Penggunaan Morfin dan Sedasi pada Pasien Paliatif

Penggunaan Morfin dan Sedasi pada Pasien Paliatif

  • Post category:Perawatan
Share

Dalam ruang lingkup kesehatan, ada kondisi pasien yang mungkin tidak bisa disembuhkan. Namun bukan berarti pasien tidak perlu mendapatkan perawatan. Pasien dengan penyakit parah bisa mendapatkan perawatan paliatif, yaitu jenis perawatan yang fokus untuk meningkatkan kualitas hidup walau dalam kondisi sakit parah.

Pasien paliatif mungkin membutuhkan obat-obatan khusus untuk menangani kondisi mereka. Misalnya, obat-obatan opioid untuk meredakan nyeri atau membantu pernapasan agar lebih nyaman.

Morfin dan sedasi pada pasien paliatif adalah bagian penting dalam perawatan paliatif. Berikut informasi yang telah dirangkum Kavacare seputar penggunaan morfin dan sedasi pada pasien paliatif.

Apa Itu Sedasi pada Pasien Paliatif?

Sedasi adalah pemberian obat untuk membantu seseorang merasa lebih rileks saat akan menjalani prosedur tertentu. Obat-obatan ini biasanya diberikan melalui pembuluh darah (intravena atau IV), namun bisa juga diberikan melalui mulut (oral) atau masker wajah. Sedasi pada pasien paliatif ialah bagian dari manajemen rasa sakit atau nyeri menggunakan obat tertentu untuk pasien yang menjalani perawatan paliatif.

Pasien paliatif adalah mereka yang menjalani perawatan untuk meningkatkan kualitas hidup dalam kondisi yang sangat membatasi untuk berkegiatan. Perawatan paliatif fokus pada kebutuhan pasien, keluarga, dan orang-orang yang menangani pasien. Perawatan ini bisa segera dimulai setelah pasien mendapat diagnosis.

Perawatan paliatif diberikan pada pasien yang mengidap penyakit serius dan tidak akan pulih dalam jangka waktu panjang, atau pasien dengan penyakit mengancam jiwa. Perawatan paliatif fokus dalam meredakan rasa sakit dan gejala-gejala lain yang dialami pasien. Selain itu perawatan yang diberikan juga diharapkan dapat memenuhi kebutuhan emosional, spiritual, dan kegiatan sehari-hari.

Rasa sakit bisa dideskripsikan sebagai sensasi tidak nyaman, menyebabkan pasien merasa menderita, dan tertekan. Rasa sakit parah bisa mengganggu aktivitas, mempengaruhi emosi, mengganggu waktu tidur, menghilangkan nafsu makan, dan menyebabkan pasien tidak bisa menikmati hidup.

Rasa sakit lebih mudah dicegah daripada diredakan, dan rasa sakit dengan intensitas tinggi sulit untuk ditangani. Tidak semua pasien paliatif merasakan sakit yang kuat, tetapi jika pasien terus mengeluhkan rasa sakit yang tidak tertangani oleh obat-obatan biasa atau metode pereda nyeri lainnya, maka dokter akan memberikan penanganan khusus untuk manajemen nyeri tersebut.

Pasien paliatif umumnya mengalami beberapa kondisi yang menyebabkan rasa tidak nyaman, seperti:

  • Nyeri atau rasa sakit
  • Masalah pernapasan
  • Iritasi kulit, termasuk gatal-gatal
  • Masalah pencernaan
  • Lebih sensitif pada perubahan suhu
  • Letih dan lemas
  • Gelisah, kecemasan, dan gangguan perilaku yang tidak terkontrol karena penyakit.

 

Baca Juga: Perawatan Paliatif: Kapan Dibutuhkan?

 

Apa Itu Obat Morfin?

Morfin adalah jenis obat opioid yang hanya bisa diberikan dengan resep dokter. Obat morfin digunakan untuk meringankan nyeri parah.

