Perlukah Melakukan Medical Check Up Teratur?

Perlukah Melakukan Medical Check Up Teratur?

Share

Orang yang tampak sehat dan bugar setiap hari tak selalu berarti bebas dari risiko penyakit. Ada sejumlah penyakit yang disebut silent killer karena bisa menyerang dan berakibat fatal tanpa ada gejala atau tanda yang jelas sebelumnya. Itulah kenapa masyarakat disarankan menjalani medical check up teratur. Yang menjadi pertanyaan adalah kapan perlu medical check up?  

Apakah yang Dimaksud dengan Medical Check Up?

Medical check up adalah istilah yang mengacu pada serangkaian pemeriksaan medis secara menyeluruh dengan berbagai alat dan tes untuk mengetahui kondisi kesehatan seseorang. Dari pemeriksaan ini, dokter dapat memperoleh informasi tentang indikasi gangguan kesehatan pada pasien. Hasil medical check up dapat memberikan petunjuk mengenai potensi penyakit yang bisa berkembang.

Bila dalam medical check up ditemukan indikasi tersebut, dokter dapat mengambil tindakan pengobatan lebih awal sebelum penyakit berkembang lebih parah sehingga menyulitkan perawatan. Dalam pemeriksaan medis ini, dokter akan menggelar sesi tanya-jawab dengan pasien untuk mengetahui keluhan terkait dengan kesehatan serta memeriksa seluruh tubuh pasien dengan bantuan alat ataupun tanpa alat.

Medical check up juga berfungsi sebagai alat screening atau penyaringan dalam konteks tertentu. Misalnya bagi calon karyawan baru di suatu perusahaan. Perusahaan bisa meminta calon karyawan itu menjalani medical check up untuk mengetahui potensi masalah kesehatan yang ada. Bila ternyata calon karyawan mengidap penyakit serius, besar kemungkinan ia tak dapat masuk perusahaan tersebut karena produktivitasnya bisa terpengaruh.

Kapan Perlu Melakukan Medical Check Up dan Alasannya?

Medical check up berfungsi sebagai upaya deteksi dini dan pencegahan penyakit. Karena itu, ihwal kapan perlu medical check up bergantung pada faktor risiko masing-masing orang. Faktor risiko itu antara lain usia, kebiasaan, jenis kelamin, pola makan, riwayat kesehatan keluarga, dan lingkungan sekitar. Karena itu, kebutuhan medical check up setiap orang bisa berbeda-beda.

Pada 2012, American Board of Internal Medicine Foundation meluncurkan kampanye Choosing Wisely. Tujuan kampanye ini adalah mendorong dokter dan pasien untuk memilih layanan kesehatan yang didukung oleh bukti, bukan duplikat tes atau prosedur lain yang sudah dijalani, tak membahayakan, dan benar-benar dibutuhkan. 

Terkait dengan kampanye itu, medical check up sebagai sarana pencegahan dan deteksi dini tidak selalu tepat dijalani secara rutin dalam kasus-kasus tertentu. Banyak penyakit yang lebih bisa dikendalikan dan diatasi bila terdeteksi sejak dini, misalnya kanker payudara, usus buntu, rheumatoid arthritis, dan pneumonia bakteri. Tapi ada juga penyakit yang belum memiliki bukti bahwa penanganan sejak dini efektif membantu penyembuhan, seperti leukemia, sarkoidosis, osteoartritis, flu biasa, dan banyak penyakit lain akibat infeksi virus.

Meski begitu, hampir semua sepakat bahwa medical check up rutin diperlukan bagi kalangan lansia. Sebab, terjadi penurunan fungsi sistem tubuh seiring dengan bertambahnya usia. Lansia bisa berkonsultasi dengan dokter tentang kapan perlu medical check up sesuai dengan kondisinya.

Tips Pemeriksaan yang Diperlukan dan Frekuensinya

Umumnya lansia disarankan menjalani medical check up teratur setiap 1-2 tahun bila punya faktor risiko tertentu. Sebagai contoh, lansia yang tekanan darahnya normal disarankan menjalani tes per 2 tahun. Sedangkan bila tekanan darahnya kerap tinggi, tes sebaiknya dilakukan setidaknya per tahun.

