Apa Sebenarnya Deep Brain Stimulation Terapi dan Kapan Harus Dipertimbangkan Homecare Kavacare

Apa Sebenarnya Deep Brain Stimulation Terapi dan Kapan Harus Dipertimbangkan?

Deep brain stimulation terapi adalah prosedur bedah neurosirkuit yang menanamkan elektroda di area tertentu otak dan menghubungkannya ke generator pulsa di dada untuk mengatur sinyal saraf secara elektrik. Terapi ini digunakan pada gangguan seperti Parkinson, tremor esensial, dan distonia ketika obat tidak lagi efektif. Melalui stimulasi yang dapat disesuaikan, deep brain stimulation terapi membantu menstabilkan aktivitas otak tanpa merusak jaringan, sehingga gejala seperti tremor dan kekakuan berkurang. Meski tergolong aman dan dapat meningkatkan kualitas hidup, deep brain stimulation terapi tetap memiliki risiko seperti infeksi, perdarahan, atau efek perubahan suasana hati. Evaluasi pasien oleh tim multidisipliner sangat penting sebelum menjalani deep brain stimulation terapi agar hasilnya optimal. Terapi ini terus dikembangkan dengan teknologi yang lebih canggih, termasuk sistem yang bisa menyesuaikan stimulasi secara otomatis sesuai respons otak, menjadikan deep brain stimulation terapi salah satu inovasi menjanjikan di bidang neurologi modern.  

Waktu yang Tepat untuk Menjalani Deep Brain Stimulation Terapi

1. Saat Obat Tidak Lagi Efektif

Deep brain stimulation terapi biasanya dipertimbangkan ketika pengobatan dengan obat-obatan (misalnya levodopa untuk Parkinson) sudah tidak mampu lagi mengontrol gejala secara optimal. Jika pasien masih mengalami tremor, kekakuan, atau gangguan gerak meski dosis obat sudah ditingkatkan, ini menjadi waktu yang tepat untuk menggunakan terapi deep brain stimulation.

2. Saat Efek Samping Obat Terlalu Berat

Beberapa pasien mengalami efek samping berat akibat penggunaan jangka panjang obat neurologis, seperti gerakan tak terkendali (dyskinesia), mual, atau gangguan tidur. Deep brain stimulation terapi dapat menjadi alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap obat-obatan tersebut tanpa menambah efek samping baru yang signifikan.

3. Ketika Gejala Mengganggu Aktivitas Sehari-hari

Waktu yang ideal untuk melakukan deep brain stimulation terapi adalah ketika gejala mulai menghambat aktivitas seperti makan, menulis, berjalan, atau berbicara. Tujuan utamanya adalah meningkatkan kualitas hidup, bukan hanya mengurangi gejala medis, sehingga intervensi dilakukan sebelum pasien kehilangan fungsi motorik sepenuhnya.

4. Saat Kondisi Fisik Masih Memadai untuk Operasi

Karena deep brain stimulation terapi melibatkan pembedahan, pasien perlu dalam kondisi kesehatan umum yang cukup baik, terutama dari sisi jantung, tekanan darah, dan fungsi paru. Jika kondisi fisik masih memungkinkan, waktu tersebut menjadi momen terbaik untuk menjalani prosedur sebelum risiko operasi meningkat akibat usia atau penyakit penyerta.

Baca juga: Sampai di Mana Pengembangan Terapi Imun Terhadap Kanker?

5. Setelah Evaluasi Tim Medis Multidisipliner

Sebelum dilakukan, pasien harus melalui penilaian oleh tim dokter saraf, bedah saraf, dan psikiater. Waktu yang tepat untuk deep brain stimulation terapi adalah setelah semua hasil pemeriksaan (MRI, tes respons obat, hingga evaluasi mental) menunjukkan bahwa pasien dapat memperoleh manfaat maksimal dari prosedur ini.

6. Saat Pasien Siap Komitmen Jangka Panjang

Deep brain stimulation terapi memerlukan tindak lanjut rutin untuk penyesuaian stimulasi, penggantian baterai alat, dan pemantauan efek klinis. Karena itu, terapi ini sebaiknya dilakukan saat pasien dan keluarga siap secara mental serta memiliki dukungan yang cukup untuk mengikuti perawatan lanjutan.

Manfaat Deep Brain Stimulation Terapi

Deep brain stimulation terapi sudah memiliki indikasi yang cukup kuat pada gangguan-gerak (movement disorders) seperti:

1. Tremor Esensial (Essential Tremor)

Deep brain stimulation terapi terbukti efektif mengurangi gerakan dan getaran tidak terkendali pada tangan, kepala, atau suara yang sering terjadi pada pasien dengan tremor esensial. Dengan stimulasi elektrik yang stabil, aktivitas saraf di area otak pengatur gerakan menjadi lebih seimbang, sehingga pasien dapat beraktivitas dengan lebih percaya diri dan mandiri.

2. Penyakit Parkinson 

Pada pasien Parkinson yang tidak lagi merespons obat, deep brain stimulation terapi membantu mengurangi gejala utama seperti tremor, kekakuan, dan gerakan lambat. Banyak studi menunjukkan bahwa terapi ini meningkatkan kualitas hidup, mengurangi ketergantungan obat dopamin, serta memperbaiki kemampuan motorik pasien secara signifikan.

3. Dystonia

Dystonia ditandai dengan kontraksi otot yang menyebabkan posisi tubuh tidak normal. Deep brain stimulation terapi menstimulasi area otak yang mengontrol koordinasi gerak, membantu mengendurkan otot, dan mengurangi kejang yang sering kali menyakitkan. Dengan terapi ini, pasien dapat bergerak lebih bebas dan nyaman.

