Divertikulitis adalah kondisi ketika kantong kecil pada dinding usus besar (divertikula) mengalami peradangan atau infeksi. Hal ini ternyata umum terjadi, sehingga ayo perhatikan gejala divertikulitis pada lansia dengan seksama!
Risiko terjadinya divertikulitis pada lansia lebih tinggi karena dinding usus yang melemah seiring bertambahnya usia, ditambah pola makan rendah serat dan aktivitas fisik yang berkurang. Pada tahap awal, kondisi ini mungkin hanya menimbulkan gejala seperti rasa tidak nyaman ringan di perut, tetapi dapat berkembang menjadi keluhan yang lebih jelas. Gejala divertikulitis pada lansia yang sering muncul meliputi nyeri perut kiri bawah, perasaan kembung, perubahan buang air besar seperti sembelit atau diare, serta demam ringan. Namun, karena sering dianggap sebagai keluhan biasa atau “masuk angin”, banyak lansia yang tidak menyadari bahwa keluhan tersebut adalah tanda awal divertikulitis.
Gejala Divertikulitis pada Lansia yang Paling Umum
1. Nyeri Perut Kiri Bawah
Nyeri perut adalah gejala divertikulitis pada lansia yang paling sering muncul. Lokasinya biasanya di bagian kiri bawah perut karena area tersebut adalah tempat divertikula paling sering terbentuk. Nyeri bisa terasa tumpul, menetap, atau kadang seperti kram yang datang dan pergi. Pada lansia, nyeri ini sering dianggap “masuk angin” atau sakit perut biasa, padahal sebenarnya menandakan adanya peradangan di usus besar.
2. Demam Ringan Hingga Sedang
Demam menandakan adanya proses infeksi atau peradangan dalam tubuh. Pada kasus divertikulitis pada lansia, demam biasanya tidak terlalu tinggi, tapi tetap menjadi gejala divertikulitis yang penting diperhatikan. Pada lansia, demam bisa lebih ringan dibandingkan usia muda, sehingga perlu dicurigai bila ada demam meskipun hanya sedikit disertai nyeri perut.
3. Mual dan Muntah
Peradangan di usus besar dapat memengaruhi saluran pencernaan sehingga muncul rasa mual bahkan muntah. Ini termasuk gejala divertikulitis pada lansia yang sering dialami pada fase akut. Kondisi ini juga membuat nafsu makan berkurang, yang bisa menyebabkan lansia cepat lelah atau berat badan turun.
4. Perubahan buang air besar (BAB)
Divertikulitis pada lansia dapat mengganggu pergerakan usus. Akibatnya, sebagian pasien mengalami konstipasi atau sembelit, sementara yang lain justru diare. Perubahan pola BAB ini perlu diperhatikan karena termasuk gejala divertikulitis yang sering terlewatkan, padahal merupakan tanda adanya gangguan pada sistem pencernaan.
5. Perut Kembung dan Terasa Penuh
Peradangan pada usus juga bisa membuat perut terasa kembung, begah, atau penuh meski tidak makan banyak. Keluhan ini sering dianggap sepele, tetapi sebenarnya merupakan gejala divertikulitis pada lansia yang cukup umum. Pada lansia, rasa kembung berlebihan bisa membuat aktivitas terganggu dan menurunkan kualitas hidup sehari-hari.
Gejala Divertikulitis pada Lansia yang Berat
Jika kondisi semakin parah, biasanya akan muncul tanda-tanda berikut:
1. Nyeri Perut Semakin Berat dan Tidak Hilang Meski Sudah Istirahat
Nyeri yang awalnya hanya terasa sesekali bisa berubah menjadi nyeri terus-menerus. Rasa sakit ini biasanya semakin intens hingga membuat lansia sulit tidur atau beraktivitas. Nyeri yang menetap adalah gejala divertikulitis pada lansia serius yang menandakan peradangan semakin meluas.
