Cara Mengatasi Depresi karena Menopause

Cara Mengatasi Depresi karena Menopause

  • Post category:Lansia
Share

Kesehatan mental mendapat sorotan berbagai lapisan masyarakat belakangan ini dengan semakin tingginya kesadaran masyarakat mengenai topik satu ini. Siapapun bisa terkena masalah kesehatan mental, salah satunya depresi. Kondisi ini membuat penderitanya kesulitan untuk mengurai emosi hingga mengganggu kegiatan sehari-hari.

Depresi karena menopause juga dapat terjadi akibat perubahan hormon dan perubahan fisik secara tiba-tiba. Sama seperti penderita depresi lainnya, mereka yang mengalami depresi karena menopause juga mengalami kesulitan dalam mengelola emosi dan stress berlebih.

Kavacare telah merangkum informasi seputar depresi karena menopause dan bagaimana cara mengatasinya. Untuk informasi selengkapnya, simak penjelasan di bawah ini.

Bisakah Menopause Menyebabkan Depresi?

Menopause merupakan perubahan kondisi biologis alamiah yang terjadi pada wanita. Kondisi ini menandai berakhirnya siklus menstruasi wanita, dimana ditandai dengan berhentinya periode menstruasi selama 12 bulan berturut-turut. Pada umumnya, menopause dapat terjadi pada usia 40-an hingga 50-an. Wanita Indonesia rata-rata mengalami menopause di usia 45 sampai 55 tahun.

Selain berhentinya periode menstruasi, terdapat gejala-gejala lain dari menopause. Seperti hot flash, gangguan tidur, rambut menipis dan kulit kering, perubahan emosi atau mood secara signifikan, hingga tubuh yang mudah lelah. Untuk menghadapi gejala menopause, biasanya dokter akan menyarankan terapi hormon hingga penyesuaian gaya hidup menjelang menopause.

Selama menghadapi menopause, wanita rentan menderita depresi. Gangguan kesehatan mental ini rentan terjadi pada tahun-tahun pertama – yakni pada fase perimenopause dan tahun-tahun setelah menopause. Hal ini dikarenakan perubahan hormon dan perubahan fisik, disertai dengan faktor-faktor eksternal yang berbeda pada tiap wanita. Apabila kondisi ketidakstabilan emosi selama menopause terus berlanjut, maka dapat menyebabkan depresi.

 

Baca Juga: Mengenali Tahapan dan Gejala Menopause

 

Kondisi Psikologis Wanita Menopause

Wanita dapat mengalami dua kali depresi karena menopause karena beberapa hal. Teori pertama menjelaskan bahwa terdapat ‘jendela kerentanan’ sehingga beberapa wanita lebih sensitif terhadap perubahan hormon yang terjadi saat awal menopause atau saat fase perimenopause, serta menempatkan mereka pada risiko depresi yang lebih besar. Di sisi lain, wanita dengan risiko terbesar mengalami depresi karena menopause adalah mereka yang mempunyai riwayat depresi sebelum terjadinya menopause.

Ketidakstabilan emosi selama fase perimenopause dapat diakibatkan ketidakmampuan menyeimbangkan perawatan emosional diri, kewajiban bekerja serta merawat orang lain yang menjadi kewajiban seorang wanita. Meski banyak wanita yang mampu mengidentifikasi dan menjelaskan sumber dan gejala stress, namun masih banyak juga yang kesulitan meluangkan waktu untuk diri sendiri.

Perubahan signifikan yang terjadi dan berpusat pada siklus menstruasi serta kesuburan mungkin menjadi penyebab stress hingga depresi karena menopause. Dimana penderita menopause merasa semakin tidak berdaya dalam a mengontrol diri sendiri serta perubahan fisik yang menyertai membuat penderitanya merasa kurang percaya diri.

Beberapa gejala atau gangguan yang mungkin muncul dalam fase depresi karena menopause yaitu:

  • Perasaan putus asa atau pesimisme
  • Mudah merasa lelah
  • Kesulitan mengingat, membuat keputusan dan berkonsentrasi
  • Merasa sedih, ‘kosong’, dan cemas secara terus-menerus
  • Kehilangan minat atau kesenangan dalam hobi atau aktivitas
  • Kesulitan tidur (insomnia) atau tidur berlebihan
  • Perubahan nafsu makan disertai penurunan berat badan

Perubahan emosi dan mood pada wanita yang mengalami menopause memang wajar terjadi, namun perlu diperhatikan, apabila gejala yang dirasakan semakin kuat hingga mengganggu kegiatan sehari-hari, sangat disarankan untuk segera berkonsultasi dengan ahli. Anda dapat berkonsultasi mengenai gejala gangguan kesehatan mental yang dirasakan dan menentukan pengobatan yang tepat untuk mengurangi dan menyembuhkan gangguan tersebut.

 

Baca Juga: Depresi pada Lansia: Penyebabnya, Pencegahan, dan Terapinya    

 

Faktor Penyebab Depresi karena Menopause

Berikut beberapa faktor penyebab depresi karena menopause, antara lain:

Faktor Fisiologis

Selama fase perimenopause, kadar hormon akan berubah secara tiba-tiba. Hormon estrogen dan progesteron menjadi fluktuatif sementara juga berkurang secara keseluruhan. Perubahan hormon ini mampu mempengaruhi fungsi, struktur serta perubahan kimiawi pada otak.

Hormon estrogen meningkatkan efek neurotransmitter tertentu, seperti norepinefrin dan serotonin. Neurotransmiter ini membantu mengatur suasana hati manusia. Saat kadar estrogen menurun, maka dapat mempengaruhi kesemimbangan kimia pada otak.

