9 Gangguan Tulang pada Lansia yang Umum Terjadi

9 Gangguan Tulang pada Lansia yang Umum Terjadi

Share

Seiring bertambahnya usia, kepadatan tulang akan menurun sehingga mengakibatkan gangguan tulang pada lansia. Jaringan tulang biasanya akan memecah dan tulang akan membentuk jaringan yang baru. Namun, seringkali pembentukan jaringan tulang yang baru tidak mencukupi berkurangnya jaringan yang lama, sehingga kepadatan tulang pun berkurang.

Simak apa saja gangguan tulang yang umumnya menyerang lansia serta cara menjaga kesehatan tulang lansia yang telah dirangkum Kavacare berikut ini!

Bagaimana Pengaruh Penuaan pada Tulang?

Tulang adalah organ dengan struktur yang terdiri dari gabungan kristal mineral anorganik, matriks organik ekstraseluler, sel-sel, lipid, dan air.

Berdasarkan jaringan pembentuknya, sel tulang terdiri dari tiga jaringan, yaitu:

  • Osteoblast. Sel tulang ini bertanggung jawab terhadap pembuatan matriks ekstrasel tulang, yaitu kolagen dan proteoglikan.
  • Osteosit, yang berfungsi dalam menjaga keseimbangan kalsium pada tulang.
  • Osteoklast, berfungsi dalam resorpsi (pemecahan tulang) saat pembentukan ulang jaringan tulang.

Komponen-komponen pada tulang ini terbentuk secara seimbang untuk menahan tulang agar tidak patah sekaligus mendukung berat kerangka.

Kekakuan atau ketahanan terhadap perubahan dan kekuatan tulang diperlukan untuk membawa beban berat, sementara kelenturan juga diperlukan untuk menyerap energi dari dampak terhadap beban. Fungsi keseimbangan ini membuat kandungan mineral pada jaringan tulang menjadi lebih keras sekaligus rapuh.

Sekalipun berwujud solid, tulang sebenarnya mengalami perubahan seiring waktu dan terdapat pengaruh penuaan pada kondisi tulang dan sendi di seluruh tubuh.

Tulang sendiri mempunyai fungsi mekanis dan homeostasis (mekanisme keseimbangan tubuh), melindungi organ-organ dalam, membantu pergerakan dan penahan beban, serta menjadi tempat untuk sumsum dan sumber pengadaan kalsium. Penuaan mengakibatkan berkurangnya kemampuan-kemampuan tersebut sehingga menimbulkan gangguan pada tulang dan sendi lansia.

1. Kerusakan Bertahap pada Tulang

Sehari-hari tulang digunakan untuk beraktivitas sehingga terbebani secara terus-menerus. Umumnya, akan timbul retak pada tulang yang berawal dari tingkat sangat kecil dan tidak terdeteksi, tetapi pada akhirnya retakan ini menjadi semakin besar. Apabila tulang tidak melakukan proses pembentukan jaringan tulang yang baru, maka hal ini dapat mengakibatkan kegagalan fungsinya.  

Penyebab awal kerusakan tulang ini diasumsikan akibat gangguan pengkristalan pada mineral tulang, debonding (kerusakan akibat tidak melekatnya jaringan tulang dengan bahan pengikatnya) pada permukaan mineral organik pada tulang, gangguan pada serabut kolagen, atau gabungan dari ketiganya. Hal ini menjadi penyebab utama adanya kerusakan yang menimbulkan gangguan pada tulang.

2. Pengaruh Usia pada Kesehatan Tulang

Tulang sendiri sebenarnya mengalami perubahan bentuk untuk memfasilitasi fungsi mekanisnya, yaitu penahan beban. Selama perkembangan dan penuaan, bentuk tulang berubah sebagai respons dari beban sehari-hari dan juga efek hormon serta sinyal faktor pertumbuhan.

Salah satu proses yang terjadi pada tulang adalah cortical drift, di mana pembentukan tulang berkurang dan resorpsi meningkat pada permukaan endosteal (selaput di area sumsum tulang), sedangkan tulang disimpan pada permukaan periosteal (lapisan luar tulang). Hasilnya, tulang melebar dan bagian kortikal tulang menipis. Proses ini terjadi pada usia tua, sehingga mengakibatkan tulang yang melemah.

 

Baca Juga: Tips Menangani Sakit Sendi pada Orang Tua

 

Jenis Gangguan Tulang pada Lansia yang Umum Terjadi

1. Patah Tulang

Dengan berkurangnya kepadatan tulang pada masa tua, patah tulang menjadi salah satu masalah umum pada lansia.

