Mewaspadai Trauma Psikologis karena Penyakit Kritis

Mewaspadai Trauma Psikologis karena Penyakit Kritis

Share

Trauma psikologis karena penyakit kritis sering kali tak disadari risiko bahayanya oleh pasien dan keluarganya. Misalnya seorang pasien baru saja dirawat di unit perawatan intensif karena terserang stroke. Seusai perawatan, kehidupan pasien bisa jadi sama sekali berbeda lantaran dampak stroke yang mempengaruhi kemampuannya dalam beraktivitas sehari-hari. Akibatnya, jika tak mendapat penanganan yang tepat, pasien itu bisa mengalami trauma psikis yang membahayakan.

Apa Itu Post Traumatic Syndrome

Trauma psikis yang terjadi setelah adanya penyakit kritis disebut post-traumatic stress disorder (PTSD). Reaksi stres ini berkembang setelah seseorang mengalami atau menyaksikan kejadian yang menimbulkan trauma, seperti penyakit kritis, kekerasan seksual, cedera serius, atau kematian orang lain.

Menurut lembaga riset dan pendidikan Johns Hopkins, hampir seperempat penyintas unit perawatan intensif (ICU) menderita PTSD. Trauma psikologis karena penyakit kritis dapat secara drastis mempengaruhi kemampuan seseorang dalam berkomunikasi dan berhubungan dengan orang lain. Kehidupannya pun benar-benar terganggu dan sulit merasakan kebahagiaan.

Orang lebih berisiko mengalami PTSD jika sebelumnya sudah didiagnosis memiliki masalah psikologis, misalnya depresi atau gangguan kecemasan. Faktor risiko lainnya adalah mendapat obat bius dalam jumlah banyak saat berada di ICU karena diperlukan untuk penanganan penyakitnya. Pasien yang punyai ingatan menakutkan di ICU juga memiliki risiko lebih tinggi.

Manusia wajar menunjukkan reaksi yang kuat terhadap kejadian traumatis. Tapi PTSD termasuk gangguan yang serius dan membutuhkan penanganan medis agar dapat diatasi. Pasien kadang tak sadar bahwa dia mengalami PTSD. Peran keluarga dibutuhkan dalam hal ini untuk membantu mengidentifikasi tanda dan gejala trauma psikologis yang dialami pasien.

Dapatkan layanan Konsultasi Psikolog Online

Kenali Gejalanya Trauma Psikologis

Gejala trauma psikologis karena penyakit kritis atau kejadian traumatis biasanya digolongkan menjadi empat kategori. Orang yang menderita trauma psikologis ini setidaknya memiliki satu gejala dari tiap kategori pertama dan kedua serta dua gejala dari kategori ketiga dan keempat yang dialami lebih dari 30 hari. Berikut ini rinciannya:

  1. Mengalami lagi
  • Mengalami kilas balik atau merasa peristiwa traumatis yang dialami seolah-olah terjadi lagi
  • Mendapat kenangan yang tidak diinginkan dari peristiwa tersebut
  • Mendapat mimpi atau bermimpi buruk tentang kejadian itu
  • Ada tanda tekanan psikologis
  • Ada tanda tekanan fisiologis
  1. Penghindaran
  • Menghindari pikiran, perasaan, dan ingatan tentang peristiwa traumatis itu
  • Menjauh dari tempat, orang, benda, atau aktivitas yang mengingatkan akan peristiwa tersebut
  1. Stimulasi atau reaksi
  • Mudah kaget atau menjadi senewen
  • Kurang tidur
  • Merasa seperti selalu dalam bahaya
  • Menjadi mudah marah, agresif, dan tersinggung
  • Berperilaku sembrono atau merusak diri sendiri
  • Sulit berkonsentrasi
  1. Suasana hati atau pikiran
  • Merasa tidak mampu mengingat sebagian dari peristiwa traumatis yang dialami
  • Memiliki pikiran negatif tentang dunia dan diri sendiri
  • Menyalahkan diri sendiri atau orang lain secara tidak pantas atas trauma itu
  • Bergulat dengan perasaan takut, ngeri, marah, malu, atau bersalah secara terus-menerus
  • Kehilangan minat pada hal-hal yang pernah dinikmati
  • Menjadi terpisah dari orang yang dicintai
  • Tidak dapat mengalami perasaan positif, seperti kebahagiaan dan cinta

Bagaimana Mengatasi Trauma Psikologis?

Trauma psikologis karena penyakit kritis dapat diatasi dengan penanganan medis layaknya penyakit kejiwaan lainnya. Penanganan yang banyak dipakai antara lain:

  • Obat-obatan, termasuk antipsikotik dan antidepresan
  • Terapi kognitif untuk membantu mengenali pola berpikir yang menyimpang dan menyesuaikan diri dengan keadaan
  • Terapi paparan untuk membantu menghadapi hal yang menurut pasien menakutkan dan menjengkelkan
  • Psikoterapi yang memadukan terapi paparan dan gerakan mata untuk membantu memproses ingatan traumatis

Tenaga medis yang menangani pasien PTSD biasanya psikolog dan/atau psikiater. Keduanya adalah pakar kesehatan mental yang terlatih dalam penanganan trauma psikologis.