Risiko depresi dapat terjadi secara merata pada semua wanita yang mengalami fase perimenopause, terlepas dari latar belakang keluarga dan riwayat gangguan menstruasi.

Faktor Psikososial

Perubahan psikologis dan mental selama menopause juga mempengaruhi kesehatan mental. Meski beberapa wanita merasa menopause adalah perubahan yang positif, namun juga ada beberapa yang merasa bahwa:

  • Menopause merupakan perubahan negatif
  • Gejala menopause membuat stress atau mempengaruhi kemampuan untuk bekera
  • Merasa kekurangan dukungan sosial selama mengatas menopause
  • Membuat kurang awet muda atau feminine

Peran dan ekspektasi gender juga mampu mempengaruhi bagaimana orang mengalami menopause. Meski banyak wanita yang memasuki dunia kerja, wanita masih merawat anak dan pekerjaan rumah tangga secara keseluruhan. Mengelola tanggung jawab ini dalam menghadapi gejala menopause dapat menyebabkan stress.

Faktor Kesehatan Lainnya

Selain faktor-faktor di atas, depresi akibat menopause juga dapat disebabkan oleh alasan kesehatan, seperti:

  • Gaya Hidup, penelitian menemukan hubungan antara depresi dan perilaku tertentu, terutama merokok dan kurangnya aktivitas fisik. Hal ini berarti bahwa kurangnya olahraga dan merokok aktif tidak selalu menyebabkan depresi, namun depresi lebih sering terjadi pada mereka yang memiliki kebiasaan ini.
  • Riwayat Penyakit Kronis, memiliki kondisi kesehatan kronis dapat menjadi salah satu faktor risiko depresi pada usia paruh baya dan mereka yang mulai mengalami menopause.
  • Menopause Akibat Proses Bedah, apabila seseorang menjalani operasi pengangkatan ovarium, mereka memasuki masa menopause lebih cepat daripada yang seharusnya. Dampak dan prosedur yang dijalani mampu menyebabkan stress pada penderitanya.

Cara Mengatasi dan Perawatan Depresi karena Menopause

1. Terapi Hormon

Untuk mengatasi gejala menopause, biasanya dokter akan menyarankan terapi hormon, obat hormonal dan perubahan gaya hidup. Pengobatan ini bermaksud mengurangi dan membantu penderita menopause dalam menyesuaikan diri dengan gejala dan perubahan yang ada.

Namun, mengonsumsi obat hormonal untuk depresi bukan pilihan yang baik apabila Anda:

  • Memiliki tekanan darah tinggi atau hipertensi
  • Perokok aktif
  • Memiliki riwayat penggumpalan darah
  • Dalam fase postmenopause

Bagi mereka yang tidak dapat mengonsumsi obat hormonal ketika mengalami depresi karena menopause, disarankan mengonsumsi antidepresan ataupun obat lainnya sesuai dengan kondisi dan riwayat kesehatan.

2. Adaptasi Gaya Hidup

Selain itu, penyesuaian gaya hidup juga membantu mengurangi gejala perimenopause dan meningkatkan kesehatan postmenopause yang baik. Kebiasaan sehat termasuk mengonsumsi makanan bergizi, olahraga teratur serta membatasi konsumsi alkohol dan kafein.

Saat Anda merasa ragu ataupun kewalahan dengan gejala menopause, Anda bisa melakukan konsultasi dengan tenaga medis ahli langsung di pusat layanan medis atau konsultasi mudah dan cepat dari rumah melalui layanan homecare. Kavacare merupakan layanan homecare yang menyediakan jasa konsultasi kesehatan, termasuk menopause, dengan tenaga medis ahli di bidangnya.

Untuk mulai konsultasi, hubungi Kavacare Support melalui WhatsApp di 0811 – 1446 – 777.

Sumber:

  1. Can Menopause Cause Depression? https://www.hopkinsmedicine.org/health/wellness-and-prevention/can-menopause-cause-depression diakses 3 Desember 2022
  2. Menopause and Depression: Is There a Link? https://www.medicalnewstoday.com/articles/menopause-and-depression#treatment diakses 3 Desember 2022
  3. Menopause https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/menopause/symptoms-causes/syc-20353397#:~:text=Menopause%20is%20the%20time%20that,is%20a%20natural%20biological%20process. Diakses 3 Desember 2022
  4. Depression and Menopause https://www.menopause.org/for-women/menopauseflashes/mental-health-at-menopause/depression-menopause diakses 3 Desember 2022
  5. Depression During and After the Perimenopause: Impact of Hormones, Genetics, and Environmental Determinants of Disease https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6226029/ diakses 3 Desember 2022
  6. Menopause Anxiety and Depression; How Food Can Help? https://oamjms.eu/index.php/mjms/article/view/5555 diakses 3 Desember 2022
  7. Menopause Induced Depression, Anxiety, Quality of Life, Lack of Sleep in Woman: An Overview https://jddtonline.info/index.php/jddt/article/view/5169 diakses 3 Desember 2022
  8. Perimenopausal Depression https://ajp.psychiatryonline.org/doi/10.1176/appi.ajp.2007.07071152 diakses 3 Desember 2022
  9. The Relationship Between Stress, Anxiety and Depression with Menopausal Women Experiences https://nmj.umsha.ac.ir/article-1-1774-en.html diakses 3 Desember 2022
Avatar
Reviewed by:
Ditinjau oleh:

Dr. Eddy Wiria, PhD

Co-Founder & CEO Kavacare