Penyebab paling umum adalah lansia yang terjatuh dan menyebabkan tulang yang telah rentan menjadi cedera. Kondisi ini biasanya dipicu oleh kondisi rumah dan lingkungan yang tidak aman atau karena faktor intrinsik, seperti gangguan pada gerakan, berkurangnya kekuatan otot, ketajaman penglihatan yang berkurang, dan pengobatan yang mengandung kortikosteroid.

2. Osteoporosis

Kondisi ini terjadi akibat kepadatan tulang yang rendah sehingga tulang menjadi rapuh dan lemah. Selanjutnya, tulang menjadi mudah patah.

Masalah kepadatan tulang ini dapat terjadi karena tubuh terlalu banyak kehilangan jaringan tulang, tetapi memproduksi jaringan tulang terlalu sedikit, atau bisa karena keduanya.

Osteoporosis sendiri tidak bergejala dan umumnya baru diketahui setelah terjadi peristiwa patah tulang.

3. Osteoarthritis

Osteoarthritis merupakan kelompok dari beberapa penyakit yang berbeda tetapi bertumpang tindih, sehingga dapat memiliki penyebab yang berbeda-beda tetapi penampakan biologis, morfologis, dan klinisnya serupa.

Perubahan patologis pada kondisi ini termasuk kelainan pada tulang rawan, gangguan pada saraf kolagen, perubahan pada warna proteoglikan, profilerasi (pengulangan siklus sel) kondrosit, nekrosis (kematian dini sel-sel dan jaringan hidup), dan neovaskularisasi (pertumbuhan pembuluh darah yang baru).

4. Gangguan Mikrokristal

Peristiwa adanya gangguan mikrokristal juga dapat meningkat seiring usia, hal ini umumnya terjadi pada penyakit gout (penyakit pirai).

Penyakit gout atau pirai adalah peradangan artritis paling umum pada lansia dan ditandai dengan gangguan pada metabolisme purin. Penyakit ini disebabkan kelebihan kristal asam urat yang menumpuk di sendi, menyebabkan bengkak, rasa sakit, dan kemerahan.

5. Infeksi pada Tulang

Pasien lansia lebih rentan terserang infeksi karena adanya peristiwa penyakit yang mendahuluinya, seperti diabetes melitus, penyakit arteri perifer, masalah gigi, atau prosedur imunosupresi (untuk memperbaiki sistem kekebalan tubuh) dan operasi pada usia ini.

Infeksi pada tulang ini disebut juga osteomyelitis dan ditandai dengan adanya rasa sakit, bengkak, dan kemerahan.

6. Penyakit Paget

Penyakit paget adalah kelainan pada tulang yang ditandai dengan peningkatan penyerapan osteoklas tulang diikuti dengan pembentukan tulang baru oleh osteoblas dengan kualitas yang buruk.

Akibatnya, tulang mengalami osteoarthritis sekunder, insufisiensi fraktur, pembengkokan tulang, bahkan tekanan pada tulang belakang atau urat saraf.

7. Osteonekrosis

Penyakit ini terjadi karena kematian dini jaringan tulang, yang disebabkan oleh terganggunya aliran darah ke tulang. Hal ini biasa terjadi akibat trauma pada tulang. Penggunaan steroid dalam jangka waktu lama juga dapat menyebabkan kematian sel pada tulang.

Setelah jaringan tulang mati, tulang akan melemah, bahkan hancur. Rasa sakit yang bertambah-tambah salah satu tanda dari osteonekrosis.

8. Tumor Tulang

Seperti halnya tumor lain, tumor tulang terjadi akibat pertumbuhan sel yang tidak terkontrol di dalam tulang.

Tumor ini bisa jadi jinak atau ganas, tetapi biasanya kondisi yang jinak dan tidak menyebar lebih umum dilaporkan.

9. Rheumatoid Arthritis

Sering disebut dengan rematik, penyakit ini merupakan gangguan sistem kekebalan tubuh di mana sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan tubuh seperti sendi di tangan dan kaki.

 

Baca Juga: Gizi dan Makanan yang Baik untuk Tulang dan Sendi

 

Cara Menjaga Kesehatan Tulang Dan Sendi Lansia

Walaupun gangguan tulang pada lansia umum terjadi, penyakit ini dapat dicegah dengan pola hidup yang sehat. Konsumsi makanan yang mengandung nutrisi  yang baik untuk tulang akan dapat mencegah gangguan tulang pada lansia. Berikut adalah langkah yang diperlukan untuk menjaga kesehatan tulang.

