Ketahui 6 Dampak HIV pada Wanita

Ketahui 6 Dampak HIV pada Wanita

Share

HIV/AIDS menjadi salah satu penyakit mematikan di dunia, termasuk Indonesia. Menurut World Health Organization (WHO), terdapat 38.4 juta jiwa yang menderita penyakit ini di seluruh dunia dengan total korban jiwa sebanyak 650.000 hingga tahun 2021. Tingkat preventif atau tingkat pencegahan masih cenderung rendah, di mana angka ini terus mengalami kenaikan dan korban jiwa yang terus bertambah. 

Di Indonesia, pemerintah telah menggalakkan sosialisasi secara masif kepada masyarakat mengenai HIV/AIDS dan risiko akibat penyakit tersebut. Diperkirakan 526.841 jiwa menderita HIV/AIDS dengan estimasi kasus baru sebanyak 27 ribu kasus. 

Kavacare telah merangkum informasi seputar HIV/AIDS, mulai dari faktor risiko, hingga dampak HIV pada wanita. Untuk informasi selengkapnya, simak penjelasan berikut ini.

Faktor Risiko HIV pada Wanita

Menyadur dari Kementerian Kesehatan Indonesia, HIV atau Human Immunodeficiency Virus adalah virus yang menyerang sistem imun. Infeksi virus ini dapat menurunkan kemampuan imun tubuh dalam melawan benda-benda asing dalam tubuh yang pada tahap terminal infeksinya dapat menyebabkan AIDS atau Acquired Immunodeficiency Syndrome. Virus HIV akan menyerang sel darah putih yang mengakibatkan menurunnya kekebalan tubuh. Virus ini sifatnya dapat menular melalui hubungan seks atau melalui penggunaan alat suntik dengan orang lain.

Cara paling umum wanita dapat tertular HIV yakni melalui hubungan seksual dengan pasangan laki-laki yang menderita HIV tanpa menggunakan kondom. Berikut beberapa faktor risiko HIV pada wanita.

  • Berbagi alat suntik narkoba, seperti jarum suntuk, dengan penderita HIV
  • Melakukan hubungan seksual anal atau vaginal dengan penderita HIV tanpa menggunakan kondom atau dengan orang yang mengonsumsi obat untuk mencegah atau mengobati HIV. Seks anal merupakan jenis seks yang paling berisiko penularan HIV. Hal ini dikarenakan lapisan rektum tipis dan memungkinkan HIV masuk ke dalam tubuh selama melakukan seks anal.

Pada wanita, beberapa faktor mampu meningkatkan risiko penularan virus HIV. Contohnya:

  • Selama melakukan seks vaginal atau anal, seorang wanita memiliki risiko lebih besar untuk tertular HIV karena secara umum, seks repetitif lebih berisiko dibandingkan seks insertif
  • Penipisan serta kekeringan vagina yang berkaitan dengan usia juga mampu meningkatkan risiko HIV pada wanita dengan usia lebih tua. Ini karena hal tersebut dapat menyebabkan robekan pada vagina saat berhubungan seks, yang kemudian menyebabkan penularan HIV.
  • Saat pasangan melakukan perilaku berisiko tinggi, seperti penggunaan narkoba suntikan atau berhubungan seks dengan pasangan lain tanpa menggunakan kondom.

 

Baca Juga: Perawatan HIV: Perhatikan 5 Hal Ini

 

Bagaimana Dampak HIV pada Wanita?

Virus HIV dapat menimbulkan dampak pada wanita yang unik, terutama pada masalah kesehatan. Contohnya:

  • Peningkatan risiko kanker serviks
  • Masalah kesehatan ginekologi
  • Efek samping obat HIV dan infeksi obat lainnya
  • Peningkatan risiko penyakit jantung, di mana secara umum muncul gejala nyeri dada, sesak napas atau kelelahan. Penyakit AIDS yang terkait dengan jantung atau kardiovaskular yakni tamponade jantung yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis atau perikarditis purulen.
  • Masalah pada kulit, infeksi HIV akut dapat menimbulkan ruam makulopapular atau morbiliformis. Gangguan pada kulit akibat AIDS yang paling umum yakni sarkoma kaposi, plak keunguan, nodul, atau neoplasma vaskular yang ditandai dengan bercak.
  • Kehamilan
  • Sistem paru. HIV/AIDS dapat membuat penderita rentan terhadap beberapa masalah paru menular dan tidak menular. Gangguan yang paling umum yakni infeksi saluran pernapasan atas dan bronkitis akut. Penyakit yang tidak menular seperti sarkoidosis, kanker paru-paru dan emfisema.

