Myasthenia Gravis adalah penyakit autoimun langka, namun bagi penderita dan keluarganya adalah diagnosis yang mengubah kehidupan mereka. Penyakit ini menyerang sambungan antara saraf dan otot, menyebabkan kelemahan otot yang mudah lelah dan memburuk saat aktivitas. Pada kondisi ini, antibodi pasien keliru menyerang reseptor asetilkolin di otot, menyebabkan kerusakan, sehingga sinyal saraf tidak tersampaikan dengan baik. Akibatnya, otot terutama di mata, wajah, tenggorokan, lengan, kaki, hingga pernapasan menjadi lemah secara progresif dan sulit berfungsi optimal hingga akhirnya tidak berfungsi sama sekali. Penyebab Myasthenia Gravis berkaitan dengan gangguan pada sistem kekebalan, yang dapat dikaitkan dengan kelainan kelenjar timus, faktor genetik, dan pemicu eksternal seperti infeksi atau stres. Gejala Myasthenia Gravis antara lain kelopak mata turun, penglihatan ganda, kesulitan menelan, berbicara, atau bernapas. Diagnosis Myasthenia Gravis dapat dilakukan melalui pemeriksaan fisik, tes darah untuk antibodi, elektromiografi, serta pencitraan timus. Meski tidak menular, Myasthenia Gravis dapat mengganggu kualitas hidup penderita serta keluarganya, sehingga penting untuk mengenali gejalanya sejak dini agar mendapatkan penanganan tepat dan mencegah komplikasi serius.
Penyebab Myasthenia Gravis
Penyebab autoimun langka ini berkaitan dengan gangguan pada sistem kekebalan tubuh atau imunitas seseorang. Dalam kondisi penyakit autoimun, tubuh memproduksi antibodi yang keliru menyerang jaringan sehatnya sendiri. Pada Myasthenia Gravis, antibodi tersebut menyerang reseptor asetilkolin (AChR) atau protein lain seperti MuSK (muscle-specific kinase) yang berperan dalam komunikasi saraf dan otot. Akibatnya, fungsi-fungsi otot yang berhubungan dengan reseptor tersebut, tidak bisa dilakukan.
Selain itu, beberapa faktor berikut diduga juga berperan dalam memicu penyakit ini, antara lain:
1. Kelenjar Timus yang Tidak Normal
Kelenjar timus berperan penting dalam sistem kekebalan tubuh. Biasanya timus akan mengecil dan ‘menghilang’ sejalan dengan tumbuh kembang seseorang. Pada sebagian besar penderita, timus mereka ditemukan membesar (hiperplasia) atau terdapat tumor jinak (thymoma). Kondisi ini memicu pembentukan antibodi abnormal yang menyerang sambungan saraf dan otot.
2. Faktor Genetik dan Autoimun
Meskipun penyakit ini bukan karena riwayat keturunan langsung, seseorang dengan riwayat keluarga penderita penyakit autoimun memiliki risiko lebih tinggi. Penyakit autoimun lain seperti lupus atau tiroiditis juga sering ditemukan bersamaan dengan kondisi ini.
3. Faktor Lingkungan dan Pemicu Lain
Infeksi, stres, kehamilan, paparan obat tertentu, atau suhu panas dapat memperburuk gejala penyakit ini. Bahkan, penggunaan obat-obatan seperti antibiotik jenis tertentu atau beta-blocker bisa memperparah kelemahan otot.
Baca juga: 6 Jenis Penyakit Autoimun yang Umum
Gejala Myasthenia Gravis
Gejala Myasthenia Gravis bisa sangat bervariasi antar individu. Ciri khasnya adalah kelemahan otot yang memburuk saat digunakan dan membaik setelah istirahat. Berikut gejala yang paling sering muncul, antara lain:
1. Kelemahan Otot Mata (Ptosis & Diplopia)
Pada penderita Myasthenia Gravis, gejala awal yang paling sering muncul adalah kelemahan pada otot mata. Kelopak satu atau kedua mata biasanya tampak turun, terutama saat tubuh sedang lelah atau setelah beraktivitas seharian. Selain itu, penderita dapat mengalami penglihatan ganda yang arah bayangannya bisa berubah, baik horizontal maupun vertikal. Kondisi ini sering kali membaik setelah mata diistirahatkan sejenak. Gejala Myasthenia Gravis pada mata umumnya memberat di sore atau malam hari, terutama setelah membaca lama, menatap layar komputer, atau menyetir dalam waktu lama. Ciri khas yang membedakan gangguan ini dari penyakit mata lainnya adalah sifatnya yang fluktuatif gejala naik turun sesuai tingkat kelelahan, tanpa disertai nyeri mata berat.
2. Gangguan pada Wajah dan Tenggorokan (Dysarthria & Dysphagia)
Penderita Myasthenia Gravis sering mengalami gangguan pada wajah dan tenggorokan, yang membuat aktivitas sederhana seperti berbicara atau makan menjadi sulit. Suara penderita bisa terdengar pelan, sengau, atau mudah serak setelah berbicara lama, misalnya saat melakukan presentasi atau percakapan panjang. Kesulitan juga muncul saat mengunyah makanan bertekstur keras atau menelan, di mana penderita sering tersedak bahkan hanya dengan minum air. Gejala ini cenderung memburuk ketika seseorang makan dalam porsi besar, berbicara terus-menerus, kurang tidur, atau sedang stres, lalu membaik setelah beristirahat.