1. Menjaga Asupan Kalsium

Wanita dan pria yang berusia di antara 18-50 tahun membutuhkan 1.000 mg kalsium per hari. Jumlah kebutuhan asupan kalsium harian ini meningkat menjadi 1.200 mg ketika wanita berusia 50 tahun dan pria menginjak usia 70 tahun.

Makanan-makanan yang mengandung kalsium tinggi adalah:

  • Produk olahan susu yang rendah lemak;
  • Sayur-sayuran hijau;
  • Salmon kalengan atau ikan sarden dengan tulang;
  • Produk olahan kedelai, seperti tahu dan tempe;
  • Sereal dengan fortifikasi kalsium dan jus jeruk.

Walaupun kalsium sangat penting untuk menjaga kesehatan tulang, konsumsi kalsium yang berlebihan juga mempunyai efek samping yang berbahaya.

Para ahli menyatakan bahwa terlalu banyak kalsium, terutama yang Anda konsumsi dari suplemen, dapat meningkatkan resiko penyakit jantung. Dianjurkan bahwa konsumsi kalsium tidak boleh lebih dari 2.000 mg per hari bagi lansia yang berusia lebih dari 50 tahun.

2. Menjaga Asupan Vitamin D

Tidak hanya membantu dalam pembentukan mineral tulang, vitamin D berguna untuk memperkuat tulang karena kemampuannya untuk membantu penyerapan kalsium. Vitamin D dapat diperoleh dari cahaya matahari, terutama pada daerah tropis seperti Indonesia.

Walaupun begitu, banyak faktor lain yang dapat mempengaruhi pembentukan vitamin D, seperti jenis kelamin, tingkat kegemukan, pakaian, hambatan sinar matahari oleh awan, polusi, pigmen kulit, dan faktor genetis. Ditambah lagi dengan adanya ketakutan pada kanker kulit, terdapat perilaku menghindari matahari dan penggunaan sunscreen yang dapat mengurangi pembentukan vitamin D. 

Sumber makanan yang tinggi vitamin D termasuk minyak hati cod, ikan trout, dan salmon. Banyak jenis susu dan sereal telah difortifikasi dengan vitamin D. Kebanyakan orang membutuhkan setidaknya 600 IU (International Units) vitamin D per hari dan setelah usia 70 tahun, orang membutuhkan asupan vitamin D sebanyak 800 IU per hari. Hingga 4.000 IU vitamin D per hari termasuk aman dikonsumsi.

3. Rutin Olahraga

Olahraga selalu memberikan hasil terbaik bagi tubuh, termasuk menjaga kesehatan tulang dan sendi. Olahraga akan membantu lansia untuk membangun tulang-tulang  yang kuat dan selanjutnya mencegah terjadinya gangguan tulang pada lansia.

Kombinasi olahraga weight-bearing atau aktivitas yang dilakukan dengan tubuh tegak, seperti berjalan, jogging, berlari, dan lainnya, dapat memberikan efek baik bagi tulang di bagian kaki, panggul, dan tulang belakang bagian bawah. Sedangkan, olahraga keseimbangan akan mencegah resiko terjatuh. 

Hal-hal di atas dapat Anda lakukan untuk mencegah gangguan tulang pada lansia. Untuk konsultasi medis seputar kesehatan, perawatan, dan gangguan tulang pada lansia, Anda bisa menghubungi layanan telekonsultasi Kavacare di 0811-1446-777.

Sumber:

  1. https://academic.oup.com/book/25144/chapter-abstract/189504636?redirectedFrom=fulltext (23 Oktober 2022)
  2. https://www.asn-online.org/education/distancelearning/curricula/geriatrics/Chapter14.pdf (23 Oktober 2022)
  3. Budiarjo, Sarworini B. 2003. Osteogenesis dan Tumbuh-Kembang Skelet Kraniofasial Manusia. Kedokteran Gigi Universitas Indonesia:Jakarta. (23 Oktober 2022)
  4. https://clinicalimagingscience.org/musculoskeletal-disorders-in-the-elderly/ (23 Oktober 2022)
  5. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/osteoporosis/symptoms-causes/syc-20351968 (23 Oktober 2022)
  6. https://www.ncbi.nlm.nih.gov (23 Oktober 2022)
  7. https://www.toc.md/2018/08/03/10-different-types-of-bone-diseases-to-watch-out-for/ (23 Oktober 2022)
Avatar
Reviewed by:
Ditinjau oleh:

Dr. Eddy Wiria, PhD

Co-Founder & CEO Kavacare