Biasanya obat jenis opioid seperti morfin diresepkan pada pasien yang mengalami nyeri parah dan tidak merespons obat-obatan pereda nyeri yang lebih ringan.

Jenis obat ini memiliki formulasi dan bentuk berbeda, seperti tablet, koyo/patch, dan cair. Dokter yang akan menentukan jenis obat mana yang paling baik untuk pasien. Opioid efektif untuk menangani kondisi seperti napas pendek, nyeri saat bernapas, diare, dan batuk parah.

Morfin akan diberikan dalam tahapan-tahapan:

  1. Pertama, pasien akan diberikan dosis hanya saat dibutuhkan atau dalam jangka waktu tertentu. Reaksi obat akan diobservasi lebih dulu.
  2. Setelah dokter memastikan pemberian morfin menguntungkan untuk pasien, akan diresepkan morfin jenis lepas tunda dalam bentuk tablet atau koyo yang perlu digunakan secara rutin.
  3. Untuk kondisi nyeri yang hebat dan berfluktuatif, juga dapat dikombinasikan obat yang kerja cepat dan yang lepas lambat.

Morfin juga bisa diberikan secara kombinasi dengan analgesik ringan, seperti parasetamol yang dapat melengkapi manajemen rasa sakit atau untuk dosis penyesuaian.

Manfaat Morfin untuk Sedasi pada Pasien Paliatif

Sedasi pada pasien paliatif termasuk untuk penanganan rasa sakit dan juga kegelisahan dan kekhawatiran yang hebat. Pemberian obat-obatan benzodiazepin (misalnya midazolam dan lorazepam) atau haloperidol dan citalopram akan dilakukan setelah instruksi dokter dan tidak bisa diberikan sembarangan.

Untuk kondisi yang ekstrim atau pada kondisi end of life, pasien paliatif dapat ‘ditidurkan’ sehingga dapat lebih nyaman dan bermartabat di masa akhir hidupnya.

Obat morfin bekerja secara langsung pada reseptor opioid di sistem saraf pusat. Dengan pemberian morfin, maka rasa sakit akan berkurang karena obat ini menghambat kerja saraf mengirimkan sinyal rasa sakit antara otak dan tubuh.

Morfin dan sedasi pada pasien paliatif dapat mengurangi rasa sakit serta meringankan gangguan pernapasan. Hal ini bisa membantu pasien untuk merasa lebih nyaman, terutama pada kondisi penyakit yang mengancam nyawa.

 

Baca Juga: Pentingnya Memahami Aturan Pakai Obat

 

Dampak atau Efek Samping Penggunaan Obat Morfin

Ada beberapa dampak atau efek samping pemberian obat-obatan sedasi pada pasien paliatif, termasuk morfin. Berikut hal yang harus diperhatikan:

  1. Mudah mengantuk dan tidak bertenaga: morfin bisa menyebabkan efek sedasi, tetapi efek ini akan berkurang dalam beberapa hari. Dengan mengurangi rasa sakit dan membantu pasien bernafas lebih lega, opioid memberikan efek pasien bisa lebih mudah tidur.
  2. Mual: pada awal pemberian morfin, pasien mungkin akan mengalami mual. Tetapi kelihan ini umumnya hilang setelah beberapa hari. Jika mual mengganggu aktivitas, obat-obatan tertentu bisa diberikan.
  3. Konstipasi atau sembelit: konstipasi adalah efek samping yang sering terjadi jika mengonsumsi morfin maupun opioid lainnya. Pemberian obat-obatan dapat dilakukan untuk mengatasi sembelit.
  4. Berkurangnya efektivitas: toleransi pada dosis morfin mungkin terjadi, tetapi seringkali bukan masalah jika obat digunakan untuk mengontrol rasa sakit. Morfin tampak berkurang efektivitasnya sering kali karena penyakit semakin memburuk, sehingga rasa sakit semakin parah. Dokter dapat meningkatkan dosis sesuai dengan kebutuhan pasien.
  5. Bibir kering: kondisi ini akan membaik seiring waktu, sebaiknya konsultasikan ke dokter jika terjadi.
  6. Ketergantungan: ketergantungan morfin sangat jarang pada pasien yang menggunakannya untuk meredakan rasa sakit. Namun jika sudah 2 minggu mengonsumsi morfin, pasien tidak boleh berhenti menggunakannya secara mendadak. Tubuh perlu membiasakan diri lepas dari obat-obatan opioid.

