru-paru dan dapat disebabkan oleh bakteri, virus, maupun jamur. Kondisi ini menimbulkan gejala seperti demam tinggi, batuk berdahak, sesak napas, wajah pucat hingga bibir membiru, dan membutuhkan penanganan medis segera. Deteksi dini, pemeriksaan menyeluruh, serta terapi yang tepat sangat penting untuk mencegah komplikasi yang berbahaya. Orang tua perlu peka terhadap tanda-tandanya dan segera membawa anak ke fasilitas kesehatan begitu gejala muncul.

Baca juga: Dr. Nazrul Neezam Bin Nordin, Top Spesialis Anak, Gastrologi & Hepatologi di Sunway Medical Centre

Kavacare siap membantu Anda mendapatkan untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis paru anak, baik untuk pemeriksaan, perawatan lanjutan, maupun rujukan ke rumah sakit. Kami juga menyediakan layanan homecare untuk pemantauan kondisi anak di rumah, termasuk pemberian obat sesuai resep dokter dan terapi oksigen bila diperlukan. Informasi lebih lanjut, hubungi Kavacare di 0811 1446 777. 

Sumber: 

  1. What Is Bronchopneumonia? – Verywell Health. https://www.verywellhealth.com/bronchopneumonia-5218848. Diakses pada 14 Agustus 2025. 
  2. Pneumonia in Children – World Health Organization. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/pneumonia. Diakses pada 14 Agustus 2025. 
  3. Bronchopneumonia: Symptoms, Risk Factors, and Treatment – Healthline. https://www.healthline.com/health/bronchopneumonia. Diakses pada 14 Agustus 2025. 

 

Artikel ini telah direview oleh

Dr. Eddy Wiria, PhD

Co-Founder & CEO Kavacare