Berikut penjelasan selengkapnya mengenai dampak HIV pada wanita dalam berbagai aspek kesehatan.

Kanker Serviks dan HIV

Wanita penderita HIV memiliki risiko lebih tinggi terkena kanker serviks. Sangat penting dilakukan skrining rutin guna mencegah penyakit ini atau menjadi deteksi dini. Kanker serviks merupakan jenis kanker yang dimulai dari leher rahim dan mayoritas disebabkan infeksi human papillomavirus (HPV).

Infeksi HPV ini dapat lebih rentan terjadi pada penderita HIV. Oleh karena itu, perlu adanya tes pap smear secara teratur guna membantu menemukan sel serviks yang berubah sebelum menjadi kanker. Selain itu, dapat dilakukan vaksin HPV untuk wanita penderita HIV hingga usia 26 tahun. 

Kanker serviks merupakan kanker terdefinisi AIDS. Hal ini berarti diagnosis kanker serviks menandai titik dimana infeksi HIV seseorang telah berkembang menjadi AIDS.

 

Baca Juga: Prosedur Pap Smear untuk Deteksi Kanker Serviks

 

Masalah Ginekologi dan HIV

Masalah ginekologi umum terjadi pada wanita yang hidup dengan HIV. Beberapa masalah yang mungkin dialami yakni:

  1. Infeksi jamur pada vagina. Wanita penderita HIV cenderung lebih rentan terkena infeksi jamur pada vagina dan cenderung lebih susah diobati. Infeksi jamur yang berulang (setidaknya empat kali dalam setahun) dapat terjadi lebih sering pada wanita penderita HIV atau AIDS.
  2. Masalah siklus menstruasi. Wanita penderita HIV dapat mengalami perubahan siklus menstruasi, dimana siklus dapat terlewat, pendarahan yang lebih ringan atau lebih berat, serta sindrom pramenstruasi yang lebih parah.
  3. Penyakit menular seksual. Beberapa penyakit menular seksual seperti penyakit radang panggul, herpes genital dan chancroid dapat terjadi lebih sering dan lebih parah, dan/atau lebih sulit diobati pada penderita HIV. Skrining dan pengobatan penyakit menular seksual sangat penting untuk wanita penderita HIV karena dapat meningkatkan risiko penularan HIV ke pasangan seksual.
  4. Bakteri vaginosis (BV). BV merupakan suatu kondisi yang disebabkan oleh perubahan jumlah jenis bakteri tertentu yang ditemukan di vagina. BV lebih sering terjadi pada wanita penderita HIV dan mungkin akan lebih sulit diobati.

Efek Samping Obat HIV dan Interaksi Obat

Obat HIV bekerja dengan biak pada wanita, seperti halnya pada pria. Namun, beberapa obat dapat menyebabkan efek samping yang berbeda pada wanita dibandingkan pria. Contohnya:

  1. Efek samping ritonavir. Obat HIV Ritonavir dapat menyebabkan lebih banyak mual serta muntah pada wanita. Terkadang dokter meresepkan obat pendamping guna mengurangi efek mual dan muntah agar obat HIV dapat bekerja lebih baik.
  2. Efek samping nevirapine. Beberapa penelitian mengaitkan obat HIV nevirapine dengan risiko munculnya ruam dan gangguan hati yang lebih tinggi pada wanita dengan jumlah CD4 yang lebih tinggi.

Obat-obatan HIV juga dapat membuat wanita berisiko lebih tinggi mengalami penumpukan lemak di seluruh tubuh atau mengalami gangguan pankreas. Selain itu, obat HIV dapat berinteraksi dengan obat lain, dimana dapat membahayakan dan membuat obat HIV menjadi kurang efektif, seperti:

  • Narkoba atau alkohol
  • Obat yang diresepkan
  • Obat yang dijual bebas
  • Obat herbal

Apabila Anda menggunakan obat HIV dan memiliki masalah dengan efek samping, ada baiknya melakukan konsultasi dengan dokter mengenai obat apa saja yang dapat dikonsumsi disamping obat HIV.