2. Demam Tinggi Disertai Menggigil
Jika suhu tubuh naik lebih dari 38°C disertai menggigil, ini menandakan infeksi sudah semakin berat. Kondisi ini berbeda dengan demam ringan yang sering muncul pada tahap awal. Demam tinggi termasuk gejala divertikulitis yang harus segera ditangani agar tidak berkembang menjadi sepsis (infeksi menyebar ke seluruh tubuh).
3. Muntah Terus-Menerus sampai Sulit Makan dan Minum
Pada tahap lanjut, pasien bisa mengalami muntah berulang hingga tidak mampu menahan makanan atau cairan. Hal ini berbahaya karena dapat menyebabkan dehidrasi dan kelemahan fisik yang cepat pada lansia. Muntah berlebihan adalah salah satu gejala divertikulitis dengan komplikasi serius.
4. BAB Berdarah atau Tinja Bercampur Lendir
Perdarahan dari usus besar bisa terlihat sebagai darah segar atau bercampur dengan tinja. Kadang juga muncul lendir. Gejala ini menandakan adanya luka atau iritasi berat pada dinding usus, dan termasuk gejala divertikulitis pada lansia yang membutuhkan pemeriksaan segera.
5. Perut Terasa Kaku dan Nyeri Hebat saat Ditekan
Bila perut terasa keras seperti papan dan nyeri hebat saat disentuh, kemungkinan sudah terjadi perforasi (robeknya usus) atau peritonitis (infeksi menyebar ke rongga perut). Ini adalah gejala divertikulitis pada lansia yang darurat dan memerlukan tindakan medis segera di rumah sakit.
Baca juga: Aktivitas Hobi Membantu Lansia Tetap Sehat, Kok Bisa?
Cara Mencegah Divertikulitis pada Lansia
Meskipun tidak semua kasus dapat dicegah, ada beberapa langkah yang bisa membantu menurunkan risiko munculnya gejala divertikulitis, antara lain:
1. Perbanyak Konsumsi Serat
Makanan tinggi serat seperti sayuran, buah-buahan, dan biji-bijian membantu melunakkan tinja dan memperlancar BAB. Dengan begitu, tekanan dalam usus berkurang sehingga terbentuknya divertikula bisa dicegah. Pola makan rendah serat adalah salah satu faktor risiko utama terjadinya divertikulitis.
2. Minum Cukup Air Setiap Hari
Cairan berfungsi melancarkan pergerakan usus. Lansia sering kali kurang minum karena rasa haus berkurang seiring usia, padahal dehidrasi dapat memperburuk sembelit. Dengan cukup cairan, risiko munculnya gejala divertikulitis bisa ditekan.
3. Rutin Beraktivitas Fisik
Olahraga ringan seperti jalan pagi, senam lansia, atau yoga dapat membantu menjaga kesehatan pencernaan. Aktivitas fisik membuat pergerakan usus lebih aktif sehingga mencegah konstipasi yang bisa memicu divertikulitis.
4. Batasi Makanan Tinggi dan Olahan
Makanan cepat saji, gorengan, atau daging olahan bisa memperberat kerja usus. Sebaiknya diganti dengan makanan yang lebih sehat seperti ikan, kacang-kacangan, dan sumber protein rendah lemak. Pola makan ini baik untuk mencegah timbulnya gejala divertikulitis.
5. Jaga Berat Badan Ideal
Obesitas menjadi salah satu faktor risiko. Menjaga berat badan melalui pola makan sehat dan olahraga dapat mengurangi tekanan pada usus besar, sehingga mencegah terjadinya peradangan.
6. Segera Periksa Bila Ada Keluhan Pencernaan
Lansia sebaiknya tidak menunda konsultasi jika mengalami nyeri perut, perubahan BAB, atau tanda-tanda lain yang mengarah pada gejala divertikulitis. Pemeriksaan dini bisa membantu mencegah komplikasi.
Baca juga: Kapan Bedah Digestif Dibutuhkan untuk Mengatasi Penyakit Sistem Pencernaan?
