7 Cara Merawat Luka Diabetes

7 Cara Merawat Luka Diabetes

  • Post category:Perawatan
Share

Luka diabetes adalah komplikasi pada pasien diabetes yang bisa meningkatkan risiko keparahan hingga kematian pengidapnya. Diperkirakan 19-34% pasien diabetes secara keseluruhan terdampak luka diabetes, terutama di area kaki. 

Namun dengan perawatan yang tepat dan dilakukan secepat mungkin, luka diabetes dapat tertangani. Tentunya juga bisa mengurangi risiko kefatalan akibat komplikasi luka diabetes.

Berikut informasi yang telah dirangkum Kavacare seputar merawat luka diabetes.

1. Pengangkatan Jaringan

Salah satu cara merawat luka diabetes adalah pengangkatan jaringan yang telah mati (nekrosis) dari luka, perawatan jaringan yang tidak bisa sembuh sempurna, serta mengangkat area-area yang menebal di sekitar luka (kapalan).

Mengangkat jaringan mati pada luka dapat membantu proses penyembuhan dan pembentukan jaringan baru yang sehat agar luka bisa menutup. Mengangkat area kulit yang menebal pada luka diabetes di bagian telapak kaki misalnya, bisa membantu mengurangi tekanan tambahan yang berisiko memperparah kondisi luka.

Pengangkatan jaringan juga penting untuk mengontrol penyebaran infeksi. Jaringan nekrosis menjadi tempat berkembangnya bakteri karena antibiotik tidak dapat bekerja optimal di bagian tersebut, serta membatasi respons kekebalan tubuh untuk melawan infeksi.

Teknik pengangkatan jaringan yang lebih disarankan adalah debridemen tajam (sharp debridement), yaitu pengangkatan jaringan menggunakan pisau bedah, forsep, dan kuret. Teknik ini lebih efektif dibandingkan teknik pengangkatan jaringan dengan perban khusus maupun debridemen biologis.

2. Membalut Luka

Pada setiap pasien, cara merawat luka diabetes akan berbeda-beda. Hal ini juga dipengaruhi luka diabetes yang cenderung beragam kondisinya. Oleh karena itu, tidak ada satu jenis perban pembalut luka yang cocok untuk semua jenis luka diabetes.

Secara umum, tujuan membalut luka diabetes adalah untuk menciptakan lingkungan dengan kelembapan optimal di area luka. Hal ini mempengaruhi proses penyembuhan luka, contohnya mempercepat sel-sel kulit untuk membentuk jaringan sehat dan menutup luka.

Dalam merawat luka diabetes, pemilihan perban juga harus mempertimbangkan cairan yang mungkin merembes dari luka. Ada banyak jenis perban yang tersedia. Penggunaannya perlu disesuaikan kondisi luka karena belum ditemukan satu jenis perban khusus luka diabetes.

3. Mengurangi Tekanan pada Area Luka

Luka diabetes paling sering terjadi di area kaki, terutama pada telapak kaki. Sehari-hari telapak kaki menjadi titik tumpuan beban tubuh. Maka tekanan ini sering menjadi faktor utama terjadinya luka diabetes sekaligus menghambat proses penyembuhan.

Mengurangi tekanan di area telapak kaki menjadi salah satu fokus dalam merawat luka diabetes. Selain mempercepat penyembuhan, juga bisa mencegah terjadinya luka berulang.

Mengurangi tekanan di area telapak kaki bisa dilakukan dengan banyak hal. Contohnya penggunaan alas kaki yang dimodifikasi, menyesuaikan dengan riwayat letak luka diabetes maupun penyakit arteri perifer.

Selain itu, pasien mungkin perlu pengangkatan kalus atau kulit yang menebal. Pengangkatan ini perlu dilakukan di layanan kesehatan.

 

Baca Juga Tata Cara Perawatan Luka Diabetes dan Luka Gangren

 

4. Pemeriksaan Kondisi Vaskuler

Pada pasien dengan luka diabetes, sekitar 40% berisiko mengalami penyakit arteri perifer. Pengidap luka diabetes yang juga mengalami masalah vaskuler akan lebih lambat proses penyembuhan lukanya, serta memiliki risiko amputasi dan kematian yang lebih tinggi. Maka direkomendasikan pada pasien luka diabetes untuk menjalani pemeriksaan penyakit arteri perifer.