Penyakit Jantung dan HIV

Penyakit jantung terkait HIV adalah penyebab utama kematian diantara penderita HIV, bahkan saat menggunakan pengobatan HIV yang konsisten dan efektif. Risiko serangan jantung akibat HIV dapat terjadi, umumnya pada wanita. Penelitian sedang dilakukan guna mempelajari bagaimana faktor unik wanita penderita HIV memengaruhi risiko penyakit jantung dan apa saja yang harus dilakukan.

Penuaan pada Wanita dan HIV

Seiring bertambahnya usia, wanita penderita HIV mungkin akan menghadapi masalah kesehatan yang sama seperti wanita lanjut usia lainnya, seperti penyakit jantung, diabetes, tekanan darah tinggi, radang sendi, serta beberapa jenis kanker.

Wanita penderita HIV juga mungkin menghadapi masalah kesehatan lainnya, seperti:

  1. Osteoporosis. Osteoporosis merupakan penyakit yang menyebabkan tulang menjadi lemah dan lebih mudah patah. Hal ini menjadi perhatian tersendiri bagi wanita penderita HIV, dimana pengeroposan tulang terjadi lebih cepat. Beberapa obat HIV juga dapat meningkatkan risiko osteoporosis seperti obat antiretroviral (ARV).
  2. Menopause. Wanita penderita HIV dapat memasuki masa menopause lebih muda atau mengalami hot flash lebih parah dibandingkan wanita lainnya. Selain itu, penurunan hormon estrogen wanita setelah menopause dapat memengaruhi jumlah CD4 pada wanita.

Kehamilan dan Penggunaan KB 

Wanita penderita HIV dapat memiliki kehamilan yang sehat. Namun beberapa penderita mungkin perlu mengganti obat HIV. Hal ini dapat dikonsultasikan dengan dokter atau tenaga medis mengenai penyesuaian obat selama kehamilan. Selain itu, wanita penderita HIV juga dapat menularkan virus ke bayi selama kehamilan, persalinan atau menyusui. 

Di sisi lain, wanita penderita HV dapat menggunakan semua bentuk kontrasepsi denga naman guna mencegah kehamilan. Beberapa obat HIV dapat berinteraksi dengan KB hormonal, seperti pil, implan dan suntikan. Penggunaan kondom dengan benar setiap kali berhubungan seksual dapat membantu mengurangi risiko terkena penyakit menular seksual, seperti sifilis atau gonore.

Dampak HIV pada Ibu Hamil

Pada beberapa kasus, HIV tidak dapat melewati plasenta dari ibu ke bayi. Apabila ibu sehat dalam aspek lain, plasenta dapat membantu memberikan perlindungan bagi bayi yang sedang berkembang. Faktor-faktor yang dapat mengurangi kemampuan protektif plasenta yakni infeksi dalam rahim, infeksi HIV baru, infeksi HIV lanjut atau malnutrisi.

Tindakan pencegahan penularan HIV/AIDS dari ibu hamil ke anak juga dapat dilakukan melalui layanan kesehatan, seperti puskesmas dan posyandu. Tidak hanya memberikan edukasi, penyedia layanan kesehatan juga akan membantu pengecekan, serangkaian tes untuk melihat tingkat penularan HIV/AIDS dari ibu ke bayi, hingga konsultasi lebih lanjut mengenai perawatan dan pencegahan penularan. 

Dalam rangkaian layanan ini, setiap ibu hamil penderita HIV akan mendapatkan terapi ARV yang diberikan langsung seumur hidup tanpa terputus. Selain itu, setiap ibu hamil penderita HIV akan mendapatkan konseling mengenai pilihan pemberian makanan pada bayi, persalinan aman serta KB pasca persalinan, pemberian profilaksis ARV dan kotrimoksazol pada anak, asupan gizi, hubungan seksual selama kehamilan (termasuk penggunaan kondom secara teratur dan benar).

Diperlukan konseling khusus mengenai diet sehat dengan memperhatikan pemberian nutrisi guna mencegah kekurangan zat besi atau vitamin, serta penurunan berat badan dan intervensi khusus untuk penyakit menular seksual atau infeksi lain, seperti tuberkulosis (TBC), malaria, infeksi saluran kemih, atau infeksi saluran pernapasan. Wanita penderita HIV yang sedang hamil memerlukan perhatian khusus guna memantau perkembangan janin, perkembangan infeksi HIV pada ibu, serta meminimalisir penularan HIV pada bayi saat kehamilan, persalinan maupun menyusui.