3. Kelemahan pada Lengan dan Kaki (Ekstremitas)
Penderita Myasthenia Gravis sering merasakan cepat lelah dan kehilangan tenaga saat melakukan aktivitas fisik seperti mengangkat barang, menyisir rambut, menaiki tangga, berdiri dari posisi jongkok, atau berjalan jauh. Kelelahan yang dirasakan bukan karena nyeri sendi, melainkan kelemahan otot yang umumnya membaik setelah beristirahat sejenak. Pada awal aktivitas, kinerja otot mungkin masih normal, namun akan menurun dengan cepat setelah digunakan berulang kali misalnya, saat mengangkat tangan berkali-kali, kekuatannya akan semakin melemah. Gejala ini biasanya lebih ringan di pagi hari dan memburuk pada sore atau malam hari. Berbeda dengan gangguan saraf lainnya, kelemahan pada Myasthenia Gravis tidak disertai mati rasa atau hilangnya refleks; sensasi dan perasaan di kulit tetap normal.
4. Gangguan Pernapasan (Myasthenic crisis = Gawat Darurat)
Pada penderita Myasthenia Gravis, salah satu kondisi paling serius yang dapat terjadi adalah gangguan pernapasan atau yang dikenal sebagai myasthenic crisis. Tanda awalnya meliputi napas yang terasa cepat atau pendek meski hanya melakukan aktivitas ringan, sulit menarik napas dalam, mudah terengah-engah saat berbicara, atau tidak mampu meniup dalam waktu lama. Gejala ini sering disertai suara yang melemah dan kesulitan menelan. Beberapa pemicu umum krisis pernapasan antara lain infeksi saluran pernapasan, penggunaan obat tertentu seperti antibiotik atau beta-blocker, operasi, stres berat, suhu panas, dan dehidrasi. Kondisi ini merupakan keadaan darurat medis, terutama jika penderita mengalami sesak napas yang semakin berat, sulit berbicara karena kehabisan napas, bibir atau kuku tampak kebiruan, atau kesulitan menelan air liur.
Baca juga: Apakah Penggunaan Antibiotika bisa Menyebabkan Masalah Autoimun?
Diagnosis Myasthenia Gravis
Diagnosis Myasthenia Gravis dilakukan dengan kombinasi pemeriksaan klinis, tes laboratorium, dan pencitraan. Langkah-langkah umum meliputi:
1. Pemeriksaan Fisik dan Wawancara Medis
Dokter akan menanyakan kapan gejala muncul, bagaimana pola kelemahan otot, serta bagian tubuh yang paling terpengaruh. Tes sederhana seperti pemeriksaan kekuatan otot mata dapat memberikan petunjuk awal.
2. Tes Darah untuk Antibodi Autoimun
Pemeriksaan darah digunakan untuk mendeteksi keberadaan antibodi terhadap reseptor asetilkolin (AChR) atau protein MuSK. Hasil positif menandakan adanya Myasthenia Gravis.
3. Elektromiografi (EMG)
Tes ini mengukur aktivitas listrik otot untuk mengetahui apakah sinyal dari saraf diteruskan dengan baik. Pada pasien Myasthenia Gravis, hasil EMG menunjukkan adanya gangguan transmisi sinyal neuromuskular.
4. Tes Pencitraan (CT atau MRI)
Tes pencitraan dada dilakukan untuk memeriksa apakah ada pembesaran atau tumor pada kelenjar timus yang sering dikaitkan dengan Myasthenia Gravis.
5. Tes Farmakologis (Tensilon Test)
Pada beberapa kasus, dokter dapat memberikan obat yang dapat meningkatkan kadar asetilkolin sementara untuk melihat apakah kelemahan otot membaik, sebagai tanda khas Myasthenia Gravis.
Baca juga: Apa Itu Penyakit Hashimoto dan Bagaimana Cara Mengatasinya?
Myasthenia Gravis adalah penyakit autoimun yang memengaruhi sambungan antara saraf dan otot, menyebabkan kelemahan yang memburuk saat aktivitas. Penyebab utamanya berasal dari kesalahan sistem imun yang menyerang reseptor asetilkolin, dengan faktor pendukung seperti gangguan kelenjar timus, stres, dan infeksi.
Mengenali gejala Myasthenia Gravis sejak dini seperti kelopak mata turun, kesulitan menelan, atau kelelahan otot berulang sangat penting agar diagnosis dapat ditegakkan lebih cepat. Dengan diagnosis dan terapi yang tepat, pasien Myasthenia Gravis tetap dapat menjalani kehidupan aktif dan produktif untuk waktu yang lebih lama.
Sumber:
- Myasthenia Gravis (MG) – Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/17252-myasthenia-gravis-mg. Diakses pada 30 Oktober 2025.
- Myasthenia Gravis – National Institute of Neurological Disorders and Stroke (NINDS). https://www.ninds.nih.gov/health-information/disorders/myasthenia-gravis. Diakses pada 30 Oktober 2025.
- Myasthenia Gravis – NHS. https://www.nhs.uk/conditions/myasthenia-gravis/. Diakses pada 30 Oktober 2025.

