Apa Saja Tahapan Screening Hati yang Disarankan Dokter Homecare Kavacare

Apa Saja Tahapan Screening Hati yang Disarankan Dokter?

Mengejutkan sekali bagi banyak masyarakat awam, bahwa banyak penyakit hati berkembang tanpa gejala yang jelas. Karena itu, screening kondisi hati membantu untuk menemukan masalah lebih awal, mulai dari perlemakan hati, hepatitis karena virus, hingga risiko sirosis dan kanker hati. 

Tahapan Screening Hati 

1. Asesmen Risiko dan Keluhan 

Tahap awal screening hati dimulai dari wawancara singkat: riwayat hepatitis B/C, diabetes, obesitas, konsumsi alkohol, obat/suplemen, serta riwayat keluarga. Dokter juga menilai apakah Anda termasuk kelompok yang perlu surveilans HCC (Hepatocellular Carcinoma). 

2. Pemeriksaan Fisik 

Pemeriksaan fisik melihat tanda seperti pembesaran hati/limpa, bengkak kaki, asites, atau kulit dan mata kuning, serta bila ada misalnya tanda khusus seperti jaring laba-laba di perut. Hasilnya membantu menentukan paket screening berikutnya. 

3. Tes Darah Fungsi Hati 

Umumnya meliputi AST/ALT, gamma gt, alkalin fosfatase, bilirubin, total protein, albumin, INR (International Normalized Ratio) atau yang biasa di sebut parameter pemeriksaan darah, dan trombosit. Tes ini tidak selalu “mengunci” diagnosis, tetapi penting untuk memetakan tingkat peradangan dan fungsi sintesis hati dalam screening hati.

4. Screening Hepatitis B dan C 

Hepatitis B/C dapat tanpa gejala bertahun-tahun. WHO merekomendasikan strategi tes hepatitis B dan C berdasarkan prevalensi dan kelompok berisiko, dengan tindak lanjut ke layanan perawatan setelah hasil keluar. 

Baca juga: Penyakit Hepatitis B: Penyebab dan Gejalanya

5. Skor Fibrosis dari Darah 

Banyak klinik memakai tahapan bertingkat: hitung skor FIB-4 (Fibrosis-4 Index), yaitu skor awal dalam screening hati untuk menilai risiko fibrosis menggunakan data tes darah rutin, sebelum melanjutkan ke pemeriksaan yang lebih spesifik seperti FibroScan.alu lanjut pemeriksaan lebih spesifik bila risikonya tinggi. EASL (European Association for the Study of the Liver) mencontohkan pendekatan dua tingkat seperti FIB-4 (Fibrosis-4 Index) dilanjut transient elastography. Tahap ini sering menjadi “gerbang” penting dalam screening hati pada fatty liver dan hepatitis kronis.

6. USG Abdomen 

Pemeriksaan USG dengan gelombang suara, menilai perlemakan, pembesaran hati, kelainan saluran empedu, hingga adanya benjolan. Untuk sebagian pasien, USG juga menjadi komponen utama screening hati berkala.

7. Elastografi (FibroScan/transient elastography)

Jika dicurigai fibrosis, elastografi membantu mengukur kekakuan hati secara non-invasif. Pedoman EASL ((European Association for the Study of the Liver)  membahas peran transient elastography (FibroScan) untuk staging fibrosis pada berbagai penyakit hati. Hasilnya membantu dokter menentukan intensitas screening hati lanjutan.

8. Surveillance Kanker Hati pada Risiko Tinggi: USG + AFP

Pada kelompok risiko tinggi (misalnya sirosis, atau sebagian pasien hepatitis B kronis sesuai penilaian dokter), AASLD merekomendasikan surveilans HCC dengan USG dan AFP, umumnya tiap 6 bulan. Jika ada lesi kecil tertentu, AASLD juga membahas pemantauan ulang 3–6 bulan pada kondisi yang sesuai.Ini adalah tahap screening hati yang paling krusial untuk mencegah keterlambatan diagnosis HCC.

9. Pemeriksaan Lanjutan Bila Ada Temuan 

Bila ada kecurigaan tumor/kelainan kompleks, dokter dapat merekomendasikan CT/MRI multiphasic untuk menilai karakteristik lesi, dan pada kasus tertentu biopsi.