 

Baca Juga: 8 Infeksi Perinatal dan Pencegahannya

 

Pencegahan HIV pada Wanita

Tes HIV/AIDS

Pemeriksaan dini HIV/AIDS dapat mencegah penularan dan penyebaran secara masif. Anda dapat membicarakan dengan pasangan mengenai tes HIV/AIDS sebelum melakukan hubungan seksual. Pemeriksaan dapat dilakukan di rumah sakit atau layanan kesehatan terdekat.

Penggunaan Alat Kontrasepsi

Anda dapat mencegah penularan HIV/AIDS dengan penggunaan kondom atau alat kontrasepsi saat melakukan hubungan seksual. 

Pilih Kegiatan Seksual yang Kurang Berisiko

HIV dapat menular melalui hubungan seks anal atau vaginal tanpa kondom, atau tanpa konsumsi obat untuk mencegah atau mengobati HIV. Pilih kegiatan seksual yang tidak berisiko penularan HIV untuk mencegah penyebaran di kemudian hari.

Batasi Jumlah Pasangan Seksual

Semakin banyak pasangan yang Anda miliki, semakin besar pula kemungkinan memiliki pasangan dengan HIV yang tidak terkontrol dengan baik, atau memiliki pasangan dengan penyakit menular seksual (PMS). Kedua faktor tersebut dapat meningkatkan risiko terkena HIV/AIDS.     

Tidak hanya penderita HIV/AIDS, masyarakat yang awam dengan penyakit tersebut memerlukan edukasi tentang penularan HIV – bagaimana virus itu didapat dan bagaimana virus dapat menyebar ke orang lain. Penderita sendiri perlu diedukasi mengenai infeksi oportunistik, keganasan, serta kondisi komorbiditas yang mungkin terjadi dengan infeksi HIV jangka panjang. 

Jika Anda memerlukan konsultasi seputar HIV/AIDS pada wanita, mulai dari pencegahan, gejala, cara penularan ataupun obat-obatan yang dikonsumsi, Anda bisa melakukan konsultasi bersama Kavacare. Disini, Anda dapat berkonsultasi dengan dokter serta tenaga medis yang ahli di bidangnya dan akan membantu menjawab pertanyaan Anda. Untuk informasi lebih lanjut, silahkan kunjungi website resmi kami di kavacare.id atau melalui WhatsApp di 0811-1446-777.

Sumber:

  1. Kementerian Kesehatan RI Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat https://kesmas.kemkes.go.id/konten/133/0/peringati-hari-aids-sedunia-ini-penyebab-kendala-dan-upaya-kemenkes-tangani-hiv-di-indonesia diakses 29 Januari 2023
  2. HIV Info https://hivinfo.nih.gov/understanding-hiv/fact-sheets/hiv-and-women diakses 29 Januari 2023
  3. Centers of Disease Control and Prevention https://www.cdc.gov/hiv/group/gender/women/risk-behaviors.html diakses 29 Januari 2023
  4. NHS UK https://www.nhs.uk/conditions/hiv-and-aids/ diakses 29 Januari 2023
  5. American Pregnancy Association https://americanpregnancy.org/healthy-pregnancy/pregnancy-complications/hiv-aids-during-pregnancy/ diakses 29 Januari 2023
  6. HIV Gov https://www.hiv.gov/hiv-basics/staying-in-hiv-care/other-related-health-issues/womens-health-issues diakses 29 Januari 2023
  7. National Library of Medicine https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1865425/ diakses 29 Januari 2023
  8. BMC Public Health https://bmcpublichealth.biomedcentral.com/articles/10.1186/s12889-020-09046-0 diakses 29 Januari 2023
  9. Cambridge Core https://www.cambridge.org/core/journals/epidemiology-and-infection/article/impact-of-maternal-hiv-infection-on-pregnancy-outcomes-in-southwestern-china-a-hospital-registry-based-study/1D5CBE695CCCBD4F2DA76747A828134F diakses 29 Januari 2023
  10. Kementerian Kesehatan Indonesia https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/754/ayo-cari-tahu-apa-itu-hiv diakses 9 April 2023
dr. Keyvan Fermitaliansyah
Reviewed by:
Ditinjau oleh:

dr. Keyvan Fermitaliansyah

Care Pro, Dokter Umum Kavacare