Delusi adalah istilah dari keyakinan kuat yang tidak sesuai fakta namun sulit digoyahkan, meski sudah ada bukti yang bertentangan. Banyak orang mengira ini “sekadar halusinasi”, padahal delusi lebih berkaitan dengan cara menafsirkan realitas. Memahami penyebab delusi penting agar keluarga bisa lebih cepat mencari bantuan yang tepat.
Penyebab Delusi
1. Gangguan Psikotik dan Kondisi Kejiwaan Tertentu
Salah satu penyebab delusi paling sering adalah gangguan psikotik, yaitu saat seseorang kehilangan sebagian kontak dengan realitas. Kondisi yang dapat memunculkan delusi antara lain skizofrenia, gangguan skizoafektif, gangguan delusi, serta episode psikotik singkat. Pada skizofrenia, delusi dapat muncul bersama gejala lain seperti halusinasi dan pikiran/ucapan yang kacau.
2. Gangguan Mood dan Gejala Psikotik
Depresi berat atau gangguan bipolar kadang disertai fitur psikotik. Dalam situasi ini, penyebab delusi terkait perubahan suasana hati yang ekstrem sehingga cara berpikir menjadi sangat menyimpang (misalnya delusi rasa bersalah berlebihan atau delusi kebesaran).
3. Kondisi Medis/Neurologis yang Memengaruhi otak
Tidak semua penyebab delusi berasal dari gangguan psikiatri primer. Delusi juga bisa dipicu oleh penyakit atau gangguan medis yang memengaruhi otak, misalnya gangguan neurologis tertentu, infeksi berat, gangguan metabolik, atau kondisi lain yang mengubah fungsi otak. Karena itu, evaluasi medis sering diperlukan untuk menyingkirkan “psikosis akibat kondisi medis”.
Baca juga: Apa Perbedaan Burnout dan Depresi?
4. Delirium (Kebingungan Akut), Terutama pada Lansia
Delirium adalah perubahan kesadaran dan perhatian yang muncul mendadak, sering pada pasien sakit berat atau lansia. Dalam delirium, seseorang bisa tampak sangat bingung dan dapat mengalami salah persepsi, termasuk ide-ide tidak realistis. Jadi, pada sebagian kasus, penyebab delusi adalah kondisi akut yang butuh penanganan cepat.
5. Penyalahgunaan Zat dan Efek Putus Zat
Alkohol, obat terlarang, maupun beberapa zat psikoaktif dapat memicu psikosis termasuk delusi baik saat digunakan maupun saat putus zat. Di kelompok tertentu, penyebab delusi juga bisa berkaitan dengan psikosis yang dipicu zat tertentu (substance-induced psychosis).
6. Efek Samping Obat Tertentu
Pada sebagian orang, obat-obatan tertentu (misalnya yang memengaruhi sistem saraf pusat) dapat menimbulkan kebingungan atau gejala psikotik. Jika delusi muncul setelah mulai obat baru atau perubahan dosis, penyebab delusi perlu dievaluasi bersama dokter yang menangani untuk menilai kemungkinan efek samping atau interaksi obat
7. Faktor Genetik dan Kerentanan Biologis
Penelitian menunjukkan adanya kontribusi faktor keturunan pada berbagai gangguan mental, termasuk kondisi yang bisa memunculkan delusi. Artinya, penyebab delusi bisa melibatkan kerentanan biologis misalnya bila ada riwayat gangguan mental dalam keluarga yang kemudian dipicu oleh faktor lain.
8. Stres Berat dan Pengalaman Traumatis
Stres berkepanjangan, kehilangan besar, tekanan finansial, atau pengalaman traumatis dapat memperburuk kesehatan mental dan memicu kekambuhan pada orang yang rentan. Pada beberapa kasus, penyebab delusi berawal dari mekanisme “bertahan” psikologis yang maladaptif ketika stres menumpuk.
Baca juga: Apa Saja Strategi yang dapat Dilakukan agar Tidur Nyenyak Saat Stres?
Tanda Bahaya Delusi yang Perlu Penanganan Segera
1. Perilaku Membahayakan Diri Sendiri atau Orang Lain
Jika seseorang dengan delusi mulai melukai diri, mengancam orang lain, atau bertindak agresif karena keyakinannya, kondisi ini sudah masuk kategori gawat darurat. Dalam situasi ini, penyebab delusi perlu segera dievaluasi oleh tenaga medis untuk mencegah risiko yang lebih serius.
2. Menolak Makan dan Minum
Delusi dapat membuat seseorang percaya bahwa makanan atau minuman tertentu berbahaya, beracun, atau “dikendalikan” pihak tertentu. Bila dibiarkan, kondisi ini bisa menyebabkan dehidrasi dan malnutrisi. Ini merupakan tanda bahwa penyebab delusi sudah mengganggu fungsi dasar tubuh.
3. Tidak Tidur Selama Beberapa Hari Berturut-turut
Kurang tidur ekstrem dapat memperburuk delusi dan kondisi mental secara keseluruhan. Siklus ini berbahaya karena kurang tidur juga bisa menjadi penyebab delusi semakin parah dan sulit dikendalikan tanpa bantuan profesional.
4. Kebingungan Mendadak, Terutama pada Lansia
Pada orang lanjut usia, delusi yang muncul tiba-tiba sering berkaitan dengan delirium atau kondisi medis akut. Dalam kasus ini, penyebab delusi bisa berasal dari infeksi, gangguan metabolik, atau efek obat, sehingga membutuhkan pemeriksaan medis segera.
5. Riwayat atau Penggunaan Zat Adiktif
Alkohol, obat-obatan terlarang, atau penyalahgunaan obat resep tertentu dapat memicu atau memperburuk delusi. Jika delusi muncul bersamaan dengan penggunaan zat, maka penyebab delusi kemungkinan besar berkaitan dengan efek zat atau putus zat dan perlu penanganan khusus, misalnya program rehabilitasi dari ketergantungan obat.
Delusi bukan sekadar perubahan cara berpikir, tetapi kondisi serius yang dapat dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari gangguan kesehatan mental, kondisi medis tertentu, penggunaan zat, hingga stres berat. Mengenali penyebab delusi sejak dini sangat penting agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat, tepat, dan mencegah kondisi semakin memburuk serta mengganggu kualitas hidup penderitanya.
Baca juga: Konsultasi Psikolog di Rumah
Jika Anda atau orang terdekat mengalami tanda-tanda delusi, Kavacare menyediakan layanan psikologis secara online yang aman, nyaman, dan profesional. Konsultasi dapat dilakukan dari rumah untuk membantu memahami penyebab delusi serta menentukan langkah penanganan yang sesuai. Hubungi Kavacare Support di nomor WhatsApp 0811-1446-777.
Sumber:
- Psychosis and Bipolar Disorders – World Health Organization. https://www.who.int/teams/mental-health-and-substance-use/treatment-care/mental-health-gap-action-programme/evidence-centre/psychosis-and-bipolar-disorders. Diakses pada 23 Desember 2025.
- Causes Psychosis – National Health Service (NHS) UK. https://www.nhs.uk/mental-health/conditions/psychosis/causes/. Diakses pada 23 Desember 2025.
- Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5-TR) – American Psychiatric Association (APA). https://www.psychiatry.org/psychiatrists/practice/dsm. Diakses pada 23 Desember 2025.