4. Gangguan Kejang dan Epilepsi

Selain untuk gangguan gerak, penelitian menunjukkan bahwa deep brain stimulation terapi juga bermanfaat untuk mengontrol aktivitas listrik abnormal penyebab kejang pada pasien epilepsi yang tidak merespons obat. Terapi ini menstabilkan sinyal saraf, menurunkan frekuensi dan intensitas serangan.

5. Depresi Berat dan Gangguan Psikiatrik

Deep brain stimulation terapi mulai digunakan untuk pasien dengan depresi berat atau gangguan obsesif-kompulsif (OCD) yang tidak membaik dengan terapi psikologis atau obat. Dengan menstimulasi area otak yang terkait dengan suasana hati, terapi ini membantu menyeimbangkan sistem limbik sehingga emosi lebih stabil.

Baca juga: Depresi pada Lansia: Penyebabnya, Pencegahan, dan Terapinya    

Manfaat Umum Deep Brain Stimulation Terapi

1. Mengurangi Gejala Tremor, Kekakuan, dan Kejang Otot

Deep brain stimulation terapi bekerja dengan menstimulasi area otak yang mengatur gerakan tubuh, seperti subthalamic nucleus atau globus pallidus internus. Stimulasi listrik ini membantu menyeimbangkan sinyal saraf yang abnormal, sehingga gejala seperti tremor, kekakuan otot, dan kejang berulang dapat berkurang secara signifikan. Banyak pasien melaporkan kemampuan gerak yang lebih halus dan stabil setelah terapi ini dijalankan.

2. Menurunkan Dosis Obat dan Efek Samping Jangka Panjang

Dengan pengendalian gejala yang lebih baik, pasien yang menjalani deep brain stimulation terapi biasanya dapat mengurangi dosis obat yang selama ini dikonsumsi. Pengurangan dosis ini juga berarti menurunnya risiko efek samping jangka panjang, seperti mual, disorientasi, atau gerakan tak terkendali akibat penggunaan obat dopaminergik. Terapi ini memberikan keseimbangan antara efektivitas pengobatan dan kenyamanan pasien.

3. Meningkatkan Kualitas Hidup dan Kemampuan Fungsi Motorik

Salah satu tujuan utama deep brain stimulation terapi adalah mengembalikan kemampuan dasar pasien untuk beraktivitas, seperti berjalan, makan, menulis, dan berbicara tanpa gangguan berat. Dengan berkurangnya gejala motorik, pasien bisa kembali melakukan kegiatan sehari-hari dengan lebih mandiri. Hasilnya adalah peningkatan kualitas hidup baik secara fisik maupun psikologis.

4. Dapat Disesuaikan dan Bersifat Reversibel tanpa Merusak Jaringan Otak

Keunggulan deep brain stimulation terapi dibandingkan operasi otak konvensional adalah sifatnya yang reversibel dan dapat disesuaikan. Dokter dapat mengatur intensitas serta lokasi stimulasi secara non-invasif setelah operasi, menyesuaikan dengan kebutuhan dan respons pasien. Tidak ada jaringan otak yang diangkat atau dihancurkan, sehingga terapi ini lebih aman dan fleksibel dalam jangka panjang.

5. Mendukung Pasien untuk Kembali Beraktivitas dengan Mandiri dan Percaya Diri

Setelah menjalani deep brain stimulation terapi, banyak pasien mampu kembali menjalani kehidupan aktif, termasuk bekerja, berolahraga ringan, dan bersosialisasi tanpa ketergantungan penuh pada bantuan keluarga atau caregiver. Pemulihan fungsi motorik yang stabil juga meningkatkan rasa percaya diri dan kesehatan mental pasien, menjadikan terapi ini langkah penting dalam proses rehabilitasi neurologis yang berkelanjutan.

Baca juga: Bagaimana Peran Caregiver Lansia dalam Membantu Lansia Tetap Mandiri?

Deep brain stimulation terapi menjadi pilihan tepat ketika pengobatan medis tidak lagi efektif dan gejala mulai mengganggu aktivitas harian. Dengan teknologi yang dapat disesuaikan, terapi ini membantu mengontrol tremor, kekakuan, serta gangguan gerak tanpa merusak jaringan otak. Meski memerlukan komitmen jangka panjang dan pemantauan berkala, manfaatnya dalam meningkatkan kualitas hidup pasien sangat signifikan, terutama bila dilakukan di waktu yang tepat dengan dukungan tim medis berpengalaman.

Jika Anda atau orang terdekat tengah mempertimbangkan deep brain stimulation terapi, konsultasikan terlebih dahulu kondisi kesehatan Anda bersama tim medis profesional. Kavacare siap membantu mengatur jadwal pemeriksaan, rujukan dokter saraf, hingga pendampingan perawatan pasca tindakan di rumah. Informasi lebih lanjut, hubungi Kavacare Support di nomor WhatsApp 0811-1446-777.

Sumber: 

  1. Deep Brain Stimulation – Johns Hopkins Medicine. https://www.hopkinsmedicine.org/health/treatment-tests-and-therapies/deep-brain-stimulation. Diakses pada 7 November 2025. 
  2. Joachim K Krauss, Nir Lipsman, Tipu Aziz, Alexandre Boutet, Peter Brown. Technology of deep brain stimulation: current status and future directions. 2020 Nov 26;17(2):75–87. doi: 10.1038/s41582-020-00426-z. 
  3. Marwan Hariz, Patric Blomstedt. Deep brain stimulation for Parkinson’s disease. 2022 Jul 13;292(5):764–778. doi: 10.1111/joim.13541. 

Dr. Eddy Wiria, PhD

Co-Founder & CEO Kavacare