Faktor Risiko Seseorang Memerlukan Screening Hati 

1. Orang dengan Obesitas atau Kelebihan Berat Badan 

Penumpukan lemak tubuh, terutama lemak viseral, berhubungan erat dengan perlemakan hati non-alkoholik (NAFLD). Kondisi ini sering tidak bergejala, sehingga screening hati penting untuk mendeteksi tanda-tanda peradangan atau fibrosis sejak dini.

Baca juga: Menangani Obesitas: Tips Sehat untuk Menurunkan Berat Badan dengan Pola Makan dan Aktivitas Fisik

2. Penderita Diabetes Melitus atau Resistensi Insulin 

Diabetes meningkatkan risiko kerusakan hati secara progresif. Banyak penderita diabetes mengalami fatty liver tanpa disadari, sehingga screening hati membantu memantau kondisi hati sebelum berkembang menjadi sirosis.

3. Individu dengan Dislipidemia (Kolesterol atau Trigliserida Tinggi)

Gangguan metabolisme lemak dapat mempercepat penumpukan lemak di hati. Melalui screening hati, dokter dapat menilai apakah gangguan ini sudah memengaruhi fungsi atau struktur hati.

4. Konsumsi Alkohol Berlebihan atau Jangka Panjang 

Alkohol adalah salah satu penyebab utama kerusakan hati kronis. Screening hati dibutuhkan meskipun belum muncul keluhan, karena kerusakan awal sering tidak menimbulkan gejala.

5. Memiliki Riwayat Hepatitis B atau Hepatitis C

Infeksi hepatitis virus dapat berlangsung lama tanpa keluhan, namun berisiko menyebabkan sirosis dan kanker hati. Oleh karena itu, screening hati rutin sangat dianjurkan untuk memantau perkembangan penyakit.

6. Memiliki Anggota Keluarga dengan Sirosis atau Kanker Hati 

Riwayat keluarga dengan penyakit hati termasuk penanda risiko tinggi, baik karena faktor genetik maupun pola hidup yang serupa. Screening hati membantu mendeteksi perubahan lebih awal pada kelompok ini.

7. Penggunaan Obat atau Suplemen Tertentu dalam Jangka Panjang

Beberapa obat dan suplemen herbal, walaupun disebut dari bahan alami, tetap dapat membebani kerja hati. Dengan melakukan screening hati, efek samping terhadap fungsi hati dapat diketahui lebih cepat.

8. Kelompok Risiko Tinggi yang Perlu Dipantau Secara Berkala

Pada individu dengan risiko tinggi, screening hati perlu dilakukan secara teratur (misalnya setiap 6 bulan), terutama untuk mendeteksi komplikasi seperti kanker hati sedini mungkin.

Baca juga: 6 Jenis Makanan untuk Pengidap Sirosis Hati

Screening hati merupakan langkah penting untuk mendeteksi gangguan hati sejak dini, terutama karena banyak penyakit hati berkembang tanpa gejala. Dengan tahapan pemeriksaan yang tepat dan dilakukan secara berkala, screening hati dapat membantu mencegah komplikasi serius seperti sirosis hingga kanker hati, sekaligus meningkatkan peluang penanganan yang lebih efektif.

Ingin melakukan screening hati dengan lebih mudah dan terencana? Kavacare siap membantu Anda menjadwalkan screening hati di rumah sakit terpercaya, baik di dalam maupun luar negeri, sesuai kebutuhan dan kondisi Anda. Informasi lebih lanjut, hubungi Kavacare Support di nomor WhatsApp 0811-1446-777. 

Sumber: 

  1. Guidelines on Hepatitis B and C Testing – World Health Organization. https://www.who.int/publications/i/item/9789241549981?. Diakses pada 23 Desember 2025. 
  2. Clinical Screening and Diagnosis for Hepatitis C – Centers for Disease Control and Prevention (CDC). https://www.cdc.gov/hepatitis-c/hcp/diagnosis-testing/index. Diakses pada 23 Desember 2025. 
  3. Liver Disease – National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK). https://www.niddk.nih.gov/health-information/liver-disease. Diakses pada 23 Desember 2025. 
Artikel ini telah direview oleh

Dr. Eddy Wiria, PhD

Co-Founder & CEO Kavacare