Bagaimana Dokter Menilai Gejala Divertikulitis?
1. Pemeriksaan Fisik dan Riwayat Kesehatan Pasien
Dokter akan menanyakan kapan keluhan mulai muncul, bagaimana pola nyeri perut, perubahan BAB, serta apakah ada riwayat penyakit lain seperti diabetes, hipertensi, atau penyakit ginjal. Pemeriksaan fisik biasanya mencakup perabaan perut untuk mengetahui lokasi nyeri, adanya kembung, atau tanda peritonitis. Riwayat penggunaan obat-obatan (misalnya obat antiinflamasi atau steroid) juga diperhatikan karena bisa memengaruhi kondisi usus.
2. Tes Darah untuk Melihat Tanda Infeksi
Salah satu langkah penting adalah pemeriksaan darah lengkap. Peningkatan jumlah sel darah putih biasanya menandakan adanya infeksi. Dokter juga dapat mengecek kadar C-Reactive Protein (CRP) untuk menilai tingkat peradangan. Dengan mengetahui hasil tes ini, dokter bisa memastikan apakah gejala divertikulitis benar disebabkan peradangan atau ada penyebab lain.
3. CT Scan Perut dan Panggul
CT scan merupakan pemeriksaan pencitraan yang paling sering digunakan untuk memastikan diagnosis divertikulitis. Pemeriksaan ini dapat menunjukkan dengan jelas letak divertikula yang meradang, tingkat keparahan, dan apakah sudah ada komplikasi seperti abses, penyumbatan, atau perforasi usus. Oleh karena itu, CT scan dapat sangat membantu menilai gejala divertikulitis secara lebih akurat.
4. Kolonoskopi setelah Fase Akut Mereda
Setelah peradangan akut mereda dan kondisi pasien lebih stabil, dokter kadang menyarankan kolonoskopi. Pemeriksaan ini dilakukan dengan memasukkan kamera kecil melalui anus untuk melihat langsung bagian dalam usus besar. Kolonoskopi bermanfaat untuk menyingkirkan kemungkinan penyakit lain seperti kanker usus besar dan memastikan kondisi divertikula. Prosedur ini biasanya tidak dilakukan saat serangan akut, karena dapat memperburuk kondisi.
Divertikulitis adalah kondisi peradangan pada kantong kecil di usus besar yang lebih sering dialami lansia. Gejala divertikulitis bisa muncul ringan seperti nyeri perut, kembung, demam ringan, hingga lebih berat seperti nyeri hebat, BAB berdarah, atau perut terasa kaku. Karena gejala pada lansia sering samar, keluarga perlu lebih peka agar kondisi ini tidak terlambat ditangani. Pemeriksaan medis sejak awal sangat penting untuk mencegah komplikasi serius seperti abses atau robeknya usus besar.
Baca juga: Bagaimana Peran Caregiver Lansia dalam Membantu Lansia Tetap Mandiri?
Jika Anda atau orang terdekat mengalami gejala divertikulitis, jangan ragu untuk segera berkonsultasi dengan dokter spesialis gastroenterologi. Kavacare siap membantu Anda mendapatkan layanan medis terbaik, mulai dari konsultasi online, kunjungan dokter ke rumah, hingga pendampingan rujukan ke rumah sakit di luar negeri bila diperlukan. Untuk informasi lebih lanjut, hubungi Kavacare Support di nomor WhatsApp 0811 1446 777.
Sumber:
- Diverticular Disease – National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK). https://www.niddk.nih.gov/health-information/digestive-diseases/diverticulosis-diverticulitis. Diakses pada 18 Agustus 2025.
- Diverticular Disease and Diverticulitis – NHS UK. https://www.nhs.uk/conditions/diverticular-disease-and-diverticulitis/. Diakses pada 18 Agustus 2025.
- Diverticulitis – Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/10352-diverticulitis. Diakses pada 18 Agustus 2025.