Kapan Minta Pertolongan

Jika Anda merasa mengalami gejala PTSD, hal terpenting adalah segera menemui ahli kejiwaan untuk mendapatkan diagnosis dan perawatan secepat mungkin. Meski PTSD umumnya tak dapat didiagnosis secara resmi hingga 30 hari setelah peristiwa traumatis yang dialami, lebih baik tidak menunda kunjungan ke psikolog/psikiater bila curiga mengalami PTSD.

Mengalami gejala PTSD selama 2-3 pekan adalah tanda peringatan akan datangnya PTSD. Terapi untuk menolong pasien yang mengalami trauma psikologis karena penyakit kritis bisa dilakukan secepatnya tanpa menunggu gejala lebih parah. Segera datangi psikolog/psikiater jika:

  • Merasa kewalahan dengan ingatan akan peristiwa traumatis yang baru dialami
  • Merasa ingin menyakiti diri sendiri atau orang lain
  • Perilaku tak bisa lagi terkontrol
  • Gejala PTSD mulai mengganggu kualitas hidup

Peran Tenaga Medis dan Homecare

Tenaga medis yang berperan dalam penanganan trauma psikologis karena penyakit kritis adalah psikolog ataupun psikiater. Ahli kejiwaan ini akan menjalankan tes dan wawancara klinis untuk menentukan apakah pasien sungguh menderita trauma psikis atau tidak. Hasil tes dan wawancara itu juga dapat dijadikan rujukan untuk membuat rencana perawatan bagi pasien.

Selain di fasilitas kesehatan seperti rumah sakit, tenaga medis dapat membantu pasien mengatasi trauma psikologis di rumah. Di lingkungan rumah, pasien biasanya dapat lebih rileks dan terbuka sehingga terapi bisa berjalan lebih baik. Berdasarkan penelitian, pasien yang mau terbuka mencari bantuan dari tenaga medis lebih mungkin cepat pulih dari kejadian traumatis yang dialami daripada pasien yang menyimpan ingatan itu rapat-rapat.

Bagaimana Mencegahnya

PTSD dapat dicegah dengan mengetahui profil risiko pasien terhadap gangguan psikologis ini. Karena itu, dokter perlu mengantongi informasi tentang riwayat kesehatan pasien penyakit kritis yang ditangani. Dukungan keluarga juga amat vital dalam menjaga kondisi kejiwaan orang yang baru saja mengalami peristiwa traumatis.

Berdasarkan kajian literatur, beberapa cara di bawah ini juga bisa mencegah trauma psikologis karena penyakit kritis atau kejadian traumatis lainnya:

  • Hubungan dan dukungan yang berkelanjutan dari orang-orang penting dalam kehidupan
  • Menceritakan trauma kepada orang-orang tercinta
  • Mengidentifikasi diri sebagai penyintas alih-alih korban
  • Memanfaatkan emosi positif dan tawa
  • Mencari makna positif dari trauma yang dialami
  • Membantu sesama yang juga memiliki pengalaman traumatis
  • Meyakinkan diri dapat mengendalikan perasaan dan mampu bertahan

Kesehatan jiwa sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Jika Anda atau orang terdekat Anda baru saja mengalami peristiwa traumatis dan menunjukkan tanda trauma psikis, sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga medis.

Menjalani konsultasi dengan dokter di rumah atau dokter homevisit akan membuat pasien menjadi lebih nyaman karena berada di lingkungan yang familiar. Kavacare dapat menghadirkan dokter ke rumah, atau memfasilitasi konsultasi online dengan dokter. Hubungi 08111446777 untuk mendapatkan homevisit dokter di kediaman Anda. 

Sumber:

PTSD Common in ICU Survivors.
https://www.hopkinsmedicine.org/news/media/releases/ptsd_common_in_icu_survivors. Diakses 27 Januari 2022

How to Prevent Trauma from Becoming PTSD.
https://adaa.org/learn-from-us/from-the-experts/blog-posts/consumer/how-prevent-trauma-becoming-ptsd. Diakses 27 Januari 2022

The Effects of Trauma Do Not Have to Last a Lifetime.
https://www.apa.org/research/action/ptsd. Diakses 27 Januari 2022

Posttraumatic Stress Disorder (PTSD).
https://www.research.va.gov/topics/ptsd.cfm#intro. Diakses 27 Januari 2022

Post-Traumatic Stress Disorder: Evidence-Based Research for the Third Millennium.
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1297500/. Diakses 27 Januari 2022

Critical Illness–related Post-traumatic Stress. An Important Message.
https://www.atsjournals.org/doi/full/10.1164/rccm.201601-0095ED. Diakses 27 Januari 2022

Avatar
Reviewed by:
Ditinjau oleh:

Dr. Eddy Wiria, PhD

Co-Founder & CEO Kavacare