Contoh kapan perlu medical check up untuk beberapa kondisi tertentu antara lain:

  • Gigi 6-12 bulan sekali
  • Kanker serviks tiap 5 bulan
  • Penyakit jantung per 2 tahun
  • Diabetes tipe 2 tiap 3 tahun
  • Kanker payudara setidaknya 2 tahun sekali, lebih sering bila ada riwayat kanker payudara dalam keluarga
  • Masalah penglihatan dan pendengaran 12 bulan sekali

Untuk mengetahui apakah Anda memerlukan medical check up dan seberapa sering menjalani pemeriksaan kesehatan menyeluruh, sebaiknya kunjungi dokter untuk konsultasi. Dokter akan memberikan rekomendasi setelah menilai faktor risiko yang Anda miliki.

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik menjadi bagian tak terpisahkan dari medical check up. Dalam pemeriksaan ini, dokter akan mengecek tanda-tanda vital pada tubuh, seperti berat badan, tekanan darah, laju napas, dan detak jantung. Dokter juga akan memeriksa kondisi mata, hidung, telinga, mulut, rambut, kulit, dan organ luar lain secara visual ataupun menggunakan alat. 

Bila pasien memiliki faktor risiko tertentu, dokter akan berfokus pada hal tersebut. Misalnya pasien datang dari keluarga yang punya riwayat penyakit jantung, maka dokter akan memfokuskan pemeriksaan pada tanda-tanda vital terkait dengan jantung. Pemeriksaan ini juga dapat menjadi kesempatan untuk mendiskusikan upaya pencegahan penyakit di masa depan dengan dokter.

Pemeriksaan Laboratorium dan Scan/Foto

Pasien bisa diminta menjalani tes laboratorium dan scan/foto untuk mengecek organ dalam guna melengkapi hasil pemeriksaan fisik. Di antaranya pemeriksaan darah lengkap, pemeriksaan urine, dan pemeriksaan rontgen. Dari hasil tes darah lengkap, misalnya, dapat diketahui indikasi adanya masalah pada ginjal, hati, dan sistem imun. Dalam tes darah, sampel darah pasien akan diambil untuk diperiksa di laboratorium.

Adapun pemeriksaan scan/foto menggunakan peralatan untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi organ dalam. Contohnya computed tomography (CT) scan, ultrasonografi, dan magnetic resonance imaging (MRI). Pemeriksaan ini umumnya tak menimbulkan rasa sakit, relatif aman, dan tanpa prosedur pembedahan.

Pemeriksaan Kesehatan di Rumah VS Rumah Sakit VS Laboratorium

Medical check up umumnya dilakukan di rumah sakit atau laboratorium. Tapi adakalanya pasien hanya bisa mengakses layanan pemeriksaan kesehatan di rumah karena kondisinya. Karena itu, medical check up di rumah umumnya hanya berfokus pada pemeriksaan pasien terkait dengan kondisi yang dialami dengan pilihan layanan dan peralatan terbatas.

Sedangkan medical check up di rumah sakit biasanya dilakukan atas permintaan dokter seusai konsultasi. Misalnya pasien datang dengan keluhan tertentu. Maka untuk membantu menegakkan diagnosis, dokter meminta pasien menjalani medical check up. Hasilnya akan dijadikan bahan untuk menentukan tindakan selanjutnya.

Adapun medical check up di laboratorium umumnya dilakukan pasien yang memang berkeinginan mengetahui kondisi kesehatannya meski tak ada gejala. Namun bisa juga pasien menjalani pemeriksaan kesehatan di laboratorium atas rekomendasi dokter. Baik rumah sakit maupun laboratorium mandiri menyediakan layanan dengan peralatan dan tenaga medis yang lebih komplet daripada medical check up di rumah.

Sumber

Overview of Imaging Tests. https://www.msdmanuals.com/home/special-subjects/common-imaging-tests/overview-of-imaging-tests. Diakses 9 Juni 2022

Getting a Physical Examination. https://www.healthline.com/find-care/articles/primary-care-doctors/getting-physical-examination. Diakses 9 Juni 2022

Are early detection and treatment always best?. https://www.health.harvard.edu/blog/are-early-detection-and-treatment-always-best-2021012821816. Diakses 9 Juni 2022

The medical check-up. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1506786/?page=3. Diakses 9 Juni 2022

Choosing Wisely. https://www.choosingwisely.org/our-mission/. Diakses 9 Juni 2022

Health screenings for men age 65 and older. https://medlineplus.gov/ency/article/007466.htm. Diakses 9 Juni 2022 

Avatar
Reviewed by:
Ditinjau oleh:

Dr. Eddy Wiria, PhD

Co-Founder & CEO Kavacare