Banyak orang yang khawatir jika obat-obatan sedasi pada pasien paliatif memiliki efek samping lebih buruk dari rasa sakit. Namun tidak semua orang mengalami efek samping yang sama dan penting untuk memahami jika efek samping bukan reaksi alergi, sehingga kondisi ini umumnya hanya sementara dan bisa diatasi.

 

Baca Juga: Macam-Macam Obat Nyeri

 

Penanganan Ketergantungan Morfin atau Pereda Nyeri

Salah satu ketakutan paling umum terkait konsumsi pereda nyeri dosis tinggi adalah ketergantungan. Namun kondisi ketergantungan jarang terjadi pada pasien yang mengonsumsi morfin maupun pereda nyeri sesuai dosis yang dianjurkan dokter. 

Ketergantungan terjadi saat seseorang merasakan sensasi melayang karena obat tertentu, kemudian mendorong mereka untuk mengonsumsinya kembali. Tetapi saat dokter meresepkan pereda nyeri dengan tepat sesuai kebutuhannya, kebanyakan orang tidak akan merasakan sensasi tersebut dan terhindar dari ketergantungan.

Tubuh bisa beradaptasi saat pasien perlu mengonsumsi morfin dalam jangka waktu panjang. Ini disebut sebagai kebutuhan fisik, bukan kecanduan. Artinya saat pasien berhenti mengonsumsi pereda nyeri secara mendadak, mungkin akan muncul gejala seperti kram, berkeringat, dan diare. Untuk mencegahnya, biasanya dosis morfin akan dikurangi perlahan-lahan.

Agar terhindar dari gejala-gejala tidak nyaman saat berhenti mengonsumsi pereda nyeri secara mendadak serta mencegah terjadinya ketergantungan, konsumsi obat opioid harus dengan arahan yang tepat. Perawatan paliatif yang membutuhkan penggunaan morfin sebaiknya dibantu oleh tenaga kesehatan profesional yang berpengalaman.

Supaya lebih mudah berkoordinasi dengan dokter dan mendapat pendampingan yang tepat, Anda bisa mempercayakan perawatan paliatif dengan bantuan home care. Berkonsultasi dengan konsultan medis juga bisa dilakukan untuk menemukan perawatan paling tepat untuk pasien.

Anda bisa menghubungi konsultan medis Kavacare untuk mendapatkan konsultasi gratis seputar perawatan paliatif. Hubungi kami di nomor 0811 1446 777.

SUMBER:

  1. Facts about morphine and other opioid medicines in palliative care. https://palliativecare.org.au/resource/resources-facts-about-morphine-and-other-opioid-medicines-in-palliative-care/ diakses 21 Maret 2023
  2. Morphine – about, usage and side effects. https://www.healthdirect.gov.au/morphine diakses 21 Maret 2023
  3. Providing Care and Comfort at the End of Life. https://www.nia.nih.gov/health/providing-comfort-end-life diakses 21 Maret 2023
  4. When Is Palliative Care Appropriate? https://www.webmd.com/palliative-care/when-is-palliative-care-appropriate diakses 21 Maret 2023
  5. Understanding Hospice and Morphine. https://www.vitas.com/hospice-and-palliative-care-basics/about-hospice-care/hospice-and-morphine diakses 21 Maret 2023
  6. Worries about taking painkillers. https://www.cancerresearchuk.org/about-cancer/coping/physically/cancer-and-pain-control/treating-pain/worries-about-taking-painkillers diakses 21 Maret 2023
Avatar
Reviewed by:
Ditinjau oleh:

Dr. Eddy Wiria, PhD

Co-Founder & CEO Kavacare