Jenis pemeriksaan yang direkomendasikan antara lain melalui palpasi denyut pada nadi kaki dan ankle-brachial index (ABI). Jika hasil pemeriksaan menunjukkan adanya indikasi di luar batas normal, pasien mungkin perlu menjalani rangkaian pemeriksaan lanjutan seperti tekanan sistolik jari kaki dan perekaman volume denyut nadi. Jika pada pemeriksaan lanjutan ada tanda abnormal, maka diagnosis penyakit arteri perifer bisa ditegakkan.

5. Menangani Infeksi

Adanya infeksi pada luka adalah tanda jika proses penyembuhan tidak berjalan optimal, bahkan bisa menjadi indikasi tindakan amputasi perlu dilakukan. Maka pasien harus segera mendapatkan penanganan infeksi dengan pemberian antibiotik untuk menekan risiko keparahan. Tentunya penanganan infeksi dengan antibiotik ini harus dilakukan sebaik mungkin agar terhindar dari efek samping yang tidak diinginkan, seperti resistensi terhadap antibakteri.

Komunitas Penyakit Menular Amerika Serikat (IDSA) memberikan panduan umum rekomendasi penanganan infeksi dalam merawat luka diabetes. Diutamakan untuk paling tidak segera menangani inflamasi (adanya bercak merah, area terasa hangat, sensitivitas meningkat, nyeri, penebalan area kulit) atau luka yang mengeluarkan cairan. Direkomendasikan pula untuk dilakukan biopsi pada jaringan yang diangkat.

Pemberian antibiotik akan disesuaikan dengan kondisi pasien. Pada infeksi ringan, antibiotik diberikan selama 1-2 minggu. Sementara jika pasien mengalami infeksi sedang hingga berat, mungkin antibiotik perlu diberikan selama 2-3 minggu. Pemberian antibiotik dapat dihentikan ketika tidak ada lagi gejala klinis serta saat gejala infeksi telah mereda.

Biasanya untuk menghindari terjadinya resistensi terhadap antibiotik, merawat luka diabetes dilakukan dengan pemberian jenis antibiotik spesifik dan jangka waktu paling singkat.

6. Mengontrol Gula Darah

Umumnya untuk merawat luka diabetes, sangat penting mengontrol kadar gula darah dengan baik. Langkah ini penting dilakukan untuk mengoptimalkan kemampuan tubuh dalam menyembuhkan luka, serta meminimalisir efek samping pada imunitas sel dan infeksi. Terdapat penelitian yang mencatat jika mengontrol indeks glikemik pada pasien diabetes tipe 2 bisa mengurangi risiko amputasi hingga 35%.

7. Perawatan Multidisiplin

Langkah khusus untuk merawat luka diabetes kini menjadi standar perawatan kesehatan secara umum. Telah banyak ahli yang merekomendasikan perawatan multidisiplin untuk penanganan luka diabetes. Perawatan multidisiplin ini mencakup penanganan oleh dokter bedah, ahli diabetes, fisioterapis, dokter spesialis podiatri (penanganan masalah pada kaki), serta perawat luka diabetes.

Perawatan yang komprehensif terbukti memberikan dampak positif pada pasien dengan luka diabetes. Manfaatnya antara lain mempercepat penyembuhan luka, serta dapat mengurangi risiko dan keparahan amputasi pada pasien.

Merawat luka diabetes di rumah dengan bantuan homecare juga terbukti dapat meningkatkan kondisi pasien dan keluarga. Pengawasan dan bantuan perawatan dari tenaga homecare profesional dapat mengurangi risiko keparahan maupun kekambuhan.

Untuk bantuan merawat luka diabetes di rumah, Anda bisa mempercayakannya pada Kavacare. Hubungi kami di nomor 0811 1446 777 untuk mendapatkan informasi lebih lanjut seputar merawat luka diabetes.

SUMBER:

 

dr. Keyvan Fermitaliansyah
Reviewed by:
Ditinjau oleh:

dr. Keyvan Fermitaliansyah

Care Pro, Dokter Umum Kavacare